Berpacu dengan Waktu Menuju Pendidikan yang Berpihak pada Murid di SMPN 7 Kolaka Utara - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Salah satu tujuan program guru penggerak adalah bagaimana mengajar yang menyenangkan di kelas.Mungkin seperti iklan rexona, kesan pertama begitu menggoda, seterusnya terserah anda. Pembelajaran dengan menyenangkan akan berdampak pada aktivitas yang penuh dengan semangat, serta motivasi yang terus berkembang. Apakah menyenangkan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi peserta didik?. Akan dikupas dalam tulisan ini.

Hasmawati, S.Pd

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Sabtu, 5 November 2022 10:09 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Berpacu dengan Waktu Menuju Pendidikan yang Berpihak pada Murid di SMPN 7 Kolaka Utara

    Pendidikan diibaratkan sebuah kapal. Bersandar di dermaga menantikan penumpang dengan barang bawaan dan karakter yang berbeda-beda. Mereka disatukan dalam sebuah kapal dengan satu tujuan yaitu tiba di dermaga dengan selamat dan bahagia. guru adalah nahkoda kapal yang harus sabar dan ikhlas menuntun kapal menuju dermaga. berbagai tantangan dan rintangan dipelayaran tidak membuat nahkoda menjadi gentar, dia akan berlayar dengan penuh semangat dan memberikan pelayanan yang terbaik.

    Dibaca : 1.264 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perubahan adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Saya adalah seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 7 Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Saat ini saya sedang mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak  Angkatan 7 Kab. Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2022.

    Sebelum mengikuti program ini, saya ingin bercerita tentang pengalaman mengajar saya. Sebagai guru tentunya tugas utama saya adalah memberikan pengajaran kepada murid, itu sudah saya laksanakan. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, saya melakukannya dengan cara yang saya yakini sesuai dengan yang saya rencanakan. Tapi dalam pelaksanaannya rencana pembelajaran tersebut terkadang mengalami perubahan. Hal ini yang membuat saya merasa repot dan kurang nyaman dan hal ini hanya saya pikirkan untuk diri saya sendiri tanpa mempertimbangkan kondisi murid.

    Dalam proses pembelajaran di kelas, saya terbiasa melaksanakan pembelajaran dengan lebih banyak menjelaskan materi dan menuliskannya di papan tulis atau membagikan buku paket siswa kemudian membahas materi yang pemaparannya lebih banyak saya yang menjelaskan. Dan kesalahan terbesar saya adalah apapun instruksi dari saya harus diikuti oleh murid dan harus dikerjakan sesuai keinginan saya tanpa memikirkan kemampuan dan kondisi murid.

    Apabila di kelas murid melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti ribut, ngobrol dan kegiatan lainnya yang tidak menyenangkan, saya pasti memarahi mereka, bahkan menegur mereka dengan agak keras. Teguran ini terkadang membuat psikis murid jadi lemah sehingga murid merasa takut dan segan untuk bertanya atau menjawab pertanyaan ketika berdiskusi.

    Hal ini menciptakan masalah-masalah yang tanpa saya sadari menghambat kreatifitas diri dan orang lain. Tindakan saya ini merupakan hal yang tidak terpuji dan tidak bisa diteladani oleh murid karena dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik belum mampu memberi contoh positif baik tutur kata, prilaku dan perbuatan. Dari lubuk hati yang paling dalam muncul penyesalan karena bagaimanapun kita menuntupi kesalahan pastilah kesalahan itu akan menghantui kita terus menerus karena bertolak belakang dengan hati nurani.

    Salah satu cara untuk mengubah pola pikir dan tindakan saya adalah dengan mengikuti program pendidikan guru penggerak. Tujuannya agar hati saya tergerak untuk lebih menggunakan perasaan dan pikiran yang positif dalam melakukan aktivitas belajar baik di kelas maupun di sekolah. Semua hal yang saya lakukan diatas tidak menjadikan murid saya berkarakter baik bahkan menimbulkan murid yang berkarakter memberontak. Sebelum hal ini menjadi penghambat dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, saya harus intropeksi diri dan mulai melakukan perubahan dari diri sendiri, murid dan lingkungan sekolah.

    Kegiatan pendidikan pada program guru penggerak pada modul 1.1 sangat membawa perubahan pada proses pembelajaran yang saya laksanakan di kelas dan di sekolah. Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengubah banyak hal, yaitu Kelas bukan hanya tempat untuk aktivitas belajar tapi kelas menjadi tempat menuntun murid menjadi manusia yang berkarakter baik, melalui pembiasaan-pembiasaan seperti memberi salam, berdoa sesudah dan sebelum belajar, menyapa murid dan menanyakan kondisinya dan banyak lagi kegiatan lainnya.

    Pengajaran yang diberikan bukan lagi berpusat pada guru, tapi dipusatkan pada murid, guru lebih banyak mengarahkan dibanding memerintah. Murid melaksanakan aktivitas belajarnya dengan leluasa karena diberikan ruang untuk mengerjakan sendiri tugas – tugasnya. Seperti yang saya lakukan dalam tugas projek mata pelajaran Bahasa Inggris, materi procedural text kelas IXb.  Murid mengerjakan tugas tersebut secara mandiri dan berkolaborasi dengan kelas IXa. Kolaborasi ini diharapkan mampu melatih murid untuk menjalin kerjasama yang baik yang menciptakan rasa peduli, gotong royong terhadap orang lain.

    Dalam pelaksanaan tugas tersebut guru hanya mengarahkan dan murid yang melaksanakan semua prosesnya dari pengumpulan uang untuk pembelian bahan, proses pembuatan dan penyajiannya. Sehingga proses pembelajaran ini memihak kepada murid.

    Pada proses pembelajaran, tatap muka tidak berfokus di dalam kelas tapi juga di luar kelas bila diperlukan. Dulu materi pelajaran di sampaikan dengan lebih banyak menggunakan papan tulis sebagai sarana atau medianya. sekarang cenderung memanfaatkan Laptop dan LCD sebagai sarana dan media pembelajaran serta membuat media-media pembelajaran yang lebih interaktif yang membuat murid tertarik dan merindukan untuk belajar di kelas.

    Sebagai wujud rasa menghargai kepada usaha murid dalam melaksanakan tugas pembelajarannya biasa saya juga memberi reward baik itu ucapan terima kasih dan pemberian hadiah kecil atas usaha murid. Hal ini berdampak positif terhadap murid, mereka termotivasi untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.

    Disamping itu, SMPN 7 Kolaka Utara melaksanakan program ekstrakurikuler, salah satunya adalah marching band. Kegiatan ini sangat diminati murid karena di daerah kami marching band adalah sesuatu yang baru yang tidak semua sekolah memilikinya. Antusias murid sangat besar dalam kegiatan ini. Marching band Maladewa SMPN 7 Kolaka Utara sudah tampil di Acara-acara di Kabupaten seperti Hari ulang Tahun Kolaka Utara, Hari Guru, Karnaval Budaya dan baru-baru ini, kami sebagai penggiring upacara peringatan sumpah pemuda 28 Oktober 2022 yang dilaksanakan oleh PGRI dan Pemerintah Kec. Lambai. Hal ini bukan kebanggaan buat kami di sekolah tapi juga memberi rasa bangga bagi setiap orang tua dan wali murid dan pemerintah setempat.

    Perubahan lainnya yang saya rasakan sendiri sebagai guru adalah perasaan saya terasa nyaman, bahagia dan tidak ada beban. Saat melihat murid saya dengan tertawa gembira dan antusias saat diberikan tugas projek tersebut membuat saya berpikir, “Jadi inilah yang selama ini yang diinginkan oleh murid saya!”.

    Perasaan senang sedih bercampur jadi satu ketika guru dan murid tak ada jarak yang membuat kami jauh. Guru dan murid seperti hubungan antara orang tua dan anak, kasih sayang itu tidak akan terputus sampai kapanpun karena rasa sayang muncul dari hati yang tulus. Dan hal inilah yang tidak pernah kita tanamkan dalam diri sendiri. Sehingga mendidik itu terasa berat dan menjadi beban bagi guru.

    Seiring dengan berjalannya waktu murid-murid akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang akan menghadapi tantangan zaman yang lebih berat. Sejak dini haruslah mereka dibekali dengan pendidikan yang mandiri, karakter yang kuat, dan menjadikan budaya daerah sebagai identitas diri dimanapun mereka berada. Seperti kata pepatah dimana tanah dipijak di situ langit dijunjung, yang artinya dimanapun kita berada maka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita berada.

    Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara menfokuskan pada keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan di kelas dan di sekolah haruslah mempertimbangkan kedua hal tersebut dalam pelaksanaannya.

    Bergerak menuju perubahan yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, rintangan dan tantangan pasti menghadang perjalanan kita. Yakinlah bahwa guru mempunyai tugas yang mulia. Setiap langkah dan usaha akan menjadi berkah bila di kerjakan dengan SABAR & IKHLAS.

    Kebahagiaan bagi seorang guru adalah ketika melihat muridnya menjadi sukses dan berhasil dalam pendidikannya dan bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

    Salam guru penggerak angkatan 7 Kabupaten  Kolaka Utara.

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Hasmawati, S.Pd lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.