Sambil Menyingkir Abu - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 9 November 2022 06:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sambil Menyingkir Abu

    Di perbatasan, Dita kembali bertemu dengan Doma, yang selama ini telah membantunya mengurus seluruh berkas pemindahan kerja serta kepulangannya. Tumpukan data yang masih kasar dan belum tersusun tersimpan rapi di dalam tas yang hendak diberangkatkan lebih dulu lewat cargo. Dita dan Doma, berlayar menuju kenangan kanak-kanak kembali membingkai awan di luas samudra. --Seekor domba menatap kedua orang asing di tanah getirnya, sambil menyandar pada lumpur kering yang berdebu, dengan tali tambang terpaku di pohon kelapa sawit; bergilir menunggu mati.

    Dibaca : 585 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketegangan kembali meningkat, dan beberapa warga telah ditarik untuk berlindung di rumah-rumah di kampung Ombang di mana ketika permusuhan terbuka tersandung ke dalam perang emosi. Dunia mungkin berjalan dalam kondisi tertidur, seperti yang sedang diperingatkan sebagai rentetan narasi. Sayangnya, ini jauh lebih buruk daripada berbaris dengan keadaan terjaga penuh.

    Anda tidak akan mampu melihat keputusan dari balik bayang-bayang, yang bahkan terlalu samar bagi bola mata manusia

    Meskipun hati seringkali memilih mengabaikan harapan, janji seakan mengurai bagaikan guguran putik yang tersapu deras hujan sebelum rembang. Hanya beberapa tahun terkahir ini, Dita merasa bahwa catatan yang telah dikumpulkannya memasuki tahap pengeditan.

    Bakteri vibrio cholerae, atau kolera, yang tidak juga kunjung menemukan penawarnya, dan telah demikian menguras peluh dari setiap tahun yang dilewati di hamparan gurun, yang jauh dari warna-warna pohon dan derasnya air dari pegungunan di mana Dita dibesarkan dengan menghabiskan masa bermainnya di sebuah mata air yang kini kering.

    Seringkali mayat ditemukan tanpa pakaian ketika perbukitan menawarkan badai pasir.

    Dalam studinya, tamparan terbesar berupa datangnya pandemi menguras jam kerja dan pembagian waktu kerja, sungguh kisah yang tidak benar tetapi banyak orang mendengar dari mulut ke mulut bagai gelombang frekuensi radio yang tidak membutuhkan antena. Mitos-mitos kembali melayang menjadi kepanikan seluruh wilayah. Perang takkan selesai, tempat itu tengah mengupas sumpahnya.

    Hari-hari semakin terpangkas mundur dan singkat. Pertempuran drone diperingati, sebagai perayaan roket-roket tercanggih dari seluruh negeri. Mungkin, inilah bagian terkecil dari bijaknya kesedihan, keputusasaan, dan kejatuhan. Nyanyian buah-buah baru dari perebutan yang tidak masuk akal akan rasional, irasional, serta legenda tentang beragam makhluk pembawa penawar berupa pengorbanan kepada orang asing yang ingin mencuri untuk mencegah siapa pun mencuri kitab Agronouts.

    Pulanglah.....

    Tiga buah kapal besar telah tenggelam di laut hitam.

    Di perbatasan, Dita kembali bertemu dengan Doma, yang selama ini telah membantunya mengurus seluruh berkas pemindahan kerja serta kepulangannya. Tumpukan data yang masih kasar dan belum tersusun tersimpan rapi di dalam tas yang hendak diberangkatkan lebih dulu lewat cargo. Dita dan Doma, berlayar menuju kenangan kanak-kanak kembali membingkai awan di luas samudra.

    Seekor domba menatap kedua orang asing di tanah getirnya, sambil menyandar pada lumpur kering yang berdebu, dengan tali tambang terpaku di pohon kelapa sawit; bergilir menunggu mati.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.