Berbagai Konsep Bahagia - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 17 November 2022 06:15 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Berbagai Konsep Bahagia

    Semua orang ingin bahagia. Tapi konsep bahagia banyak. Silahkan pilih salah satunya.

    Dibaca : 1.245 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

     

    Bahagia adalah impian semua orang. Siapa tidak ingin bahagia? Pasti semua ingin. Meskipun demikian ternyata banyak sekali definisi bahagia. Banyak orang yang memiliki definisi berbeda beda.

     

    Bahagia itu identik dengan kaya. Demikian definisi segolongan orang. Menurut mereka orang yang pas pasan apalagi miskin itu tidak bahagia.  Jadi ukurannya bahagia adalah uang.  Tapi pandangan ini tidak mampu menjelaskan orang kaya yang stress, depresi dan bunuh diri.

     

    Bahagia adalah berkuasa. Demikian pandangan segolongan lain. Ukuran bahagia untuk mereka adalah kekuasaan. Makin tinggi kekuasaan, makin bahagia mereka.   Maka orang yang memiliki pandangan ini berupaya mengejar kekuasaan setinggi tingginya. Kenyatannya tidak sedikit penguasa yang hidupnya berakhir dengan tragis.

     

    Apakah ada definisi bahagia yang lain? Mari silahkan cermati definisi kebahagiaan dari Ali Bin Abi Thalib. Inilah definisi kebahagiaan menurut beliau.

     

    Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.

     

    Menurut Ali bin Abi Thalib orang bahagia harus memenuhi tiga syarat tersebut. Pertama menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Kedua menjadi pemandu untuk nafsunya. Ketiga menjadi kapten untuk bahtera kehidupannya.  

     

    Tuan bagi dirinya sendiri artinya menguasai diri. Dia harus  menguasai pikirannya agar tidak liar ke mana mana.  Dengan kata lain dia memiliki kemampuan manajemen diri.

     

    Dia harus tahu tahu jati dirinya. Dia harus mengenali diri. Sepintas mungkin terasa aneh. Mana ada orang tidak mengenali dirinya sendiri. Ternyata banyak sekali. Maksudnya tidak mengenali segenap potensinya dan kelemahannya.

     

    Maka cobalah mengenali diri Anda sendiri. Lakukan analisis SWOT. Kenali  strength alias kekuatan Anda di mana. Potensi Anda apa. Bakat dan minat Anda apa. Weakness alias kelemahan Anda apa. Opportunity alias kesempatan apa yang tersedia.  Threat alias ancaman apa yang muncul. Hasil analisis itulah modal Anda untuk menentukan langkah pengembangan diri.

     

    Sejatinya manajemen waktu dll sangat tergantung manajemen diri. Tanpa kemampuan manajeman diri ini semua kiat manajemen tidak bakal jalan.  Meskipun Anda sudah mengatur waktu untuk berbagai kegiatan,  Anda masih harus mampu mengelola diri sendiri. Kalau tidak sia sia saja teori manajemen waktu dll.

     

    Orang bahagia harus mampu menjadi pemandu nafsunya. Manusia memiliki nafsu amarah yang mendorongnya untuk berkuasa, sukses karir dsb. Ini adalah modal. Ini adalah  mesin pendorong.

     

    Ibarat mesin mobil maka dia harus  dikuasai dan dikendalikan agar tidak menabrak. Dia harus diwadahi agar membawa manfaat buat diri sendiri, keluarga dan orang lain.  Demikian juga nafsu yang lain.

     

    Hidup ini harus ada arah. Tanpa arah yang jelas maka Anda akan terbawa arus. Manakala arus utama mengajak KKN maka Anda pasti ikut.  Maka Anda kalau ingin bahagia harus menjadi kapten kapal kehidupan Anda sendiri. Maksudnya Anda  harus mampu mengendalikan bahtera kehidupan Anda sendiri. 

     

    Arah hidup harus jelas. Maka Anda butuh peta. Nah peta jalannya adalah Al Qur’an.  Dengan bekal Al Qur’an kamu tidak akan tersesat. Apapun profesi Anda. Di mana pun posisi sosial Anda.

     

    Orang yang mampu memenuhi ketiga syarat  demikian adalah orang bahagia. Bagaimana dengan Anda? Bagaimana definisi Anda tentang bahagia?

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.