Mungkinkah Anies-Gibran Jadi Capres Kuda Hitam? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Anies Baswedan sarapan bersama dengan Gibran Rakabuming Raka di Hotel Novotel Solo, Selasa, 15 November 2022. Perbincangan Anies dengan Gibran ini dilakukan sebelum mereka berangkat bersama ke acara puncak Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. FOTO/Instagram/aniesbaswedan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 21 November 2022 12:39 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mungkinkah Anies-Gibran Jadi Capres Kuda Hitam?

    Di tengah kebelumpastian capres-cawapres yang akan berlaga di 2024 nanti, mungkinkah akan ada figur lain yang mendadak dimunculkan dan berpotensi mengubah dinamika politik? Nasdem sempat mencoba hal ini dengan melontarkan nama Gibran Rakabuming sebagai pendamping Anies Baswedan. Mungkinkah?

    Dibaca : 988 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hingga hari ini belum jelas benar siapa yang akhirnya maju ke pemilihan presiden 2024. Walaupun berpeluang, Prabowo Subianto masih belum pasti siapa yang akan mendampinginya sebagai cawapres, yang diusung oleh Gerindra dan PKB. Posisi Anies Baswedan juga begitu, sejauh ini belum ada cawapres yang disepakati oleh koalisi Nasdem, Demokrat, dan PKS. Begitu pula dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), yang menggabungkan Golkar, PPP, dan PAN, belum jelas akan mengusung siapa. PDI-P, walaupun sudah memiliki tiket sendiri, juga belum jelas akan mencalonkan siapa.

    Inilah gambaran dinamika politik kita. Belum pasti-nya capres dan cawapres, meskipun sebenarnya masih tersedia cukup waktu untuk menyusun komposisi pasangan yang dianggap tepat, setidaknya ini menunjukkan bahwa pertimbangan pragmatis menjadi alasan utama mengapa koalisi partai belum pasti hendak mengajukan siapa. Peta koalisi pun kelihatannya masih mungkin berubah, pasangan capresnya pun masih dicari-cari. PDI-P tampaknya juga masih menunggu waktu yang tepat akan mengajukan capres sendiri atau membentuk koalisi dengan KIB atau dengan Gerindra-PKB.

    Di tengah kebelumpastian capres-cawapres yang akan berlaga di 2024 nanti, mungkinkah akan ada figur lain yang mendadak dimunculkan dan berpotensi mengubah dinamika politik? Nasdem sempat mencoba hal ini dengan melontarkan nama Gibran Rakabuming sebagai pendamping Anies Baswedan. Langkah Nasdem ini membikin sewot Demokrat, yang menganggap wacana itu sebagai usulan serius, dan meminta Nasdem untuk memegang etika berkoalisi. Bagi Demokrat, pilihan untuk mencawapreskan AHY belum diubah, sedangkan bagi PKS calon dari luar partai bisa saja diterima bila cocok. Padahal, mungkin saja pernyataan elite Nasdem itu sekedar agar Nasdem tetap dekat dengan Jokowi di tengah isu merenggangnya hubungan Jokowi dengan Surya Paloh.

    Langkah Nasdem menyebut nama Gibran itu mungkin merupakan langkah yang sungguh-sungguh, tapi bisa pula sekedar menguji ombak. Meskipun Anies sempat bertemu Gibran di Solo, tampaknya terlalu spekulatif untuk menyebut pertemuan itu sebagai penjajagan. Anies sendiri, seperti diberitakan di media massa, mengaku heran dirinya dipasangkan dengan Gibran, sebab pertemuan itu sama sekali tidak membicarakan isu politik. Namun, bila ada pihak yang benar-benar mendorong Gibran, mungkin saja kemungkinan itu jadi pemikiran elite, khususnya Jokowi. Bila Jokowi mendukung kemungkinan itu dengan segala risikonya, maka dukungan riil Jokowi dapat beralih kepada Anies--sesuatu yang ditunggu oleh Surya.

    Dalam satu kesempatan Surya mengatakan sedang menanti munculnya pernyataan dukungan Jokowi kepada Anies setelah Jokowi menyatakan mendukung Prabowo maupun Airlangga untuk maju pilpres. Bila bukan dukungan riil, setidaknya dukungan motivasi. Tapi bila kemudian disusul dengan langkah serius untuk memasangkan Anies dengan Gibran, mungkinkah keduanya akan jadi pasangan capres/cawapres kuda hitam? Akankah Jokowi benar-benar menyetujui Gibran untuk maju? Bagi Jokowi, pilihan ini tidak mudah, sebab pesatnya karir politik Gibran dari ‘mendadak walikota’ menjadi ‘mendadak wapres’ akan jadi perbincangan luas.

    Lantas, bagaimana nasib Ganjar? Gubernur Jawa Tengah ini tampaknya akan jadi kartu yang dibiarkan mengambang hingga PDI-P mendeklarasikan caprenya nanti—entah Puan, entah malah Ganjar. Sepanjang tidak dilepas oleh PDI-P, status Ganjar masih tetap kader PDI-P, sehingga pihak luar tidak bisa menggaetnya sebagai calon, kecuali bila Ganjar menyatakan diri mundur sebagai kader PDI-P. Situasi mengambang yang dilematis ini berpotensi menyulitkan Jokowi untuk mendukung Ganjar, sehingga bila ada alternatif lain bukan tidak mungkin akan dipikirkan oleh Jokowi. Dan bila alternatif itu ternyata Gibran, Jokowi masih harus memikirkan jalan keluar mengingat Gibran maju ke pilwalkot Solo dengan dukungan PDI-P. Lagi pula, jika PDI-P mengusung Puan Maharani, posisi berseberangan dengan Megawati akan membuat langkah Jokowi semakin tidak mudah.

    Tapi, Nasdem mungkin melihat kemungkinan mengusung Gibran bersama Anies. Dengan mengangkat nama Gibran, Surya sedang berupaya memancing reaksi positif Jokowi, yang hubungannya dengan Surya Paloh sedang ‘tidak baik-baik saja’ setelah Nasdem mendeklarasikan Anies sebagai capres. Jika situasi politik kemudian berubah, bukan tidak mungkin hubungan kedua figur itu akan berbalik arah jadi mesra. Sebab, pada akhirnya, bagi kelompok elite, politik adalah perkara kepentingan dan kekuasaan. Bila suatu cara dianggap menguntungkan, mengapa tidak dijajagi? Termasuk mendukung Anies bila dipasangkan dengan Gibran dengan segenap risikonya.

    Mungkinkah pasangan Anies-Gibran jadi kuda hitam dalam pilpres nanti? >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.