Simalakama Ketika Petruk Jadi Raja - Analisis - www.indonesiana.id
x

Perangai Petruk

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 21 November 2022 21:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Simalakama Ketika Petruk Jadi Raja

    Kisah Pewayangan yang menggambarkan perubahan perilaku saat Petruk Jadi Raja

    Dibaca : 411 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Diceritakan oleh ki dalang bahwa ketika Petruk jadi Raja (Ratu) banyak abdi dalem atau para punggawa kerajaan yang kebingungan. Petruk  yang berasal  dari golongan punakawan, kemudian bergelar Prabu Kantong Bolong. Semenjak itu perilaku Petruk berubah,  tindakannya seolah mau menang sendiri karena merasa berkuasa, bahkan  banyak sekali permintaan yang aneh aneh. Permintaan kadang melabrak aturan yang telah di tetapkan kerajaan.

    Saat ini punggawa kerajaan yang mengurusi hal ihwal keperluan raja bukan hanya kebingungan, tetapi sedang mengalami stres berat. Petruk yang baru dua tahun jadi raja setelah menggunakan ajimat Kalimasada,  ingin di sediakan kuda yang baru sebagai tunggangan, padahal baru beberapa bulan Petruk mengambil kuda baru sejenis kuda Candrama.

    Disamping stres memikirkan permintaan Petruk, punggawa  sedang pusing memikirkan  banyaknya kuda yang seharusnya di pakai para punggawa untuk melaksanakan tugas kedinasan kerajaan, tapi oleh Petruk di berikan kepada para koleganya di luar struktur kerajaan untuk tumpangan mencari bondo di lingkungan istana dengan cara mendatangi punggawa yang punya jabatan kepala urusan  --- selain punggawa yang mengurusi hal ihwsal  keperluan raja--  seperti kepala urusan yang membidangi jalan dan sungai, Kepala Urusan Orang Sakit, Kepala Urusan Pemukiman, Kepala Urusan Lingkungan sampai Kepala Urusan Gardu. 

    Modusnya minta jatah pekerjaan dengan dalih sebagai kolega Raja Petruk, bahkan ada yang berani bilang atas perintah  Raja Petruk. Para koleganya ini adalah para punakawan yang dulu ikut mendorong Petruk  jadi raja.

    Giliran Kepala kepala urusan yang bingung, bagi kepala urusan yang nyalinya kecil,  pasti meluluskan permintaan para kolega Petruk walaupun dengan cara curang, mengutak atik dokumen seolah berjalan normal. Tapi bagi kepala urusan yang tau aturan dan punya integritas sebagai punggawa, akan menolak jika tidak sesuai dengan aturan kerajaan, lebih baik dikasihkan ke ndoro SILPA dari pada nanti jadi korban atas keserakahan Petruk dan koleganya.

    Atas ulah si kolega Raja Petruk yang memakai kuda milik kerajaan, punggawa yang mengurusi hal ihwal keperluan raja, sebetulnya sudah agak risih, takut ada temuan dari Pemeriksa Kerajaan. Masalahnya, semua keperluan dan perawatan kuda yang dipakai, minta dari kas kerajaan. 

    Bukan hanya itu, jika Raja Petruk anjangsana ke kerajaan lain, para koleganya ikut mendampingi, semua akomodasi ditanggung kerajaan, padahal aturan kuda di pakai bukan punggawa kerajaan termasuk biaya perawatan serta aturan membiayai akomodasi  tidak ada, terpaksa punggawa mengotak atik penggunaan dana kerajaan agar kelihatan sesuai aturan.

    Kembali ke kuda yang diminta Raja Petruk, punggawa yang mengurusi hal ihwal Keperluan raja, pusing tujuh keliling lantaran kuda yang diminta Petruk bukan sembarang kuda, bukan sekedar kuda lumping atau kuda kepang, tapi jenis Kuda yang sama dengan milik Bhatara Wisnu yakni jenis Kuda Sembrani.

    Punggawa bingungnya makin menjadi jadi, bahkan terkadang tidak bisa tidur, andai disediakan, dia yang pasti jadi korban, dicaci maki rakyat, tapi jika tidak disediakan, takut kena semprot  Raja Petruk, bahkan bisa jadi dipecat sebagai punggawa yang mengurusi hal ihwal keperluan raja.

    Jadilah simalakama buat para punggawa kerajaan, ya begitulah kalau Petruk jadi raja.

     

    Ikuti tulisan menarik kang Nasir lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.