Mencari Persimpangan Terbijak; Refleksi terhadap Dialektika Rasio dan Wahyu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Menghidupi Tempat Ibadah: Pixabay

Bramantyo Suryo Nugroho

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2022

Jumat, 2 Desember 2022 07:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mencari Persimpangan Terbijak; Refleksi terhadap Dialektika Rasio dan Wahyu

    Penggunaan akal dan kedudukan wahyu yang baku akan tarik ulur dalam dialektika sepanjang masa. Semua bermula dari perspektif manusia tentang makna kebenaran. Bagaimanakah Islam memandang hal tersebut?

    Dibaca : 590 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ini kisah nyata. Seorang anak usia 10 tahun, sebut saja Bambang, kerap kali memikirkan hal yang cukup pelik. Ia sering merenung tentang mengapa dunia ini diciptakan, apa hakikat dari eksistensinya, apakah ia benar-benar ada ataukah hanya nampak ada, dan banyak pertanyaan lain yang menurutnya membutuhkan pemikiran. Ayahnya yang lulusan SMA dibuat kebingungan menjawab semua pertanyaan itu.

    Salah satu hal yang paling membuatnya terusik adalah ketika guru IPA-nya menerangkan di kelas bahwa agama itu harus diyakini dan diimani sedangkan ilmu sains itu harus dibuktikan dengan akal, keduanya berbeda, tidak bisa bersatu dan disatukan. Pertanyaan yang lantas mengusik pikirannya, mengapa cukup banyak permasalahan agama tidak bisa dilogikakan, tidak masuk akal. Apakah ilmu agama tidak logis?

    Diskursus antara rasio dan wahyu dalam lokus sejarah memang tak pernah padam. Semua bermula dari perspektif manusia tentang makna kebenaran. Rasio yang menjadi rujukan pencarian kebenaran memiliki identitas pola similaritas, kevalidan yang bisa dicek ulang baik melalui indera (empiris) maupun kaidah-kaidah logika, maupun rumus matematis tertentu. Pendekatan ini tentu memiliki keunggulan tersendiri, yaitu bisa digunakan oleh sembarang orang, tidak terpengaruh waktu dan tempat, juga alat ukurnya yang stabil dan tidak berubah. Bisa selalu digunakan karena kebanyakan manusia diasumsikan memiliki akal (yang sehat). Alat ukur yang berupa rasio tadi juga terbukti stabil dan tidak bisa berubah karena kondisi dan fenomena sekitar.

    Namun kedudukan rasio sebagai sumber kebenaran tidak bersih dari kritik. Salah satu kritiknya tertuju pada ketidakmampuan rasio menjawab problematika metafisika. Thomas Aquinas sendiri menyatakan metafisika sebagai ilmu tinggi dalam urutan kronologi atau pedagogi tahap studi ilmu filsafat.

    Pemikiran ini sejalan dengan pemaparan David Hume yang menegaskan bahwa pengetahuan sejati (genuine knowledge) terbentuk dari fakta dan rerangkai matematis, pengetahuan tanpa fakta dan rerangkai matematis disebut salah dan tidak menyatakan realitas. Padahal, metodologi yang rasional semacam ini terbukti tidak mampu menjawab beberapa pertanyan mendasar kehidupan seperti mengapa kita hidup, kemana kita setelah hidup atau mengapa takdir baik atau buruk menghampiri kita.

    Dalam diskursus sejarah pemikiran tentang akal, Immanuel Kant pernah menggaungkan sebuah pembahasan menarik bahwa terdapat suatu lokus pengetahuan yang disebut sintetis a priori. Tidak seperti Hume yang menolak mentah-mentah definisi pengetahuan kecuali dari hal yang empiris dan terukur, Kant justru menyebutkan bahwa di dunia ini terdapat sebuah pengetahuan sejati yang terlepas dari pengalaman empiris yang terikat ruang, waktu dan kausalitas, terlepas dari keterjangkauan ilmu manusia, pengetahuan yang sepenuhnya independen dan asali. Hal ini tentu membatalkan gagasan David Hume yang cenderung sangat materialistik tadi.

    Alquran sebagai kitab suci umat muslim amat menjunjung tinggi penggunaan akal. Di dalamnya, penggunaan kata akal yang merujuk pada kata kerja jauh lebih banyak alih-alih kata benda. Dari 49 kali penyebutan kata akal dalam berbagai derivasinya, shigoh fi’il mudhori’ adalah yang paling banyak muncul. Kata تعقلون ta’qiluun dan  يعقلونya’qiluun adalah dua bentuk kata yang paling sering dijumpai dalam Alquran yakni sejumlah 48 kali. Menarik untuk disimak, bahwa fi’il mudhori’ adalah kata kerja yang menerangkan waktu yang akan datang. Menebak-nebak makna terselubung yang diinginkan Allah, barangkali umat islam diminta untuk mengaktifkan rasio akal yang bersifat progresif untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan maslahat umum.

    Pendayagunaan nalar rasio dicantumkan di beberapa lokasi dalam Alquran ke dalam bentuk selain kata ‘aqala (عقل)  seperti ke dalam kata nadzara (نظر)  yang bermakna melihat secara abstrak, berpikir dan berkontemplasi sejumlah 30 ayat lebih. Contohnya QS Qaf (50) : 6-7, QS al-Tariq (86) : 57, al-Ghasiyah (88) : 17-20.  Ke dalam kata تدبّر yang bermakna kontemplasi terdapat di beberapa ayat, antara lain : QS Sad (38) : 29, Muhammad (47) : 24. Sedangkan dalam bentuk kata tafakkara (تفكر)  yang bermakna berfikir, tercantum sebanyak 16 kali, salah satunya di QS an-Nahl (16) : 68-69. Dan masih banyak lagi contoh-contoh ayat yang mengindikasikan perintah penggunaan rasio akal untuk kemaslahatan hidup manusia.

    Islam memberi penghormatan setinggi-tingginya kepada siapapun yang memfungsikan akal dengan baik, hal ini didasari karena dengan akal manusia dipandang sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah. Amanat sebagai khalifah di muka bumi layak diberikan kepada manusia karena potensinya untuk memajukan peradaban. Alquran sendiri memberi legitimasi akan hal itu, misal dalam QS Ali Imran (3) : 13, Al-Hasyr (59) : 2, dan Yusuf (12) : 111. Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda dalam salah satu hadits yang terkenal ketika Muadz bin Jabal hendak diutus ke Yaman, kemudian nabi memberikan tes kepada Muadz. Tes tersebut berupa pertanyaan, dengan apa Muadz akan memutuskan perkara, yang salah satu jawabannya adalah dengan ijtihad menggunakan akal. Hadits ini secara eksplisit menegaskan bahwa penalaran merupakan bagian inheren dari tradisi hukum Islam.

    Cogito Ergo Sum! Aku berfikir maka aku ada. Demikian Rene Derscartes bersabda. Kalimat yang menjadi adagium yang doktrinal berlatarbelakang skeptisisme dan kecurigaan intelektual terhadap eksistensi segala sesuatu. Ketika Descartes berfikir dia merasa bahwa itulah realitas yang sejati, yang benar-benar ada. Selain itu, relatif bahkan tidak ada.

    Pertanyaannya sekarang, layakkah kita (muslim) mengekor kepada arus pemikiran skeptis model Descartes, atau rasionalistik (an sich) model Hume, sedangkan kitab suci kita yang tidak pernah berubah redaksinya, yang diturunkan Tuhan kepada manusia pilihan yang lisan dan tutur katanya ma’shum, melalui malaikat pilihan, dijaga eksistensinya oleh orang terpilih (ulama’), dengan mudahnya kita abaikan dan kita buang jauh dari hati dan pikiran kita?

    Ikuti tulisan menarik Bramantyo Suryo Nugroho lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.