Mengamati Benturan Budaya pada Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis - Analisis - www.indonesiana.id
x

Foto mengenai buku atau novel

Alfiana Firazma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Juni 2022

Jumat, 2 Desember 2022 08:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengamati Benturan Budaya pada Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

    Artikel ini membahas tentang bagaimana benturan-benturan budaya dan apa saja yang perlu di amati dalam timbulnya perselisihan antar tokoh pada novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis.

    Dibaca : 873 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa. Sastra kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia.

    Berbicara tentang masyarakat maka tidak bisa dilepaskan dari persoalan kebudayaan yang dimiliki oleh tiap bagian masyarakat tersebut. Kebudayaan akan selalu ada selama peradaban atau masyarakat tersebut ada.

    Kebudayaan atau budaya berasal dari bahasa sansekerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Jadi kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan budi dan akal atau suatu perkembangan dari majemuk budi- daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan akal.

    Penulis dalam artikel ini mengangkat perihal benturan budaya yang mendominasi dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Benturan antara kebudayaan Timur dan kebudayaan Barat diperlihatkan dengan cukup jelas dan benturan kebudayaan ini bisa dianalisis dari keseharian antar tokoh dalam Salah Asuhan.

    Ada tujuh unsur kebudayaan di dunia yang dikenal dengan istilah cultural universals, yakni sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian. Unsur-unsur kebudayaan tersebut bisa dianalisis dalam novel Salah Asuhan dan bisa dianalisis pula bagaimana benturan-benturan antara kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur terjadi.

    Abdoel Moeis dan Salah Asuhan

    Abdoel Moeis adalah salah satu sastrawan angkatan Balai Pusaka. Novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan Balai Pustaka ini adalah “novel Sumatera” dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Salah Asuhan yang mengangkat perihal Minang dimulai dari kebudayaan minang, adat istiadat minang, dan juga salah satu latar tempat dalam novel ini adalah di Sumatera Barat. Salah Asuhan menceritakan tentang Hanafi selaku tokoh utama, seorang bumiputera yang kebarat-baratan karena lama menempuh pendidikan di Betawi dan tinggal dengan bangsa Eropa. Selain itu, tokoh Hanafi juga diceritakan mencintai wanita bangsa Barat, menjunjung tinggi budaya Barat serta tidak mau mengakui diri sebagai bumiputera. Bahkan tokoh Hanafi ini sempat meminta persamaan kedudukan bangsa Eropa. Akibat lama mendapat pengajaran dan tinggal dengan bangsa Barat, Hanafi menjunjung tinggi adat Eropa atau adat Barat, sehingga Hanafi kerap berselisih paham dengan sang Ibunda yang merupakan orang melayu totok. Benturan kebudayaan dalam cerita ini akan penulis jadikan pokok bahasan utama yang penulis susun. Ibunda Hanafi merupakan representasi dari pemegang kebudayaan Timur sedangkan Hanafi merupakan representasi dari pemegang kebudayaan Barat.

    Clash of Culture dalam Salah Asuhan

    Dalam analisis ini penulis hanya menganalisis beberapa unsur-unsur kebudayaan, diantaranya:

    1. Sistem Bahasa

    “... Aku hendak kawin dengan liefde saja...” (Hlm. 36).

    Bahasa menjadi salah satu unsur kebudayaan yang mudah untuk dikenali. Kutipan di atas menunjukkan bagaimana sistem bahasa tokoh Hanafi yang lebih kerap menggunakan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari dibanding menggunakan bahasa Melayu.

    "Jika ia berbahasa Melayu, meskipun dengan ibunya sendiri, maka dipergunakan bahasa Riau, dan kepada orang yang di bawahnya ia berbahasa cara orang betawi.” (Hlm. 29).

    Kutipan tersebut membuktikan bahwa Hanafi walaupun seorang Bumiputera, ia berlaku layaknya bangsa Barat, dengan menggunakan bahasa melayu Riau walau lawan bicaranya adalah sang ibu sendiri. Perkembangan bahasa melayu ada dalam dua jalur, yakni bahasa melayu lisan yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari di kalangan priyayi, dan masyarakat luas, yang bagi golongan masyarakat ini lazim disebut bahasa Melayu pasar, dan ada juga bahasa Melayu yang dipakai dalam dunia persekolahan yang memakai model bahasa melayu tinggi. Bahasa Melayu tinggi di sini juga disebut bahasa Riau atau Melayu Riau.

    2. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

    “... dari beranda muka sampai ke dapur dan kamar mandi, diperbuat secara aturan rumah orang Belanda. Perempuan Bumiputera dari kampung memang lebih senang duduk bersimpuh daripada duduk di atas kursi...”(Hlm. 28).

    Dalam kutipan di atas dapat diketahui bahwa peralatan hidup dalam Salah Asuhan menggunakan secara aturan rumah orang Belanda. Seperti adanya kursi, meja-meja kecil, tempat pot bunga, dan sebagainya. Sedangkan bagi kebanyakan orang Timur atau Melayu pada saat itu lebih senang duduk bersimpuh daripada duduk di kursi layaknya budaya orang Barat.

    3. Sistem Religi

    “Haruslah obat-obat dokter disambung dengan obat dukun yang mengobati dengan menyertakan doa.” (Hlm. 71-72).

    “Sudah delapan kali Kamis ini aku berpuasa sunah, Ibu, dan selama itu pula ayah Syafei meninggalkan kita.” (Hlm. 142).

    Sistem religi atau agama yang dimiliki oleh suatu masyarakat meliputi sistem keyakinan kepada kekuatan di luar manusia. Sistem Religi ini juga memasukkan unsur atau sistem ilmu gaib. Berdasarkan kutipan di atas, Ibu Hanafi meyakini bahwa penyakit Hanafi harus disambung dengan obat dukun yang mengobati dengan menyertakan doa. Hal ini termasuk dalam sistem religi kebudayaan Timur yang mana kebudayaan Barat tidak meyakini hal tersebut. Kemudian perihal puasa sunnah yang dilakukan oleh istri Hanafi merupakan contoh kepercayaan lain dalam kebudayaan Timur.

    Dampak Clash of Culture terhadap Tokoh

    “.. Dengan kerasan ia menolak pakaian destar saluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalian perempuan, meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu itu.” (Hlm.85).

    Tokoh Hanafi yang dalam cerita ini dikatakan selalu menolak mengikuti adat minang dalam berpakaian saat menikah, dan hal ini menimbulkan masalah tersendiri. Pihak-pihak yang menjunjung tinggi kebudayaan Timur jelas menyalahkan sikap Hanafi, bumiputera yang mengagungkan kebudayaan Barat.

    “... beberapa orang perempuan yang sedang menghiasi anak dara sambil mencemooh-cemoohkan perangai Hanafi, karena mereka sudah pula mendengar hal tingkah ‘kebelanda-belandaan’ itu.” (Hlm.87)

    Seorang bumiputera sudah selayaknya mengikuti kebudayaan timur selaku budayanya namun Hanafi yang lama merasakan didikan Belanda lebih menjunjung kebudayaan Barat. Hal tersebut mengakibatkan benturan budaya antara Hanafi yang memegang kebudayaan Barat, dengan masyarakat yang memegang kebudayaan Timur. Tokoh Hanafi perlu mengingat pribahasa “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”. Dalam praktiknya, Timur dan Barat tetaplah dua jalur yang pada masa itu tidak menyatu. Sehingga tokoh Hanafi, seorang bumiputera yang tidak mengakui ‘Timur’ nya menjadi tersisihkan sebab terlalu mengagungkan ‘Barat’ yang bahkan tidak mengalir dalam darahnya. 

    Sekian dan terima kasih karna sudah membaca dan menyimak artikel ini. Semoga bermanfaat, menambah pengetahuan, dan memperluas wawasan ya. 

    Ikuti tulisan menarik Alfiana Firazma lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.