Mata Puisi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Lasman Tv

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Agustus 2022

Sabtu, 3 Desember 2022 08:52 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mata Puisi

    Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

    Dibaca : 400 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    MATA PUISI

    1/
    menghitung hari-hari
    nyaris buta (cemas !)
    seperti puisiku yang menua
    diselimuti asap kabut
    dari pinggiran kota berawan

    terus kususuri menuju
    rumah ibadah
    untuk mukjizat kesembuhan
    di atas mimbar kesucian

    membawa juga tubuhmu
    digerogoti ulat-ulat beracun
    dari dalam tanah basah
    airmata terus berdarah

    2//
    sebelum aku merangkul
    pekabaran tiap dinihari
    rajin gerak badan di tikungan jalan

    mulutku yang membusuk
    telah menelan rakus
    ribuan potong daging haram
    ratusan ikan dari selokan

    bahkan sering disuguhkan minuman biang gula
    dari perkebunan teh yang tumbuh liar
    di sekujur tubuhku

    3//
    maka kuputuskan( tiba-tiba !)
    mata puisi ini
    harus berlari ke rumah duka
    disuntik obat mata dosis tinggi

    lalu jadilah aku menjelma
    jadi seorang tukang sihir
    yang tak mampu melihat sinar matahari berdiri
    tegak tiap pagi

    4//
    pada malam ini
    sesudah hujan dan petir bertandang di pekarangan rumah
    gelap gulita
    harus kuselesaikan
    membaca kitab suci
    dengan mata kiri
    menari-nari sendiri

    aku harus kuat, pesanmu
    sampai nanti kita bisa bertemu lagi
    di hamparan langit baru
    tanpa ada lagi
    tangisan membuta
    atau penyakit menular
    sudah dimatikan seekor ular

    damailah hati ini

    Jakarta, Selasa 29 November 2022

    Ikuti tulisan menarik Lasman Tv lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.