Untuk Apa Presiden Punya Relawan? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo dan Relawan. Foto: Antara

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 5 Desember 2022 13:18 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Untuk Apa Presiden Punya Relawan?

    Mengapa Jokowi masih memerlukan relawan di sekelilingnya? Salah satu kemungkinannya ialah Jokowi merasa tidak cukup leluasa mengambil inisiatif karena harus selalu berkonsultasi dengan Megawati dalam banyak urusan pemerintahan. Dalam hal pencalonan presiden 2024, Jokowi tampak berusaha menunjukkan pengaruhnya.

    Dibaca : 1.854 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apakah seorang presiden masih membutuhkan relawan untuk mendukung dirinya, membela kebijakannya, dan mengamankan posisinya? Untuk apa semua itu? Tidakkah ia ingat bahwa ia bukan lagi seorang calon presiden yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kompetisi Pilpres? Ia benar-benar sudah terpilih, dilantilk, dan bahkan sudah menjabat Presiden selama beberapa tahun. Lantas untuk apa memiliki relawan?

    Dalam konteks Presiden Jokowi, ia berasal dari sebuah partai politik besar, PDI-P. Artinya, secara normatif ia memiliki partai pendukung yang kuat dengan basis massa yang luas pula. Bila ia membutuhkan dukungan untuk kebijakan yang dia ambil sebagai Presiden, PDI-P jelas mendukungnya. Belum lagi para partai sekutu yang duduk di kabinet maupun di DPR—mereka juga akan mendukungnya.

    Namun, dengan hadir dalam acara relawan berskala besar—beberapa hari lalu di Jakarta dan sebelumnya di Jawa Tengah, Presiden Jokowi memperlihatkan diri bahwa ia membutuhkan relawan atau menunjukkan bahwa ia memiliki relawan pendukung yang siap menjalankan titahnya. Acara yang diadakan oleh relawan ini seakan menampik kenyataan bahwa ada PDI-P dan partai sekutu yang berada di belakang Jokowi.

    Apabila sebagai Presiden, Jokowi merasa bahwa ia sudah kuat, maka ia tidak lagi memerlukan kelompok relawan. Dan sebenarnya, dalam konteks kepala pemerintahan, ia sudah kuat berkat dukungan partai-partai tadi. Dalam berbagai perumusan kebijakan maupun penyusunan undang-undang, partai-partai sepenuhnya mendukung Presiden. Belum ada partai sekutu yang menentang kemauan pemerintahan Jokowi.

    Jadi mengapa Jokowi masih memerlukan relawan di sekelilingnya? Salah satu kemungkinannya ialah ia merasa insecure terhadap dukungan partai politik, khususnya PDI-P. Jokowi boleh jadi merasa tidak cukup leluasa untuk mengambil inisiatif karena harus selalu berkonsultasi dengan Megawati dalam banyak urusan pemerintahan. Sebagai partai pengusung Jokowi dalam Pilpres, Megawati mungkin berkepentingan agar aspirasi PDI-P diprioritaskan oleh Presiden Jokowi.

    Suara Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto yang mengritik pertemuan relawan yang dihadiri Jokowi menunjukkan bahwa PDI-P tidak nyaman dengan langkah-langkah relawan. Ia bahkan menuding relawan telah menjebak Jokowi. Rasanya berlebihan bila menganggap relawan telah menjebak Jokowi. Tudingan kepada relawan itu dapat dilihat sebagai kamuflase, karena PDI-P tidak ingin mengritik langsung Jokowi, sebab PDI-P juga tahu bahwa tidak mungkin Jokowi hadir di acara tersebut tanpa sepengetahuan dan persetujuan Presiden sendiri.

    Acara ini lebih merupakan ajang Presiden untuk menunjukkan bahwa ia memiliki massa. Secara tersirat, Jokowi ingin menunjukkan kepada elite politik, khususnya di lingkungan PDI-P, bahwa ia juga mempunyai kekuatan massa yang siap bekerja untuknya.

    Temu relawan kali ini maupun sebelumnya, yang berlangsung di Jawa Tengah, memperlihatkan bahwa Jokowi memiliki aspirasi berbeda dari kebanyakan elite di sekitar Megawati terkait siapa yang maju sebagai capres PDI-P. Elite PDI-P ingin Puan Maharani yang maju, sedangkan Jokowi ingin Ganjar Pranowo yang terjun. Pernyataannya yang bersayap mengenai pemimpin berambut putih itu karena memikirkan rakyat dinilai sebagai isyarat dukungan kepada Ganjar.

    Lebih dari itu, Jokowi tampaknya juga ingin secara bertahap melepaskan diri dari ketergantungan pada PDI-P serta melepaskan diri dari bayang-bayang Megawati. Jokowi mungkin juga merasa bahwa ia seorang presiden yang memimpin sebuah bangsa dengan jumlah warga lebih dari 250 juta. Sebagai presiden, ia tidak ingin terus berada di bawah bayang-bayang ketua umum partai. Jokowi ingin membangun posisinya sendiri dan tentu saja dengan agendanya sendiri. Mungkin saja, suatu saat relawan pro-Jokowi ini akan menjelma menjadi partai politik baru yaitu ketika Jokowi merasa sudah siap untuk melepaskan diri dari PDI-P dan keluar dari bayang-bayang Megawati. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.