x

Sumber ilustrasi: wallpapercave.com

Iklan

Joshua Nathanael Zega

Mahasiswa Informatika Universitas Pembangunan Jaya
Bergabung Sejak: 21 Desember 2022

Kamis, 22 Desember 2022 13:15 WIB

Karya Seni Ciptaan AI; Pertanda Kehancuran Kreativitas Manusia?

Teknologi Artificial Intelligence kini sudah dapat menciptakan sebuah karya seni sendiri. Hal tersebut membuat orang-orang, khususnya pekerja kreatif khawatir akan tergantikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Semakin berkembangnya teknologi di era digital membuat banyak orang bertanya-tanya apakah di masa depan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence alias AI) akan menggantikan posisi manusia, khususnya dalam hal menciptakan sebuah karya seni? Maklum, akhir-akhir banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia telah tergantikan oleh mesin. Itulah alasan banyak yang beranggapan AI juga akan menggantikan manusia di bidang kreativitas berpikir.

Kemenangan AI di Kompetisi Seni Rupa

Pada akhir Agustus lalu para pengguna internet dikejutkan dengan menangnya lukisan Jason Allen di kompetisi seni rupa Colorado State Fair. Para pengguna internet terkejut bukan karena lukisan Jason Allen itu menakjubkan, melainkan karena lukisan tersebut dibuat menggunakan bantuan perangkat lunak AI, bernama Midjourney. Midjourney dapat men-generate gambar melalui teks yang kita tulis. Kalau dilihat sekilas lukisan Jason Allen berjudul Théâtre D’opéra Spatial itu memang terlihat seperti lukisan tangan manusia, padahal itu sepenuhnya dibuat dengan bantuan AI.

Kemenangan Jason Allen itu juga mendatangkan sebuah kontroversi di kalangan seniman dan pekerja kreatif. Ada yang beranggapan kemenangan Jason Allen atas bantuan AI itu adalah awal mula kehancuran kreativitas manusia, khususnya di industri kesenian. Ada juga yang beranggapan karya seni yang diciptakan menggunakan AI tidak dapat disebut sebagai sebuah seni.

Tetap saja muncul pertanyaan besar itu, "Apakah di masa depan nanti AI benar-benar bisa menggantikan posisi manusia di bidang kreativitas?”

Kreativitas Dengan Bantuan AI

Disadari atau tidak, penggunaan sistem AI dalam proses pekerjaan kreatif sudah cukup sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Fitur-fitur seperti penghalus garis, penajam gambar, sampai ke penghapus latar belakang otomatis yang sering kita jumpai di perangkat lunak seperti Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, sampai Corel Draw merupakan penerapan sistem AI yang dibuat untuk memudahkan pekerjaan kreatif.

Saat ini sudah banyak sistem AI yang dapat melakukan hal-hal lebih dari itu. Salah satu contohnya adalah yang dikembangkan OpenAI bernama DALL•E. DALL•E merupakan sebuah sistem AI yang dapat menghasilkan gambar hanya melalui teks yang kita inginkan. Sebagai contoh, jika kita mengetikkan “astronot mencabut wortel di bulan”, dalam beberapa saat DALL•E akan menghasilkan sebuah gambar astronot yang sedang mencabut wortel di bulan.

Bahkan, di Galeri Bitforms, San Fransisco, sempat diadakan sebuah pameran yang disebut “Artificial Imagination”, atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai imajinasi buatan yang berfokus dengan penggunaan DALL•E di dalamnya. Dapat dikatakan kini AI sudah menjadi alat bantu dalam melakukan kreativitas manusia.

Dalam melakukan kreativitas, khususnya dalam pembuatan teks menjadi gambar (text-to-image), AI dapat mengolah teks yang diberikan dengan cara mencocokkan perintah dengan sejumlah data yang ada. Hal ini menimbulkan kontroversi baru, khususnya dalam hal peraturan hak cipta. Semisal kita menuliskan “lukisan astronot menunggangi kuda dengan gaya lukisan Pablo Picasso” pada DALL•E, beberapa saat DALL•E akan menghasilkan gambar lukisan astronot yang sedang menunggangi kuda denga gaya lukisan Pablo Picasso. Dengan kata lain DALL•E menggunakan lukisan-lukisan karya Pablo Picasso sebagai referensi untuk menghasilkan gambar baru yang memiliki gaya seni serupa dengan lukisan karya Pablo Picasso tanpa izin.

Jika saya adalah seorang Pablo Picasso dan mengetahui karya seni saya dijadikan referensi utama untuk ditiru tanpa izin, saya tentu tidak akan senang dengan hal itu. Namun, dalam hal ini saya tidak tahu peraturan apa yang dilanggar oleh AI DALL•E, karena saya sendiri bukanlah mahasiswa atau lulusan dari ilmu hukum. Hal yang dapat saya pahami dari kasus AI yang menghasilkan gambar menggunakan data sebagai referensi tanpa izin, itu sama saja seperti kita mengambil atau melihat karya seni orang lain sebagai bahan inspirasi. Kalau diperhatikan, karya seni yang dapat kita lihat sekarang, itu merupakan hasil karya seni yang terinspirasi dari karya lainnya. Hal itu juga yang membuat seni menjadi berkembang. Dengan kata lain, AI melakukan hal yang sama seperti kita, tetapi dengan waktu yang lebih singkat dari manusia.

Salah satu hal yang menjadi batasan utama AI dalam melakukan kreativitas adalah ketidakmampuannya untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman manusia. Meskipun AI dapat menganalisis dan belajar dari sejumlah data yang besar secara cepat, AI tidak memiliki kemampuan untuk berempati dan memahami kompleksitas dari kondisi manusia. Artinya, ide kreativitas dan solusi yang dihasilkan oleh AI akan selalu memiliki kekurangan di kedalaman emosional dan nuansa yang menjadi ciri khas pemikiran terbaik manusia.

Jadi, apakah AI akan menggantikan posisi manusia dalam bidang kreativitas? Jawaban singkatnya adalah, tidak. Meskipun saat ini AI dapat meniru aspek-aspek tertentu dari kreativitas manusia, AI tidak akan pernah dapat menggantikan posisi manusia di bidang kreativitas. AI tidak memiliki kemampuan untuk mengalami emosi, menjalin hubungan yang mendalam dengan orang lain, bahkan memahami kompleksitas dari kondisi manusia sepenuhnya.

Jiwa kreativitas yang dimiliki manusia sangatlah unik dan tidak akan pernah bisa ditiru oleh mesin. Oleh karena itu juga, kita harus dapat merangkul potensi AI dalam meningkatkan kreativitas manusia, tetapi kita juga harus tetap menyadari bahwa ada batasan-batasan yang dimiliki AI dan nilai kreativitas manusia.

 

Ikuti tulisan menarik Joshua Nathanael Zega lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu