x

Perempuan sebagai kelompok rentan berbisnis hortikultura

Iklan

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Minggu, 1 Januari 2023 05:41 WIB

Rita Diut : Wanita Tangguh Anggota KSP CU Florette Berbisnis Sayur-sayuran di Manggarai Barat

Mendapat uang dari usaha sendiri bagi ibu rumah tangga seperti saya ini, kata Rita tentu membanggakan hati, ada kepuasan tersendiri, dan juga menuntut saya untuk terus berusaha lebih keras lagi, tidak hanya mengurus dapur (domestik) tetapi ikut mengambil peran ekonomi di dalam rumah tangga. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu memberi dukungan terhadap keputusan saya untuk fokus berbisnis sayur-sayuran. Sedangkan suami saya, punya keterampilan berkaitan elektronik, dia melayani perbaikan televisi dan juga jasa pemasangan instalasi listrik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rita Diut, yang lebih akrab dipanggil Mama Julio, dikenal warga di desa Kakor Lembor sebagai sosok petani sayur-sayuran yang ulet dan gigih. Sejak tahu 2009, dia dan suaminya memutuskan untuk menanam sayur-sayuran sebagai salah satu sumber pendapatan (income) di atas lahan seluas 5 are, terletak di sekitar tempat tinggal mereka. Keputusan keduanya, untuk berusaha (bisnis) sayur-sayuran sangat masuk akal sebab kebutuhan  sayur-sayuran (permintaan) di Desa Kakor cukup tinggi namun tidak ada petani yang memanfaatkan peluang ini, sehingga saat itu sayur-sayuran masih didatangkan dari luar.

 

Menanam sayur daun jenis Fanboks, kata Rita merupakan langkah awal menjadi petani sayur meski masih tahap coba-coba, tujuannya untuk mengisi peluang pasar tadi sambil berharap keberuntungan berpihak padanya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

“Sebab saya dan suami punya rencana untuk membangun rumah dan terus berupaya meningkatkan pendapatan agar berkecukupan secara keuangan bagi pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan anak-anak. Kami berharap anak-anak kami bisa mengenyam pendidikan tinggi dan bermimpi, mereka sekolah di Luar Negeri, misalnya di Australia. Pendidikan anak-anak harus lebih baik dari saya yang hanya menamatkan SMP, karena orang tua saya tidak mampu untuk membiayai pendidikan ke tingkat SMA dan Universitas,” ungkap Ibu rumah, berusia 35 tahun ini.

 

Lebih lanjut, dia menceritakan bahwa jumlah sayur yang ditanam sebanyak 5’000 pohon, akan tetapi karena belum memiliki pengalaman budidaya sayur jenis tersebut, hanya 3’000 pohon yang tumbuh baik dan menghasilkan uang. Sayur Fanboks 3’000 pohon tersebut laku terjual, dibeli oleh warga di sekitar desa Kakor. Uang dari usaha pertama in,i langsung digunakan untuk membeli kayu balok sebab kami mau membangun rumah di tanah warisan, pemberian orang tua suami saya dan sebagian uang itu, disimpan untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak ke level yang lebih tinggi.

 

“Anak-anak saya harus sekolah hingga ke jenjang universitas supaya mereka tidak mengalami nasib kurang beruntung seperti yang saya alami, berbekal ijazah SMP terpaksa pergi merantau ke Surabaya dan di sana saya hanya bisa menjadi pembantu rumah tangga selama 4 tahun dengan penghasilan kecil, berjuang sangat keras di sana untuk membantu orang tua membiayai pendidikan dari dua adik saya, “cerita Rita, anak sulung dari 3 bersaudara ini.

 

Mendapat uang dari usaha sendiri bagi ibu rumah tangga seperti saya ini, kata Rita tentu membanggakan hati, ada kepuasan tersendiri, dan juga menuntut saya untuk terus berusaha lebih keras lagi, tidak hanya mengurus dapur (domestik) tetapi ikut mengambil peran ekonomi di dalam rumah tangga. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu memberi dukungan terhadap keputusan saya untuk fokus berbisnis sayur-sayuran. Sedangkan suami saya, punya keterampilan berkaitan elektronik, dia melayani perbaikan televisi dan juga jasa pemasangan instalasi listrik.



Usaha sayur-sayuran sempat berhenti awal tahun 2011, lalu memutuskan untuk memilih usaha lain, yaitu membuka kios dengan meminjam modal di Bank, memanfatkan fasilitas pinjaman kredit usaha rakyat (KUR). Pada awalnya usaha kios berjalan baik, cerita rita, namun persaingan usaha kios di Desa Kakor sangat tinggi, jumlah kios terus bertambah saat itu, dan situasi ini ternyata berdampak kepada penghasilan dari kios saya yang terus menurun hingga mengalami kebangkrutan.



“Saya dan suami menghadapi kesulitan mengembalikan pinjaman dari Bank, pusing juga memikirkan uang cicilan akan tetapi saya tidak putus asa dan bersabar menghadapi kesulitan berat ini. Sekali lagi saya beruntung memiliki suami yang sabar dan dia terus menguatkan mental saya agar tidak boleh putus harapan. Berbekal uang simpanan ditambah dari uang arisan, tepatnya pada tahun 2016 kami membeli beberapa perlengkapan pertanian, seperti selang, plastik mulsa, sprinkler penyiraman, dan mesin sedot air untuk kembali berusaha sayur-sayuran di lahan yang sempat ditinggalkan,”tutur Rita, salah satu anggota aktif dari KSP CU Florette di Tempat Pelayanan Nampe Lembor.



Gagasan dan keputusan untuk mengadakan fasilitas-fasilitas produksi yang dibeli tadi merupakan hasil dari belajar di Youtube, melihat dan mempelajari pengalaman-pengalaman berharga dari petani hortikultura sukses di Youtube.

 

Dia menambahkan di atas lahan 5 are ditanam beberapa jenis sayur-sayuran, antara lain, kestela, mentimun, tomat, cabe keriting, fanboks dan terung. Kerja keras selama 4 bulan, durasi musim tanam, ternyata membuahkan hasil, omzet penjualan mencapai puluhan juta rupiah. Pengalaman yang begitu berarti ini, mendorong saya dan suami untuk terus bekerja di atas lahan 5 are tadi. Penghasilan dari penjualan sayur-sayuran terus meningkat, utang KUR di bank akhirnya terlunasi namun kami menghadapi ujian baru dimana selama tahun 2019 hingga pertengahan tahun 2020 omzet penjualan sayur-sayuran menurun, permintaan jenis sayur-sayuran yang kami tanam saat itu, dari para pedagang sayur di Pasar Lembor sangat kecil padahal volume produksi sayur-sayuran kami banyak, akhirnya sayur-sayuran itu dijual dengan harga rendah atau murah di sekitar Desa Kakor.

 

Pengalaman pasang surut dalam berbisnis sebenarnya, mau mengajarkan kita bahwa meraih keberhasilan tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan, banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Selain itu, situasi ini menguji ketangguhan mental kita apakah masih taat asas dengan pilihan hidup kita, menjadi petani pengusaha atau tidak. Kita sering mendengar juga pengalaman yang sama dihadapi oleh pengusaha-pengusaha hebat di dunia, mereka jatuh bangun dalam mengejar atau mencapai tujuan, kekuatan pada mereka untuk segera bangkit adalah memiliki kemauan yang sangat kuat untuk terus belajar dari pengalaman dan mencari cara atau strategi agar tidak jatuh pada persoalan yang sama.

 

Persoalan ini kemudian, lanjut Rita, disampaikan kepada Srianus Syukur, Manager KSP CU Florette, ketika dia berkunjung ke rumahnya di Kakor Lembor untuk mendiskusikan tentang kelanjutan usahanya dan usulan pinjaman bisnis yang saya ajukan bulan sebelumnya. Manager KSP CU Florette berjanji untuk mencari jalan keluar yang terbaik bekerjasama dengan Yayasan Ayo Indonesia.

 

Pada bulan Oktober 2020, cerita Rita ada dua orang yang mengaku sebagai staf pendamping agribisnis dari Yayasan Ayo Indonesia, nama mereka adalah Richard Roden Urut dan Stef Jegaut, sekitar jam 1 siang keduanya berkunjung ke rumah saya, namun beberapa menit saja di dalam rumah, mereka lantas meminta untuk pergi melihat kebun sayur-sayuran. Saya ingat waktu itu Pa Stef mengatakan kepada saya, Enu (mba) Rita kami sebaiknya langsung melihat kebun dan kita lejong (diskusi) di sana saja.

 

“Di atas lahan yang telah diolah, di bawah terik matahari, suhu udara yang panas sekali saat itu, mereka memberitahukan kepada saya bahwa kehadiran mereka mengunjungi saya, atas permintaan dari Manager KSP CU Florette untuk memotivasi dan membangkitkan Kembali semangat bisnis saya dengan berbagi cerita pengalaman dari petani lain yang telah berhasil dalam menjalankan usaha sayur-sayuran (agribisnis). Kepada mereka secara jujur saya menceritakan suka dukanya dalam berbinis sayur-sayuran,”kata Rita, Ibu dari 3 orang anak ini.

 

Dia menambahkan dari lejong (diskusi) di atas kebun sayur-sayuran itu mereka menawarkan gagasan untuk meningkatkan tata kelola dari usaha saya dengan pelatihan melek keuangan, penggunaan arang untuk memperbaiki mutu tanah dan pemasaran.

 

Pada bulan Nopember 2020, bertempat di Rumah Rita, Stef Jegaut bersama staf managemen KSP CU Florette melatih 15 Kepala Keluarga tentang Melek keuangan sederhana, mulai dengan identifikasi jenis sumber pendapatan, jumlah pendapat, dan pengeluaran tahunan. Dari analisa pendapatan dan pengeluaran, ternyata mereka mengalami kekurangan uang setiap tahun, dimana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, yang lebih mengkhwatirkan lagi, adalah di item pengeluaran tidak ada pos untuk tabungan (saving) masa depan.

 

Mengacu kepada kondisi yang mengemuka pada lejong (diskusi) ini, para peserta pelatihan disarankan oleh fasilitator pelatihan untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan pekarangan dan kebun yang masih “tidur” (lahan yang tidak manfaatkan) ditanami aneka jenis sayur-sayuran untuk tujuan Ekonomi (berorientasi pasar), dan pemenuhan kebutuhan Gizi keluarga. Ketika ada uang, pastikan sebanyak 30 persennya disimpan di Koperasi Kredit sebab di lembaga keuangan tersebut ada perlindungan simpanan, pinjaman dan santunan serta anggota diberi kemudahan untuk mendapatkan modal usaha dengan bunga 1.6 persen menurun.

 

Sedangkan terkait Pola Tanam, saran dari fasilitator pelatihan, disesuaikan dengan permintaan sayur-sayuran di Pasar Wae Nakeng Lembor sehingga para peserta pelatihan diajak untuk membangun pertemanan atau relasi bisnis dengan para pedagang sayur-sayuran di Pasar Lembor, sebab pelaku pasar yang mengetahui secara mendalam tentang perilaku permintaan setiap bulan selama satu tahun. Pola tanam harus mengacu kepada permintaan pasar.

 

Rita, salah satu peserta pelatihan itu kemudian mengubah managemen usahanya, target pendapatannya dipatok memang berdasarkan kebutuhan keuangan selama setahun, lahan usaha diperluas (ekstensfikasi) dengan menggunakan arang sekam sebagai material pupuk yang mengandung karbon (aksi adaptasi/mitigasi terhadap perubahan iklim), dan pupuk bokasih sebagai sarana produksi, dan dia kemudian membangun komunikasi secara intens dengan pedagang-pedagang sayur di pasar lembor sebagai mitra usaha.

 

Kehendak baik yang dimiliki untuk membangun keluarganya ditunjukkan dengan secara sungguh-sungguh kepada anak-anaknya, buktinya jelas, selama masa pandemic covid 19, dia menanam dalam jumlah besar Tomat, cabe, paria dan terung. Ketika orang lain takut dengan Covid, bahkan hanya menunggu informasi kapan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah dicairkan, dia dan suaminya malah mendekatkan diri setiap hari dengan sumber penghidupan mereka, yaitu lahan seluas 5 are. Di atas laha itu mereka menaruh harapan dan juga menujukkan kemandirian kepada orang di sekitarnya.

 

Benar pernyataan dari beberapa orang sukses, yakni setiap tetesan keringat yang keluar dari semangat kerja keras pantang menyerah tidak akan pernah sia-sia. Pada tahun tahun 2021/2022, setiap 4 bulan, (musim tanam) mereka meraup omset mencapai 20-an juta rupiah dari sayur-sayuran jenis Tomat, Cabe keriting, Kangkung, dan Terung. Strategi pemasaran berubah dan terkesan lebih cerdas, mereka telah membangun jaringan dengan pedagang sayur dan mempromosikan sayur-sayuran mereka secara online melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.

 

Pada setiap periode tanam selama tahun 2021-2022, mereka menggunakan plastik mulsa dan arang sekam untuk mencegah kerusakan tanaman akibat percikan air pada saat musim hujan. Permintaan sayur-sayuran pada musim hujan sangat tinggi sehingga mereka menggunakan kedua tehnologi sederhana tersebut agar kebun mereka tetap berproduksi berbagai jenis sayur-sayuran. Mereka dinilai sungguh luar biasa, sudah memiliki ketangguhan untuk merespon perubahan cuaca yang ekstrim, curah hujan tinggi akibat perubahan iklim.

 

Pengolahan lahan, membersihkan rumput, penanaman sayur-sayuran dan memanen hasil dilakukan bersama dengan 2 orang perempuan, mereka diberi upah harian Rp 40'000 per orang. Usaha agribisnisnya telah berhasil menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, berharap keduanya akan mereplikasi pengalaman selama bekerja dengan Rita di kebun mereka sendiri.

 

Kebutuhan uang sekarang ini terus meningkat, khusus untuk urusan adar dan sosial kemasyarakatan, lanjut Rita, maka saya sebagai ibu rumah tangga tidak boleh lagi hanya mengurusi dapur tetapi harus bisa menghasilkan uang dari lahan yang ada (aset).

 

Perubahan lain yang dialami Rita saat ini, adalah secara rutin setiap bulan, dari hasil penjualan sayur-sayuran dia simpan di Koperasi Simpan Pinjam CU Florette untuk menambah saham dan tabungan pendidikan (SINDANDIK) dari ketiga anaknya.

 

Penambahan simpanan saham setiap bulan menjadi prioritas agar suatu waktu bisa meminjam modal usaha lebih banyak di KSP CU Florette. Rencana Rita dan Suaminya tahun 2023 kebun sayurnya akan dipasang irigasi tetes, tehnologi yang dapat menghemat penggunaan air dan meningkatkan efisensi dalam aplikasi pemupupukan.

 

Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rejeki yang diterima, sesekali dalam sebulan mereka mengirim sayur-sayuran ke Rumah Pastoran Paroki Reweng melalui keluarga mereka yang kerja di sana.

 

 

Rita menyampaikan terima kasih kepada KSP CU FLorette yang telah melayani pinjaman musiman untuk bisnis dan Yayasan Ayo Indonesia atas dukungan Pelatihan-Pelatihan Motivatif, Cara membuat Arang Sekam, Cara membangun relasi dengan pedagang sayur-sayuran dan Penyediaan Plastik Mulsa.



Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler