x

Laura Basuki dan Ernest Prakasa dalam film Cek Toko Sebelah 2 . Dok. Starvision

Iklan

Fatimatuz Zahra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2020

Jumat, 6 Januari 2023 18:56 WIB

Film Cek Toko Sebelah 2 Dari Sudut Pandang Seorang Childfree 

Sebuah keputusan yang baik untuk memulai tahun 2023 dengan menonton film Cek Toko Sebelah 2. Salah satu persoalan yang diangkat dalam film ini adalah isu childfree. Cara penggambaran soal itu patut diapresiasi, meski ada beberapa kritik kecil. Berikut ulasan dari penonton yang kebetulan adalah seorang childfree.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah keputusan yang baik untuk memulai tahun 2023 dengan menonton film Cek Toko Sebelah 2 (CTS 2). Bagi penikmat film lokal, barangkali judul Cek Toko Sebelah sudah bukan barang asing, film pertamanya laris ditonton oleh hampir 3 juta penonton. Begitupun seriesnya yang juga laku keras di platform streaming. 

 

Kalau CTS 1 menampilkan ketegangan konflik antara bapak-anak, CTS 2 kali ini menghadirkan konflik yang lebih kompleks yaitu mertua-menantu dan juga antar pasangan romantis (dalam hal ini pasutri dan calon pasutri). Satu benang merah yang coba di-highligt dalam film ini adalah masalah psikis yang tak selesai dan berujung melukai diri sendiri dan orang lain.

 

#Erwin-Natalie 

Sumbu ketegangan pertama dalam film ini adalah perjuangan pasangan Erwin-Natalie untuk dapat restu perkawinan. Salah satu yang dapat kita pelajari dari mereka adalah bahwa luka batin orang tua yang tak selesai, lalu diproyeksikan dalam bentuk kekangan kepada anak, justru kerap kali menjadi sumber luka seumur hidup dalam diri anak. 

 

Nggak asing kan dengan hal sejenis? Berapa banyak dari kita yang sering melihat, mendengar atau bahkan mengalami sendiri upaya berlebihan orang tua yang kerap dilabeli "demi kebaikan anak." Meskipun niatnya baik, dalam cerita ini kita akan diberi tahu bahwa niat saja tak cukup. Niat baik haruslah diikuti dengan cara yang baik, salah satunya dengan tidak memelihara luka batin terlalu lama. 

 

Boleh dibilang, persiapan pernikahan mereka sama seperti kebanyakan kita, tak sesuai ekspektasi dan lebih banyak ikuti kemauan orang tua. Perdebatan soal ini mungkin tergantung individu masing-masing, tapi satu hal yang secara pribadi membuatku kesal adalah lemahnya sikap Natalie saat pasangannya menghadapi tekanan bertubi-tubi dari mamanya. 

 

Sebagai anak kandung yang sudah hidup jauh lebih lama bersama orang tua kita, sudah sewajarnya kita pasang badan untuk pasangan saat ia mendapat tekanan dari orang tua kita. Mungkin beberapa kita tak cukup powerfull untuk itu, tapi setidaknya tunjukkan bahwa memperjuangkan hubungan adalah jalan panjang bersama,  bukan beban satu orang saja. 

 

Satu hal lain yang secara detail kuanggap fatal adalah penggambaran perjanjian pranikah yang seolah mengerikan. Kenapa? Tonton sendiri ceritanya lalu balik ke sini lagi, ya. Hehe. 

 

Perjanjian pranikah adalah hal yang baik, terutama jika berkaitan dengan pemisahan harta demi mitigasi masalah keuangan bersama ke depan. Karena untuk keperluan mitigasi pasangan, maka klausulnya juga harus atas kesepakatan pasangan. 

 

Tetapi sayang sekali, dalam film ini digambarkan seolah perjanjian pranikah hanya digunakan untuk orang yang tak yakin dengan pasangannya, padahal manfaat perjanjian pranikah itu banyak sekali jika disusun atas kepentingan berdua dan disepakati berdua.

 

#Soal Childfree 

Beralih pada topik favorit saya, yaitu soal childfree. Dari trailer film ini sudah dapat kita lihat bahwa ada ketegangan yang memanas antara Ko Afuk dengan pasangan Yohan-Ayu soal anak. 

 

Seperti kebanyakan cerita di tengah masyarakat (konservatif) kita ini, pasangan menikah yang belum atau tak mau punya anak seringkali didesak dari segala penjuru untuk berkembang biak. Tak terkecuali oleh orang tua sendiri, dengan dalih minta cucu. Kira-kira itu jugalah, yang terjadi di keluarga Yohan-Ayu. Selebihnya silakan saksikan sendiri, ya.

 

Yang saya ingin apresiasi dari penggambaran orang childfree di sini adalah bahwa orang-orang yang memutuskan childfree itu nggak (semuanya) membenci anak-anak. Ada juga, atau mungkin banyak, yang juga mampu menerapkan ilmu parenting dengan baik. Seperti pasangan Yohan-Ayu dalam film ini. 

 

Selain itu, ide yang walaupun tak secara eksplisit mengatakan bahwa  keputusan punya anak itu harus lebih banyak didasarkan pada pertimbangan perempuan, karena mereka, lah yang akan menanggung beban biologis, psikologis dan tak jarang juga beban pengasuhan. Sebaik apapun pasangannya, toh, tubuh yang merasakan ya tubuh perempuan juga. 

 

Saya salut dengan penulis yang mampu menggambarkan sikap pengertian Yohan atas hal di atas, terlebih setelah menyaksikan seorang kawannya berjuang melahirkan di pembaringan. 

 

Yang tak boleh ketinggalan untuk diapresiasi adalah, film ini tidak turut menyudutkan perempuan sebagai penyebab tak punya anak, seperti yang kebanyakan kita dengar atau alami sehari-hari. Ko Afuk, sebagai pihak yang awalnya ngebet sekali pengin punya cucu, justru meng-crosscheck dulu kepada anak laki-lakinya, Yohan, soal apakah ada masalah biologis dari dirinya. Ini jarang terjadi, karena biasanya yang langsung dirisak adalah perempuan. Yah, memang susah hidup di tengah peradaban yang hobi meminggirkan perempuan. Setidaknya, keberadaan Meira di balik layar film ini cukup ampuh untuk menanggalkan hal-hal berbau misoginis yang kerap lolos ke layar lebar.

 

Meski demikian, penggambaran childfree dalam film ini tak serta-merta sempurna, setidaknya dalam sudut pandang saya sebagai salah satu pelaku childfree.

 

Salah satu yang menjadi kritik saya (untuk tidak disebut protes) adalah bahwa childfree digambarkan sebagai akibat dari luka masa lalu. Meskipun tak sepenuhnya salah, karena beberapa orang memang memutuskan childfree karena alasan tersebut, tapi saya pikir film ini mestinya bisa menggambarkan childfree dengan alasan yang lebih memerdekakan seperti demi pendidikan, pilihan bersama, dan lain sebagainya. 

 

Selain itu, hal lain yang juga saya sayangkan adalah kesepakatan childfree yang tidak diputuskan sejak awal menikah atau sebelum menikah. Melainkan melalui konflik yang baru membongkar trauma salah satu pihak terlebih dahulu. 

 

Padahal, memiliki anak maupun tidak adalah keputusan besar yang semestinya sudah jauh-jauh disepakati sebelum membina bahtera rumah tangga. Dengan menyepakati lebih awal, konflik-konflik di dalam rumah tangga khususnya untuk perkara anak ini dapat lebih dini dimitigasi. 

 

Kesimpulan saya untuk film ini adalah, pertama orang tua dituntut bertumbuh dewasa seiring anaknya bertumbuh juga. Tak semua yang diinginkan orang tua harus digapai oleh anaknya. 

 

Di sisi lain, anak juga dituntut berani bicara jujur terkait isi kepalanya kepada orang tua. Penolakan yang disertai dengan penjelasan akan punya lebih banyak potensi dimengerti, dibanding sekedar menolak tanpa alasan yang jelas. 

 

Cek Toko Sebelah kali ini nggak ada tokonya, "toko" yang saya dapati dari film ini barangkali adalah kisah pasangan lain yg bisa dijadikan pembelajaran untuk memanage "toko" kita sendiri.

Ikuti tulisan menarik Fatimatuz Zahra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu