Kata Mutiara Rumi: Kalau Anda Terlalu Memerhatikan Wadah, Anda Tidak Melihat Isinya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 23 Januari 2023 09:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kata Mutiara Rumi: Kalau Anda Terlalu Memerhatikan Wadah, Anda Tidak Melihat Isinya

    Kebanyakan orang memusatkan perhatian pada penampilan. Mereka menilai orang berdasar penampilannya. Akibatnya banyak orang yang tertipu dengan penampilan. Bagaimana agar kita tidak terkecoh?

    Dibaca : 174 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    If you look too closely at the form,  you’ll miss the essence.” (Rumi)  Jika Anda terlalu memperhatikan bentuk, maka Anda tidak menangkap kesejatiannya.  Apa maksudnya ?  Sekali lagi kita akan mengulas kalimat mutiara yang indah dan penuh makna dari Maulana Jalaludin Rumi dari Konya, Turki.

     

    Manusia memang dikarunia kecerdasan tinggi. Dengan kecerdasan itu mereka membangun peradaban yang sangat canggih.  Salah satu yang dibangun adalah kebudayaan.  Dan salah satu aspek dalam kebudayaan adalah bahasa dan tata krama.  Ada sekelompok orang yang mampu membangun bahasa yang sangat canggih sehingga mampu mengutarakan tata krama, basa basi yang sangat elok.  Orang yang terlatih dalam budaya ini mampu berkomunikasi dengan sangat sopan, sangat halus sehingga sangat menyenangkan.  Akibatnya banyak orang yang suka bergaul dengan dia.  Apalagi kalau dia juga piawai dalam seni berbusana.   Bayangkan kalau orang memiliki basa basi yang baik, bahasanya indah, pakaiannya rapi jali, penampilannya ok maka sudah pasti masyarakat terpesona dengan dia.  Hampir semua orang mengira dia orang baik.

     

    Sedangkan orang yang keadaannya sebaliknya, penampilannya kusut, pakaiannya morat marit, wajahnya sangar, bahasanya kasar, sudah pasti masyarakat tidak akan menyukainya. 

     

    Rumi mengingatkan kita bahwa semua itu sebenarnya hanya bentuk luar saja.  Dengan kata lain sejatinya hal itu hanya ‘topeng’ saja.  Seorang penulis bernama Harumi Murakami pernah mengatakan “Kadang bukan orangnya berubah tapi topengnya jatuh”.  Mestinya dia mengingatkan hal senada dengan Rumi.  Orang bisa saja memakai basi basi, tata krama, busana untuk menutupi wajah aslinya.

     

    Tata krama  sebenarnya baik baik saja.  Ia netral.  Justru kita patut bangga memiliki budaya yang adi luhung.  Sejak kecil orang Jawa sudah terlatih berbahasa ‘kromo inggil’ sebagai ungkapan sopan santun.  Hanya saja ada orang orang yang memanfaatkannya sebagai topeng.

     

    Rumi sejatinya menganjurkan kita agar jangan memfokuskan perhatian pada bentuk luar saja supaya kita tidak tertipu.  Jadi kita harus mampu melihat esensi, atau kesejatian seseorang.  Susahnya kesejatian dengan gaya tidak selalu sama.  Bisa saja keduanya berbeda.  Kadang sama tapi kadang berbeda.

       

     

    Bagaimana cara mengetahuinya?  Secara singkatnya adalah dengan memakai tiga mata.  Tidak hanya mata raga tapi juga mata nalar dan mata hati.  Manusia trinetra (tiga mata)  akan mampu melihat kesejatian dengan jelas.  Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara menjadi manusia trinetra? 

     

    Secara singkat ya menghambakan diri hanya kepada Allah swt saja, tidak kepada mahluk.  Dengan melakukan semua ritual ibadah maka kita akan berkembang menjadi pribadi yang semakin baik.  Maka insya Allah mata hati kita akan tajam. Kita akan mendapat petunjuk dan panduan dari Allah swt.  Kita tidak akan tertipu oleh orang orang bertopeng. Kita juga akan mampu melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif. Sehingga pemahaman kita lebih komprehensif.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.