x

Iklan

Didi Adrian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Februari 2023

Sabtu, 4 Maret 2023 06:59 WIB

Senandung Malaikat

Apakah penduduk Etawa tak pernah menangis?  Pernah, saat lahir pertama kali keluar dari rahim ibunda, mereka juga semua menangis. Normal dan alami.  Namun kemampuan menangis itu lama kelamaan menghilang dan pudar. Seperti kabut pagi lenyap disapu terik mentari.  

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tampak belakang seorang lelaki muda layaknya seorang dirigen paduan suara di hadapan sekelompok muda-mudi berlima. Kelompok paduan tersebut tengah berada pada acara pemakaman dan nampaknya bertugas membawakan lagu pengantar duka. Sang dirigen memberi tanda pada kelompok paduan tersebut untuk segera mulai ambil suara. Tempo empat perempat. Dan begitu kibasan terakhir tangan sang dirigen, keluarlah suara dari kelompok paduan di hadapannya. Akan tetapi, bukan nada-nada lagu dan nyanyian yang berloncatan keluar dari mulut-mulut yang ternganga di depannya. Yang terdengar adalah suara tangisan dan rengekan yang melolong dalam berbagai tingkat nada. Aneh? Tidak. Anda tengah berada di negeri Etawa, negeri penuh senyum, canda dan tawa.

Adalah negeri Etawa, negeri yang berjarak ribuan mil dari benua induknya tanah Emara.  Akibat isolasi geografis selama jutaan tahun  dari benua induk, negeri Etawa banyak mengalami keunikan karakter dan genetis. Perbedaan karakteristik paling pokok dengan benua Emara adalah penduduk Etawa selalu penuh senyum dan tawa, mereka TAK PERNAH sedih dan marah! Sesuai namanya sifat emosi paling utama di Etawa adalah tawa. Dalam keadaan apapun bibir mereka akan menyunggingkan senyum dan tawa: dalam kesusahan, masalah, terpojok, saat kecelakaan, bahkan saat berduka mereka tak mampu menahan senyum tergores di wajah-wajah ramah penduduk Etawa dari bayi hingga lanjut usia. 

Hasil penelitian genetis dan tes DNA menunjukkan bahwa akibat isolasi geografis tersebut ada bebeberapa gen isolasi di otak penduduk Etawa  yang mengalami deviasi dan distorsi protein. Salah satunya DARPP-32,  salah satu gen yang terlibat sebagai penyumbang amarah sehingga gen inilah yang bertanggungjawab menjelaskan mengapa ada orang yang mudah marah akibat provokasi, sementara yang lain masih bisa tetap tenang. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beberapa hormon dan zat-zat kimiawi pemantik tangis emosional juga sangat minimal keberadaannya dalam jaringan syaraf dan otak penduduk Etawa. Diantaranya adalah hormon prolaktin (menurut penelitian hormon ini cenderung  meningkat ketika seseorang dilanda kesedihan atau depresi) kemudian adrenocorticotropic, sebuah hormon pengendali tingkat stres. Zat-zat kimiawi lain yang sangat sedikit keberadaannya adalah hormon-hormon yang acap ditemui pada tetesan air mata diantaranya leucine-enkephalin. Sedangkan tingkat dopamine (bahan kimia di otak sebagai transmiter yang berhubungan dengan marah, emosi dan agresivitas) juga sudah tak ada tempat dalam benak rata-rata penduduk Etawa. Yang banyak berkeliaran dalam pembuluh darah penduduk Etawa adalah zat kimia nitrioksida, yaitu zat kimia yang terlepas hasil dari senyum dan tertawa. Hebatnya lagi zat ini juga berfungsi untuk melancarkan peredaran darah. Apakah penduduk Etawa selalu tersenyum? Ya. 

Kemudian, kapan penduduk Etawa tidak tersenyum? Saat tidur. Lantas apakah penduduk Etawa tak pernah menangis?  Pernah, saat lahir pertama kali keluar dari rahim ibunda, mereka juga semua menangis. Normal dan alami.  Namun kemampuan menangis itu lama kelamaan menghilang dan pudar. Seperti kabut pagi lenyap disapu terik mentari. Puncaknya terjadi saat usia mereka mencapai akil balik. Mereka sejak saat itu tak pernah lagi merasakan sedih apalagi sampai mencucurkan air mata. 

Keunikan ini di satu sisi membawa berkah dan kenyamanan, karena praktis mereka tak pernah ribut-ribut bertangisan dan berkonflik saat menghadapi masalah. Di sisi lain keunikan ini juga mendatangkan kejanggalan dan rasa tak nyaman. Bagaimana mungkin saat acara pemakaman dan suasana dukapun orang Etawa sanggup tertawa-tawa dengan renyahnya?  Akan tetapi alam ternyata masih mempunyai keseimbangan. Perasaan sedih dan kemampuan untuk berduka hingga menangis menjadi karakter resesif dan masih ada sekelompok penduduk Etawa yang sanggup melakukannya. 

Adalah grup paduan duka Senandung Malaikat yang ketiban rejeki berkat kemampuan mereka untuk bersedih hingga mencucurkan air mata.  Kemampuan resesif tersebut telah menjadi profesi  langka di negeri Etawa: tukang tangis sewaan! Berawal dari seorang pemuda sebutlah mister Bas -sesuai karakter  suara tangisnya yang nge-bas- yang berinisiatif membentuk grup paduan duka  berawal rasa rikuh saat mendapati kenapalah penduduk Etawa masih tersenyum-senyum bahkan tertawa saat menghadiri acara pemakaman dan kedukaan, apalagi di tengah masyarakat internasional saat ada acara serupa. Menyadari dirinya memiliki anugerah resesif menangis, mister Bas mulai ‘berburu’ ke penjuru negeri Etawa untuk membentuk grup paduan duka karena dia yakin pasti masih ada yang lain yang berkemampuan resesif sama seperti dia yaitu menangis. Proses perburuannya sendiri menjadi kisah yang menarik dan penuh drama. 

Karena karakter manusia Etawa yang senang senyum dan tertawa,  sifat sosial merekapun menjadi begitu terbuka dan cair. Ramah, gampang tersenyum dan selalu berusaha menyapa duluan saat berpapasan. Pembawaan dan karakter sosial yang begitu terbuka membuat merekapun menjadi manusia-manusia jujur dan apa adanya. Tak senang dengan hal yang tersembunyi dan ditutupi, sebaliknya mereka sangat bahagia jika dapat bersama, berkumpul secara cair dan akrab. Pembawaan ini berdampak kemana-mana sampai ke jenis hiburan, aktivitas bersosialisasi, ekonomi, transportasi bahkan gadget elektronik. Mereka senang berada di tempat-tempat publik, ngobrol, bincang-bincang atau bercengkerama. Kedai santap dan urusan perut yang mereka sukai adalah kafe-kafe terbuka alami di koridor dan emplasemen terbuka tepi jalan yang bersih dan apik. Jalan-jalan hingga lorong yang lirih di pelosok Etawa sangat bersih sebersih-bersihnya. 

 

Udara telanjang, bau matahari serta atmosfir lalu lalang pejalan kaki, laju sepeda dan kendaraan adalah back-drop cantik dimana mereka bisa bersosialisasi bincang-bincang dengan hangat sambil tersenyum. Kafe dan bar-bar tertutup juga ada namun peminatnya sedikit karena meskipun sajian makanan dan minumannya menggoda selera,  mereka merasa terkungkung dalam ruangan remang temaram tak nampak ekspresi senyum utuh manusia-manusia di dalamnya. Tertawa dan senyum adalah satu paket audio visual utuh.  Dengan segala keterbukaan dan kepolosan mereka yang menjadi misteri adalah bagaimana manusia Etawa memadu kasih dan menjalin asmara yang kadang-kadang perlu suasana personal dan pribadi. Proses kimiawi sepasang kekasih duduk berdua dipagut cinta dalam naungan ketertutupan menjadi rahasia umum yang hidup secara alami antar generasi di dunia negeri Etawa.

 

Bukan mal dan shopping store yang banyak ditemui di Etawa, tapi taman-taman indah dan asri berserakan di banyak tempat, pusat taman bacaan dan diskusi, taman bermain serta bioskop drive-in. Ya bioskop drive-in mereka perbanyak agar dapat menikmati tontonan film bagus secara bersama-sama sambil senyum sana sini menyapa dari kendaraan konvertibel mereka. Mobil yang paling laris di Etawa jelas sedan konvertibel, kendaraan kap terbuka seterbuka karakter mereka satu sama lain. Kendaraan umumpun serupa bus double decker dimana kabin atas terbuka menantang langit. Untuk mobil keluarga berkabin amat jarang, kalau boleh dikatakan tidak ada yang memakai kaca gelap. Kaca film dengan prosentase minimal juga tak digubris. Mobil mereka berkaca bening dan polos, sepolos semangat keramahan mereka. 


Selain taman-taman, bioskop drive-in adalah pilihan pasti arena hiburan manusia Etawa, sehingga model hiburan dari piringan padat VCD, DVD atau Blu Ray tak begitu laku karena dianggap individualistis tak ada semangat kebersamaan serta yang jelas mereka bingung saat menonton harus tersenyum dengan siapa di hadapan layar gelas elektronik. Kemajuan teknologi tontonan mereka  sebenarnya sudah sampai ke alat audio visual hologram dengan kapasitas empat dimensi berkombinasi dengan teknologi animatronik, tapi itupun tak seberapa banyak peminatnya. Mereka tetap memilih kumpul ramai-ramai di bioskop drive-in. 


Dan kesanalah mister Bas melakukan perburuan setiap akhir pekan, ke bioskop drive-in. Menyetir kendaraan konvertibel sendiri, ada dua kewajiban mister Bas saat  masuk bioskop drive-in: selalu memilih parkir paling depan dan selalu memilih tayangan film-film romantis dan sedih. Padahal film romantis dan sedih adalah jenis-jenis film yang jarang ditayangkan disana. Kenapa mister Bas wajib memarkir kendaraan paling depan, hanya beberapa kali lompat jinjit dari panggung layar hologram,  sebuah alat penayang sinyal tiga dimensi hologram yang disorotkan pada permukaan dua dimensi.

 

Mister Bas menonton di drive in bukan untuk menonton film yang sedang ditayangkan, justru dia menonton untuk menonton penonton-penonton film-film melankolik  penguras air mata yang sedang  ada di layar. Benar, karena tugasnya menemukan manusia-manusia Etawa  dengan bakat resesif menangis,  Paling tidak dia harus mendapatkan lima personil tukang tangis utuk melengkapi paduan dukanya.

Itupun bukan tugas yang mudah karena sesedih apapun film yang ditayangkan, manusia Etawa tak tahan untuk tidak tersenyum dan tertawa. Itu sebabnya proses ini menjadi penuh drama dan layaknya perjalanan spiritual, menontoni orang yang sedang menonton film. Memandangi satu-satu penonton sambil tersenyum, memutar pandangan ke calon lain, terus begitu selama berbulan-bulan.

 

Jika mister Bas menemukan satu orang yang didapatinya menitikkan air mata maka dia harus memastikan berkali-kali saat tayangan film sedih lain bahwa orang tersebut betul-betul menangis, bukan tersedak atau kelilipan. Barulah dia melakukan pendekatan secara pribadi perihal niatnya membentuk paduan duka, untuk mengusung tugas mulia dan terhormat di negeri Etawa.


Sebenarnya para petinggi negeri Etawa awalnya tak terlalu setuju dengan terbentuknya paduan duka tersebut. Karena menurut mereka apa gunanya menangis, rasa sedih itu menakutkan dan sia-sia. Sedih itu aib dan tabu bagi mereka. Sedangkan senyum dan tertawa lebih banyak manfaatnya. Penjelasan ilmiahnya begini kata mereka. Ketika tertawa, jaringan saraf di otak akan memberi rangsangan listrik. Rangsangan ini memicu terjadinya reaksi-reaksi kimia dalam otak dan bagian-bagian tubuh lainnya, antara lain adalah memicu produksi hormon endorphine yang akan memerintahkan otak mengeluarkan zat pembunuh rasa sakit secara alamiah sehingga tubuh terasa lebih nyaman. 


Ada lagi katanya. Saat kita tersenyum 15 otot muka berkontraksi dan ada rangsangan elektrik pada sebagian besar otot mulut. Otot yang berkontraksi untuk tersenyum, jumlahnya lebih sedikit daripada otot yang digunakan untuk marah. Karena saat orang marah dan bersedih itu perlu 17 otot wajah berkontraksi. Suatu kerja keras yang menguras pergerakan sel dan hormon. Orang jadi lekas sensitif dan cepat tua. Jadi tersenyum itu awet muda dan indah. Dunia menjadi lebih indah dengan tersenyum. 


Banyak negara lain yang menurut mereka rakyatnya sudah susah tersenyum apalagi tertawa. Bahkan di beberapa negara tersenyum diusulkan masuk konvensi PBB soal perilaku yang langka dan terancam punah.  Seperti di negeri-negeri bekas kancah perang di Indochina, semenanjung Balkan atau daerah konflik Tanduk Afrika. Salah senyum nyawa melayang. Benar, senyum Anda malah dikira menghina yang berujung maut. Ada lagi yang lucu, di satu negara besar Asia Tenggara untuk saling tersenyum dan saling sapapun harus dikampanyekan dahulu secara gencar dan diadakan lomba senyum dimana-mana.

 

Bahkan mereka sampai perlu menamai stasiun radio mereka dengan senyum dan ketawa. Sudah menjadi barang langka rupanya senyum itu. Kepala negaranya pun kalau perlu  dipilih yang paling suka tersenyum, kendati kelakuannya bisa bertolak belakang dengan senyumnya. Makin sering senyum makin sering orang tersebut terpilih sebagai kepala negara, berkali-kali sampai bosan. Namun kening rakyatnya kebanyakan kisut karena terlalu banyak merengut. Justru sebaliknya di negeri Etawa. Begitu ujar para petingginya. 

 

Namun menurut pentolan paduan duka Senandung Malaikat, meski menangis menjadi bakat resesif di Etawa, menangis ternyata ada manfaatnya juga. Menurut penelitian yang dibaca oleh mister Bas, menangis adalah pelepasan emosi paling pas saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata. Air mata yang keluar saat menangis juga mengandung hormon endorphin, yaitu hormon pelepas stress, sehingga perasaan terasa lebih lega setelah menangis. Selain itu menangis merupakan cara alami mengusir unsur-unsur yang merugikan dan berbahaya bagi tubuh. Menurutnya lagi, di luar Etawa wanitanya lebih acap menangis, 4 kali lipat lebih sering dibanding prianya. Tingginya hormon prolaktin pada wanita diduga menjadi penyebabnya. Jadi, dia menyimpulkan tersenyum itu baik dan indah namun menangis juga tidak ada salahnya apalagi kalau dengan menangis bisa mendatangkan rezeki.


Akhirnya setelah melakukan audisi ketat untuk mengetahui tinggi nada tangis masing-masing, terkumpul enam personel tukang tangis tiga wanita tiga pria. Mister Bas bertindak selaku dirigen setiap ada acara tangis-tangisan. Inisial mereka disesuaikan dengan karakter tinggi nada tangis masing-masing. Untuk wanita karena ada tiga tinggi nada jadi ada tiga panggilan: miss Sop (dari nada terendah Soprano), miss Mes (dari Messo Soprano), dan miss Al (dari nada tertinggi Alto). Kemudian prianya mister Bas (dari nada Bass), mister Bar (dari Bariton) dan terakhir mister Ten (dari Tenor). Lengkap sudah grup paduan duka itu dan mereka menyebut diri Senandung Malaikat. Sesuai dengan kehadiran mereka  di setiap acara pemakaman menyongsong kehadiran malaikat kolektor nyawa.  Juga karena tangisan yang merintih menyayat hati, membuat merinding mendirikan sekujur bulu roma  dan menjadikan orang berkeringat dingin mendengar lantunan tangisan bervariasi  tingkat oktaf dari paduan mulut-mulut mereka.


Penampilan pertama mereka menjadi tontonan paling spektakuler seumur-umur penduduk Etawa pernah saksikan. Hari itu tanggal bertanggal 13, ada acara pemakaman untuk jam 13.00 pula. Yang akan dimakamkan adalah seorang nenek yang meninggal dimakan usia. Namanya madam Rosita. Dia merupakan generasi penerus tokoh legendaris Etawa. Nenek dari nenek neneknya adalah orang pertama yang secara gigih dan tak kenal lelah mengenalkan dan mengajak penduduk Etawa untuk makan telur. Ya telur ayam.

 

Jenis-jenis burung dan unggas pada awalnya hidup liar di alam Etawa. Moyang madam Rositalah yang pertama kali menangkarkan jenis-jenis ayam dan memetik hasil daging segar serta telur dari hasil budi dayanya. Dua ratus tahun lebih antar generasi memeras keringat tak sia sia, sehingga generasi penerusnya berhak  atas gelar kehormatan tambahan: Egg, lengkapnya Madam Rosita Egg.

Mengajak penduduk Etawa untuk mulai makan telur bukan hal mudah. Karena rasa sosial dan empati mereka begitu tinggi, bagi mereka menyantap telur sama dengan membunuh satu makhluk karena di dalam telur ada benih kehidupan masa depan. Membunuh satu makhluk sama dengan melenyapkan segenap makhluk di bumi. Mereka tidak bisa mengungkapkan kesedihan akibat makan telur tapi mereka pun tahu bagaimana jika benih masa depan mereka dijadikan konsumsi makhluk lain? Moyang madam Rosita Egg melakukan sosialisasi tak kenal lelah dan berulang-ulang bahwa selain benih kehidupan di dalam telur ada banyak kandungan manfaat lain untuk tubuh. Jika satu telur termakan, maka unggas-unggas akan merasa dirinya bermanfaat, mereka merasa senang dan akan bertelur lagi terus menerus. Satu telur dimakan akan diganti dengan ribuan telur baru. Kerja keras itu  akhirnya berbuah. Telur-telurnya laku dan penduduk Etawa sehat makan telur. 


Acara pemakaman sudah dimulai. Ayat-ayat sudah didaras, doa dipanjatkan. Kepasrahan kembali kepangkuan sang Pencipta. Paduan duka Senandung Malaikat mengambil posisi di pelataran sebelah kanan makam. Mereka bersusun membentuk V terbalik, terpancung membuka ke arah pelayat. Mereka duduk rapi, badan tegak  luwes tidak bersandar. Posisi tangan bersimpuh di pangkuan paha kanan dan kiri. Dirigen mengambil posisi nyempil di tengah, membelakangi pelayat. Format pengaturan suara searah dengan format duduk mereka kiri-kanan SBATM dengan tambahan satu suara Bass di tengah milik dirigen.  Tak ada alat musik pengiring dan jelas tanpa partitur. 


Deretan kalimat doa sudah terbang mengawang ke haribaan Pencipta dan menyelusup ke telinga para pelayat. Lalu  terdengar dengung pertama nada rendah laki-laki, suara mister Bas sendiri. Sebenarnya rengekan yang halus, bening dan berdesis. Kemudian hening. Dramatis. Sekujur bulu roma pelayat mengisyaratkan suasana berbeda dan mulai merinding. Penampilan paling aneh sepeninggal masa akil balik, saat tangisan sirna dari liang telinga penduduk Etawa.


Paduan duka tak sedikitpun mengenal nada dasar menangis. Menyusul tangisan bening sang dirigen melejitlah nada rengekan tertinggi suara Alto  membuat pelayat agak terhenyak dan menjajak mundur sedikit. Suspens yang sempurna pada pembukaan. Perasaan mereka mulai berbaur terhanyut suasana magis tangisan kendati mereka saksikan sambil melongo setengah tersenyum. Senandung Malaikat membawakan tangisan sesuai dengan tuntutan pertangisan dunia modern: suara tangis diupayakan seseragam mungkin di antara sesama partisi rengekan dengan jeda yang disentak-sentak untuk menambah suspens dan keharuan. 


Tangis sesengukan  ibarat kerah kemeja jaman dahulu yang bergendat-gendat. Kadang-kadang ada vibrasi rengekan namun ditekan sampai ke titik nol. Nyaris 5 menit lebih terpaku menyaksikan paduan duka ini, pelayat terhanyut dalam lautan duka maha luas. Pengalaman hebat mendengar rengekan, sedu sedan dan rintihan dalam format yang sempurna. Ada kalanya mereka menangis lebih dari 5 menit. Untuk itu ada repertoar tertentu dengan berbagai format kelompok tanpa dirigen SBMBAT, ATMBSB atau format standar dengan dirigen SBATM berbalik arah: MTABS.


Nada rengekan falsetto bisa terjadi, namun melihat konteks siapa yang meninggal. Untuk tokoh-tokoh terhormat rengekan falsetto acap keluar karena terdengar lebih menyayat hati. Jika yang meninggal bayi atau anak balita, mereka terkadang tidak tega melantunkan rengekan dan tangisan berkepanjangan. Menampakkan ketidakrelaan akan kehendak sang Kuasa. Mereka harus polos dan pasrah akan sirkulasi alam. Ada saat datang ada saat pergi. Karena itu saat mengantar kepergian bayi dan balita mereka serempak hanya bersenandung melantunkan hymne duka dengan nada hem hem tinggi rendah saling bersahutan. Mirip senandung Amazing Grace (John Newton). Itupun juga bisa membuat pelayat menitikkan air mata karena senandung duka mereka juga sangat menyayat kalbu. Rasa sedih yang melayang berenang-renang hingga palung hati yang paling dalam. 


Penampilan tukang-tukang tangis ini terus bergulir, menyukseskan pengantar duka dari pemakaman ke pemakaman hingga penduduk Etawa tidak rikuh tersimpul malu bila menghadiri acara pemakaman antar negara tetangga karena ada penduduk Etawa yang bisa menangis, berkelompok dan kompak lagi. Sampai penampilan ke 665, paduan duka Senandung Malaikat mendulang sukses tanpa cela bahkan bisa mengajak beberapa wanita  untuk ikut-ikutan merengek sedu sedan.

 

Pada penampilan ke 666, nampaknya menjadi catatan mimpi buruk Senandung Malaikat. Hari itu adalah acara pemakaman Yang Dipertuan Agong Wali Negeri Etawa, (setara dengan wakil raja) yang wafat karena usia. Malam sebelum penampilan kelompok muda-mudi ini bercanda dan nongkrong hingga larut menyajikan salah satu penganan favorit negeri Etawa, kimpul (Xanthosoma violaceum). Kimpul yang digoreng garing disantap dengan kopi hangat adalah kenangan yang harus terus-menerus diulang bagi mereka. Pagipun tiba dan mereka bersiap-siap untuk tampil lagi mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka menangis, hari itu adalah hari istimewa.

 
Acara berjalan lancar dan khidmat, beberapa tamu penting hadir termasuk utusan negara sahabat dan pemimpin-pemimpin internasional. Seperti biasa setelah beberapa sambutan dan doa tibalah saat Senandung Malaikat beraksi. Sang dirigen memberi aba-aba mengangkat tangan dan segera dikibaskan. Namun cerita menjadi lain, penganan favorit  malam tadi ternyata membawa efek sampingan, menyantap kimpul bertubi-tubi membuat angin di perut merekapun penuh. Dan mister Ten (Tenor) sebagai pembuka suara dengan sepenuh perasaan dan tenaga menghimpun napas agar segera dimuntahkan menjadi lolongan tangis menyayat hati. 


Apa nyana hentakan tenaga napasnya bukannya keluar ke atas lewat mulutnya yang sudah ternganga tapi menerobos cepat ke saluran pembuangan belakang. Keluar sebagai angin jahat terhimpit menjerit sakit berkeciut ribut menyahut aba-aba. Hampir mirip suara lolongan tangisnya, bedanya ada penumpang tambahan  bau tak sedap merebak.

Habis sudah catatan karir mengkilap grup paduan duka ini. Otomatis begitu terdengar lengkingan menyayat dari saluran bawah tersebut, satu persatu mereka bukannya merengek dan melolong tangis, sebaliknya mulai tertawa terbahak-bahak saling menjauh dan membubarkan diri. Tawa mereka juga otomatis memancing tawa hadirin Etawa yang hadir saat itu karena kemampuan tawa penduduk Etawa menular secara cepat.  Mereka susah bersedih namun cepat sekali tertawa dan tersenyum.

 

 

Ikuti tulisan menarik Didi Adrian lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terkini

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB