x

Iklan

Danendra Alfathadiningrat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Maret 2023

Kamis, 23 Maret 2023 14:23 WIB

Transkrip Interview Musik Digital di Bidang Permusikan dan Perfilman Bersama Iwan Gunawan

Artikel ini merupakan tugas transkrip interview mata kuliah jurnalistik

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Nama : Danendra Alfathadiningrat
NIM : 2210184

Narasumber : Iwan Gunawan
Definisi musik digital menurut anda?
Digitalisasi adalah suatu alat yang bisa diukur secara pasti, seperti jam digital yang dapat diukur secara langsung mendetail hingga ke menit bahkan detik, di dalam teknologi musik pun sama, karena sebelum era digital disadari bahwa dalam musik terdapat hal-hal yang bisa diukur, salah satu konsep digitalisasi adalah merasakan hal-hal yang dapat diukur jadi segala sesuatunya sangat transaparan.
Contoh kasus jika kita menyanyi dengan mikrofon kita belum tentu tahu itu ada pada nada apa tapi ketika sudah ditransformasi melalui digital kita akan mengetahui informasi secara pasti. Oleh karena itu pada konsep musik digital selalu mengandung prinsip ADDA (Analog to Digital, Digital to Analog) seperti saat berbicara menggunakan mikrofon itu masih analog karena kita belum tahu ritme, kontur ritme dan nada yang saya gunakan juga saya tidak tahu, namun jika saya rekam disini akan muncul data yang terukur, kemudian jika kita dengarkan menggunakan speaker akan kembali menjadi analog, itu menurut saya merupakan prinsip paling dasar memahami musik digital.

Tanggapan anda mengenai perkembangan teknologi di dunia musik khususnya musik digital?
Perkembangan teknologi musik sekarang lebih mengarah ke perkembangan hardware dan software, jadi bagaimana teknologi ini menjadi sebuah tools didalam berkreativitas musik, tetapi musiknya belum tentu menjadi sesuatu yang uptodate terkadang banyak orang yang melakukan recycle dari sisi artistik, misalnya dia menggarap musik yang sudah masa lampau tapi dikemas dalam berbagai era digital yaitu yang menggunakan hardware dan software. Saking pesatnya perkembangan hardware dan software saling susul-menyusul walaupun terkadang perkembangan software lebih sering berubah seperti update tiap beberapa saat. 
Saya kira semua hardware dan software diciptakan sebagai tools agar orang-orang bisa berkreasi musik lebih efektif dan efisien.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dampak positif perkembangan teknologi di dunia musik menurut anda?
Pekerjaan semakin efisien, contoh kasus saya sebagai komponis dulu sebelum membuat satu karya harus mengeksplorasi dulu dengan batasan-batasan ingatan manusia itu sendiri, oleh karena itu diperlukan notasi untuk merekam gagasan-gagasan itu, walaupun wujud notasi itu masih abstrak, hanya sebagai konsep perencanaan yang kadang-kadang bunyi nya tidak 100% bisa diprediksi, untuk mewujudkan musik itu sendiri dibutuhkan waktu yang lama seperti harus mengumpulkan orang untuk memainkan alat musik kemudian mentransformasikan gagasan tersebut kepada orang-orang tersebut, membutuhkan proses yang lama hingga akhirnya rampung.
Saat ini saya bisa membuat komposisi tanpa pemain dan saya juga tidak perlu betul-betul lama berkontemplasi, langsung saja mencoba-coba mengorganize bahan-bahan yang sudah ada direkayasa dan semuanya bisa terkontrol jadi sebagaimana John Cage mengatakan “musik itu intinya mengorganisasi bunyi” persoalan gagasan tersebut betul-betul baru atau lama tidak menjadi masalah tapi seberapa jauh ia mampu mengorganisasi semua materi musikal itu sehingga akhirnya mewujudkan sesuatu yang kreatif. Contoh kasus jika saya menulis sesuatu membuat data dengan hanya mengetik menggunakan komputer akan lebih lambat daripada saya langsung merekamnya, jadi hardware dan software harus selaras.

Dampak negatif perkembangan teknologi di dunia musik menurut anda?
Bagi para pengguna awam yang baru berkarir mereka terkadang tidak paham konteksnya, misalnya saat ini sangat memungkinkan untuk membuat orkestra seolah-olah ia merasa bahwa “wah ini yang disebut orkestra ini”. Intinya saat ini dengan teknologi kita dapat menciptakan musik orkes dalam satu sentuhan, dan produk software seperti ini dikerjakan untuk itu terutama software yang berbasis AI. Saat ini produk-produk AI sudah digunakan untuk memudahkan, bagi pengguna awam hal seperti ini sudah dianggap orkestrasi yang benar, sedangkan pada zaman dulu ingin membuat  seperti ini saja sangat sulit bahkan seperti tidak masuk akal, bahkan zaman dahulu jika ingin membuat orkestrasi harus mengetahui dulu jenis-jenis suara pada tiap instrumen, mengenal warna-warna suara nya, harus ada lingkungan yang membentuknya.
Sedangkan orkestra di Indonesia sendiri masih jarang, hari ini bahkan orang-orang tidak tahu bagaimana contrabass itu dimainkan atau bagaimana ada bassoon pada karya ini dan orang awam tidak memahami hal tersebut tapi dia seolah-olah merasa “oh ini musik orkestra saya” dan berdasarkan kasus yang saya alami banyak mahasiswa yang sedang belajar jadi ada penyalahgunaan teknologi seolah-olah dia sudah bisa begini tapi dia tidak tahu konteksnya, jadi dalam menggarap musik yang betul-betul baik dan berkualitas harus ada ilmu dan pengetahuan tidak hanya sekedar apa yang kita dengar, karena apa yang kita dengar sendiri kita tidak bisa menentukan itu apa adanya, kita hanya bisa menginterpretasi dan kita harus memiliki pengetahuan salah satunya orkestrasi, saat ini dengan teknologi musik yang berkembang pesat ini salah satunya ada persepsi yang dibentuk bahwa jika ingin menjadi komposer/arranger tidak perlu sekolah karena semua tinggal nonton di youtube itulah dampak negatifnya, dan disini tantangan bagi saya sebagai seniman sekaligus pendidik bagaimana mengedukasi para pembelajar atau mahasiswa agar memahami konteksnya secara jelas.

Cara anda menanggulangi dampak negatif tersebut sebagai seniman?
Adanya proses pendidikan, lebih tepatnya pembelajaran karena kalo pendidikan lebih terhadap sikapnya bagi kita melihat secara bijak, sedangkan kalo pembelajaran lebih ke aspek teknis agar dia mampu merubah sikap seperti harus belajar orkestrasi, konsep kompositoris dan lain-lain. Ini yang harus selalu didiskusikan dan saya selalu menanggapinya dengan cara kritis karena banyak orang yang melihat teknologi baru tidak paham apa-apa langsung terpesona padahal belum tentu, seperti banyak orang bikin aplikasi angklung atau gendang virtual kemudian khalayak bereaksi “wah ini aplikasi canggih” padahal itu hanya toys, banyak orang yang seperti itu nah kita harus kritis setiap teknologi diciptakan itu memang dampak nya hal yang baru itu selalu wah gitu, tetapi belum tentu.
Apalagi segala sesuatu datang dari negara dengan budaya maju, jadi kita harus senantiasa mengkritisi segala aspek secara bijak supaya kita punya jati diri bukan hanya sekedar followers, tapi juga akhirnya kita juga bisa mampu memberikan kontribusi sebagai seorang kreator.

Tanggapan anda jika ada musisi baru yang tidak memahami orkestrasi namun dapat membuat karya orkestra yang disukai masyarakat umum?
Yang dimaksud enak itu seperti apa? Dan siapa yang menilai? Kalo misalnya sebuah kualitas apapun baik barang maupun karya seni, siapa yang berhak menilai misalnya lukisan Affandi apakah seorang yang berprofesi sebagai tukang becak mampu menilai lukisan tersebut dan apakah penilaiannya tersebut dapat dijadikan sebuah standar? Tidak. Dalam dunia musik seolah-olah orang merasa punya hak untuk menilai ini bagus atau tidak makanya jika mendengar kemudian ini enak bagi masyarakat, ya masyarakat siapa? Belum tentu. Walaupun dalam dunia musik kenyataannya seperti itu banyak orang yang merasa dia punya hak musik itu baik atau tidak, karena musik itu abstrak kan tidak dapat dilihat tidak dapat disentuh jadi musik itu terasa langsung kena hati karena dia langsung dari pendengaran turun ke hati.
Apalagi musik sendiri di Indonesia terlalu bias karena keragaman kita yang memang banyak musik-musik fungsional musik upacara, musik rakyat, memang hampir semua seni-seni di kita itu untuk persembahan raja, untuk upacara ritual ini, untuk menghibur masyarakat, tapi musik sebagai sebuah gagasan yang murni, sebagai ekspresi individual seniman kurang dipahami walaupun sebenarnya tokoh-tokoh di Indonesia sudah cukup eksis. Namun jika melihat latar belakang budaya di barat memang dari dulu sejarah musik barat itu ditulis dalam rangka art music, bahkan musik-musik hiburan rakyat itu tidak dianggap sebagai sebuah karya seni, itu hanya dianggap sebagai seni hiburan saja. Makanya seperti musik klasik kan tidak semua orang suka musik klasik tapi itu kan dianggap sebagai ciri-ciri memiliki peradaban yang tinggi, demikian juga dengan gamelan. Banyak orang yang berpikir “ah gamelan itu hanya musik tradisional, musik rakyat” tapi gamelan yang mana? Banyak gamelan-gamelan yang memang proporsi nya sama peradabannya sama kecanggihan berpikirnya antara budaya barat dan timur itu juga sama. 
Balik lagi untuk mengetahui itu kan diperlukan pengetahuan. Pengetahuan itu yang akan dijadikan tools untuk menilai baik buruknya, tidak bisa diserahkan pada masyarakat tetapi kasus tadi bagi saya  impossible, tidak mungkin seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan orkestrasi tiba-tiba bisa membuat karya orkestra, kalopun dia akhirnya katakana anggapan karyanya dianggap bagus saya pikir mungkin itu hanya kebetulan saja, atau dia menggunakan sample dari AI tersebut dan dia memiliki intuisi yang pas untuk memetakan semua nya. Tapi dia sendiri tidak tahu-menahu bagaimana sesungguhnya.
Seperti salah satu komposer di Indonesia yang sangat terkenal hingga disebut maestro, namun dimana letak keunikan pada karya nya? Dimana kebaruannya? Dia hanya mereplace, merecycle, mengulang kembali pengetahuan orkestra yang dianggap terlalu oldschool, dia mungkin memiliki gagasan-gagasan tertentu tapi bagaimana dia mengorkestrasi melalui bentuk partiture ada bantuan dari orang lain, jadi yang menuliskan notasi nya sendiri bukan dia. Lain dengan guru saya di Denmark atau saya yang semua detail lagunya ditulis dalam bentuk partiture karena tahu semua aspeknya.
Demikian juga dulu saat saya menjadi pemain keyboardnya konser Vina Panduwinata di Cirebon, ada satu seniman oleh karena ada teknologi virtual instrument bernama Orchestral dari EDIROL waktu itu dianggap paling bagus, dia merasa dia sanggup membuat orkestra, tapi karena dia tidak paham partitur alhasil acara tersebut menjadi chaos saat diberikan kepada pemain hingga mereka kebingungan karena cara-caranya yang tidak dipahami.
Artinya bagaimana dikatakan baik, ya kecuali hanya dubbing seperti yang dilakukan beberapa komposer di negeri ini. Kalo urusan industri musik itukan strategi bisnis tidak berurusan dengan baik dan buruk. Seperti begini contoh saja tempat asusila, pub, bar, klab bahkan peredaran narkoba hingga hari ini terus ada, jika dilihat dari sisi etika itu tidak baik, ada undang-undangnya, tapi sampai hari ini jalan karena ada kepentingan lain yaitu bisnis, dan di dunia musik pun sama seperti itu. Balik lagi dalam dunia industri musik itu kembali kepada kitanya dapat memilah yang baik atau tidak

Bolehkah seseorang berkarya tanpa memiliki pengetahuan dan hanya berdasarkan pengalaman?
Berkarya itu sangat membutuhkan pengetahuan, tidak mungkin kita bisa berkarya kalo tidak punya pengetahuan, tetapi orang yang tidak memiliki pengetahuan orkestrasi, tetapi bisa saja karena tidak tahu. 
Menurut anda musisi baru dan generasi penerus itu harus memahami orkestrasi baru berkarya membuat orkestra?
Ya orkestrasi ini hanyalah salah satu contoh unsur jika kita ingin membuat orkestra, tapi balik lagi bahwa setiap orang membuat karya musik itu kan dia punya motivasi yang beragam. Bahwa tidak setiap seniman atau musisi membuat musik itu hanya untuk hiburan, banyak musisi yang memiliki dedikasi yang tinggi karena ia merasa musik bagian dari komunikasi, bagaimana mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang dimiliki orang sekalipun itu abstrak.


Perbedaan permusikan orkestra di Indonesia dan negara di barat?
Jelas jauh dan sangat timpang karena itu bukan budaya kita, sehingga itu yang membuat kurang berkembang dan kurang pengetahuan. Sesuatu yang membudaya itu sesuatu yang mempunyai pengetahuan yang sudah established. Sama seperti pengetahuan mengenai raja-raja di Nusantara, banyak artefak-artefak dan lain sebagainya, tapi di negara yang lain mereka tidak paham apa yang terjadi seperti gamelan misalnya. Seperti negara Korea Selatan dan China mereka tidak begitu eksis gamelan karena memang bukan budaya nya, seperti pada tanggal 29 nanti saya mengadakan masterclass mengenai gamelan dan sudah ada orang Korea Selatan yang curious untuk ikut, namun yang anehnya baru sekarang orang Korea Selatan lakukan sedangkan orang Amerika Serikat dan negara di Eropa sudah melakukannya dari dulu bahkan sudah banyak ahli gamelan disana.
Artinya saya pikir ini yang menyebabkan bahwa kita sangat timpang sekali karena ini bukan budaya, tapi bukan berarti kita tidak mungkin bisa, dalam era globalisasi saat ini konsep-konsep barat timur bagi saya sudah tidak penting lagi, yang penting bagaimana kita bisa berinteraksi secara budaya sekalipun itu bukan budaya kita tetapi kita berusaha untuk mengetahui seperti orang barat mempelajari budaya gamelan. Itu juga yang membuat saya iri “kok orang-orang barat belajar gamelan begitu serius dan intens sampai mereka punya ahli” tapi orang kita yang belajar musik barat kenapa tidak serius, hanya sekedar untuk entertainment saja dan itu yang jadi masalah.
Salah satu faktornya gini, dimana di Indonesia ada yang memiliki concert hall yang baik? Tidak ada, kalaupun ada itu milik swasta dan sangat mahal.

Adakah musisi Indonesia yang giat dalam melestarikan musik orkestra di Indonesia?
Tentu ada, contohnya Addie MS yang populer, ia mencoba untuk selalu menghadirkan walaupun terkadang ia tidak bisa melakukan hal idealis karena butuh funding dana. Tetapi yang lebih serius salah satunya menurut saya ada Bandung Philharmonic tetapi sayang sekarang sudah collapsed, yaitu bu Irene lulusan amerika serikat tapi dia kerjasama dengan salah satu grup orkestra di California terutama conductor Robert Nordling sejak sekitar 7 tahun lalu, namun dikarenakan COVID-19 mereka harus collapsed. 
Mereka mengenalkan musik-musik klasik barat tapi memberi juga kesempatan bagi para komponis-komponis Indonesia untuk membuat musik orkestra, dan salah satunya pada tahun 2019 giliran saya namun sayang harus dibatalkan karena COVID-19.
Masih ada lagi seperti Jakarta Simfonia Orchestra, tetapi sekali lagi yang betul-betul konsisten dan eksis jarang tapi ini sekali lagi bukan salah seniman, tapi salah situasi juga yang tidak mendukung, situasi politik, dan situasi lingkungan. Banyak seniman yang memiliki semangat yang baik namun lagi-lagi masalah funding, karena seni-seni seperti orkestra, musik tradisional dan sebagainya adalah seni yang harus disubsidi oleh pemerintah. Seperti bagaimana kita membangun museum adalah sesuatu yang harus disubsidi seperti merawat Candi Borobudur.
Namun yang salah seperti musik populer itu tidak perlu disubsidi, namun di kita masih banyak salah pengalokasian dana di bidang seni khususnya musik.

Bagaimana permusikan digital pada dunia perfilman?

Tentu saya berbicara mengenai musik digital itu dalam konteks luas tentu bukan hanya seni musik saja, apalagi dalam sistem produk-produk software disana banyak yang berorientasi misalnya kearah cinematic, ini disiapkan dan dibentuk untuk musik film, mengapa? Karena mereka sadar bahwa untuk membuat musik film itu dibutuhkan biaya yang sangat besar, selain proses waktunya membutuhkan waktu yang lama karena kompleks sehingga biayanya sangat besar, dengan adanya teknologi seperti ini akhirnya biaya itu bisa dicut seminim mungkin dan dalam dunia bisnis semakin modal sedikit untung lebih banyak itu semakin baik ya. Saya pikir banyak software musik yang dipersiapkan khusus untuk musik film

Pendapat anda mengenai stereotip di Indonesia bahwa sedih harus digambarkan dengan minor sedangkan senang digambarkan dengan major dan sebagainya?

Musik itu pada dasarnya menurut Igor Stravinsky, seorang komponis Rusia “musik itu tidak bisa mengekspresikan sesuatu, akan tetapi ia tidak dapat dihindarkan dari sebuah interpretasi” jadi kesan bahwa itu sedih, gembira dan lain sebagainya itu karena pendengarnya menginterpretasi, menafsirkan, walaupun tafsirannya tidak ada satupun yang tunggal, tidak ada satu kebenaran yang pasti. Karena si A dapat merasakan demikian dan si B merasakan demikian, mungkin mereka sama-sama merasakan sedih namun sedihnya berbeda kapasitasnya. 
Kebetulan ada orang yang menginterpretasi tonalitas major itu gembira dan minor itu sedih, memang kalo kita lihat dari sisi bunyi nya saja terdengar terang dan gelap. Jadi kita tidak dapat membuat satu kesimpulan sederhana kalo major itu gembira dan minor itu sedih, karena balik lagi tergantung konteks tetapi saya lebih senang menggunakan istilah gelap dan terang artinya kalo gelap belum tentu menggambarkan sedih atau senang begitupun dengan terang. Karena didalam kegelapan ada kegembiraan dan didalam terang juga ada kesedihan.
Seperti saat ini terdapat isu negatif harmoni yang seperti pada film yang warnanya gelap menjadi terang dan terang menjadi gelap pada klise kamera di zaman dulu. Seperti contoh dengan negatif harmoni sebuah not terang fungsinya dapat diubah menjadi lebih gelap.
Pada musik film urusan interpretasi ini menjadi mainannya, karena terkadang kita dapat membuat paradoks. Seperti sekarang banyak film tembak-tembakan yang biasanya diisi dengan suara heroik, tapi terkadang diberikan musik yang slow namun adegannya bunuh-membunuh.
Saya pikir ini balik lagi terhadap interpretasi, jadi bagi seorang komponis harus dapat menginterpretasi dari sebuah adegan. Harus dapat membangun suasana hanya dari aspek visual, kemudian aspek apa yang dibicarakan dalam dialog, jadi musik itu berbicara dalam layer yang berbeda itu yang dikatakan oleh Hans Zimmermann, bahwa antara cerita dan musik itu bisa sesuatu yang berlawanan arah namun dia berada dalam satu layer yang berbeda berjalan.

Ikuti tulisan menarik Danendra Alfathadiningrat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB