x

Iklan

Kokowoyo

Penghancur peradaban
Bergabung Sejak: 20 Maret 2023

Jumat, 7 April 2023 19:50 WIB

Kritik Kerja Kurator dalam Pameran Seni Rupa Konvensional

Kritik ini adalah bentuk analisis kritis terhadap (dark side) dalam proses praktik kuratorial di pameran-pameran konvensional.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh kokowoyo

Kurator secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yang berarti merawat atau menyembuhkan dan peduli (care). Kurator dalam konteks sejarah untuk pertama kalinya hadir dalam The Consice Oxford Thesaurus mengacu pada kata caretaker, keeper, guardian yang dapat diartikan menjaga, peduli, melindungi, memelihara sampai menyuguhkan kembali artefak-artefak.

Dunia perkurasian pertama kali direalisasikan barat, yaitu di Amerika Utara dan Eropa, di museum non-seni seperti museum sejarah, museum biologi yang nengoleksi artefak-artefak dan binatang-binatang, perpustakaan,dan museum antropologi. Pada awalnya jika kita melihat konteks di atas proses pengkurasian hanya terjadi dalam hal-hal yang terkait dengan persoalan historis, tetapi semakin melaju dalam pergerakan sejarah, proses kurasi merambat ke dalam berbagai bidang termasuk dalam seni rupa.  

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kurator dalam dunia seni rupa dapat dianalogikan sebagai manajer maupun sutradara. Sebab kurator mempunyai peran krusial dan sangat menentukan berjalannya even seni rupa tersebut. Selain menjadi jembatan antara karya seniman dengan para pengapresiasi seni, kurator mempunyai peran yang cukup kompleks, yaitu menentukan apa saja yang pantas hadir di dalam galeri, menyeleksi karya-karya seniman, dan penulisan katalog sesuai tema yang telah di tentukan.

Tetapi bila kita mengacu pada praktik kerja kurator pada saat ini, termasuk dalam even-even seni rupa, proses kurasi menjadi lebih tepat dikatakan sebagai sebuah dunia gelap. Karena terdapat banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam pameran konvensional. Dewasa ini melihat kurator hanya sebagai seorang penulis katalog dan hanya sebatas seorang "penjaga" galeri. Mungkin lebih radikal lagi, bisa dikatakan kurator hanya menjadi satpam dalam sebuah galeri.

Lebih menjadi permasalahan karena para kurator tidak mempunyai pemahaman sejarah seni. Hal inilah yang dapat dikatakan sebagai sisi gelap proses kuratorial pameran seni konvensional. Kehadiran kurator yang kurang wawasan saat ini hanya bagian bagian dari konvensi. Hal inilah yang sebenarnya menimbulkan berbagai konflik dalam proses dunia kurasi. Dalam praktiknya terdapat pertentangan-pertentangan antara seniman dengan sang kurator yang pada akhirnya memicu timbulnya curator independent ( artist-curator). Mereka inilah yang memilih menjadi kurator atas karyanya sendiri, karena ketidak percayaan sang seniman terhadap kurator.

Selain itu problem nepotisme kerap kali terjadi dalam proses pengkurasian, banyak kurator-kurator yang memasukkan karya dalam pameran seni dengan dalih "koncoisme" dan menolak karya-karya lain dengan dalih tidak lolos pengkurasian. Hal inilah yang sebenarnya menjadi problem yang benar-benar menjadi hal lumrah dalam pameran konvensional. Maka untuk menghindari konflik antara seniman dan kurator perlu dihadirkan kurator yang benar-benar mampu dan memiliki kemampuan dalam melakukan proses pengkurasian secara jujur dan transparan.

Selain itu hal yang menjadi problematik adalah kurator hanya dianggap sebagai seorang yang menjelaskan secara dasar tentang tema dan penjelasan dasar dari karya seniman, faktanya adalah keberhasilan seniman dalam penerangannya terhadap para penikmat seni berada di tangan seorang kurator. Ibarat 100% kurator memiliki peran 80% untuk "menggoreng" karya seniman terkait agar mampu untuk dipahami dan diapresiasi para pengapresiasi seni. Tetapi pada praktik kerjanya, kurator hanya mampu menjelaskan dasar atas pemaknaan karya seniman terkait. Kecerobohan inilah yang menjadikan karya-karya seniman menjadi tidak menarik secara gagasan tetapi hanya menarik secara teknis.

Ikuti tulisan menarik Kokowoyo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu