Kisah di Balik Menjelang Pemilu: Sebuah Kritik Satir Terhadap Kekacauan Demokrasi

Minggu, 23 April 2023 05:56 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada saat pemilihan berlangsung seluruh orang berlomba-lomba mengambil hak pilihnya. Namun setelah itu mereka melupakan betapa pentingnya hak pilih tersebut. Mereka akan kembali merasa tidak peduli dengan kebijakan-kebijakan yang diambil. Bahkan tidak menyadari bahwa kebijakan tersebut dapat mempengaruhi hidup mereka.

Di sebuah ruang sidang parlemen yang megah, para pemimpin partai sedang sibuk memperdebatkan strategi politik mereka. Ada Partai Segitiga Bermuda yang dengan getol mendukung sosok AB, sementara Partai Anak Panah sebagai pendukung  suatu pemerintahan mengusungnya sebagai calon presiden. Parpol lainnya juga berlomba-lomba membentuk mega koalisi di markas partai perpustakan tertutup.

Namun, ada suatu isu yang selalu menggelayuti pikiran mereka, yaitu misteri Goris dan Piur yang masih menjadi tanda tanya besar di rumah banteng. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa para pemimpin partai mengincar dua nama itu dengan begitu gigih?

Entah apa yang terjadi di balik pintu-pintu tertutup ruang sidang parlemen itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar politik negara ini. Namun, ada satu hal yang pasti: kepentingan politik menjadi topeng dari kepentingan yang sebenarnya.

Berpura-pura berjuang untuk rakyat, mereka sebenarnya hanya berjuang untuk kekuasaan dan kepentingan pribadi. Mereka hanya mengincar kursi kepresidenan dan jabatan penting lainnya, sementara rakyat terus menderita dalam kemiskinan dan ketidakadilan.

Seperti layaknya sebuah drama politik, mereka saling berlomba-lomba dan saling menjatuhkan. Ada yang bermain kotor dan ada yang bermain licik. Ada yang bermain dengan uang dan ada yang bermain dengan kekuasaan.

Namun, dalam semua drama ini, rakyatlah yang selalu menjadi korban. Mereka yang menderita dan terpinggirkan dalam ketidakadilan yang terus terjadi. Ketidakadilan yang diperkuat oleh kepentingan politik para pemimpin partai.

Namun, entah bagaimana ceritanya akan berakhir. Mungkinkah ada sosok pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat? Mungkinkah ada sosok pemimpin yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik?

Di negeri ini, setiap lima tahun sekali, rakyat diwajibkan untuk memilih pemimpin. Pemilihan yang diadakan dengan tujuan memilih pemimpin yang terbaik, namun di balik itu semua terdapat kerumitan yang kadang menyita perhatian banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, proses pemilu pun semakin modern dengan adanya teknologi canggih yang memudahkan jalannya pemilihan. Namun, ternyata tidak semua hal menjadi lebih mudah dengan teknologi yang semakin canggih.

Orang-orang bertebaran di mana-mana, dengan seragam warna yang sama, memasang poster di tiap sudut kota. Terlihat seperti sebuah festival yang meriah. Tapi nyatanya, itu adalah kampanye yang menjadi ajang pertarungan antara kandidat.

Mereka berjanji akan memberikan yang terbaik untuk rakyat, dan mendapatkan suara dengan berbagai cara, mulai dari dengan cara-cara yang baik, sampai cara yang tidak etis. Dan di balik itu semua, ada tawar-menawar, saling memperhitungkan, dan saling menjatuhkan antara para kandidat.

Setiap kandidat saling berlomba untuk mendapatkan suara, meski pada akhirnya yang terpilih hanya satu. Seakan-akan sebuah pertarungan yang harus dimenangkan, namun seakan juga, orang-orang lupa bahwa pemilihan seharusnya merupakan ajang untuk memilih pemimpin yang tepat dan mampu mengemban amanah.

Tak jarang orang lupa bahwa pemilihan adalah hak dan kewajiban setiap rakyat. Mereka yang memilih memiliki hak untuk menentukan siapa yang akan memimpin negeri ini. Namun, kenyataannya, masih banyak rakyat yang terlena dengan janji-janji manis dari para kandidat, tanpa melihat track record, kredibilitas, dan kapabilitas calon pemimpin tersebut.

Dalam suara-suara rakyat yang berteriak memilih, seakan-akan terdapat pesan terselubung yang terdengar. Kita memilih bukan untuk menentukan siapa yang terbaik, melainkan untuk memilih siapa yang paling baik dalam memanipulasi rakyat dengan janji-janji mereka.

Pada saat pemilihan berlangsung, seluruh orang berlomba-lomba untuk mengambil hak pilihnya. Namun, setelah itu, mereka akan melupakan betapa pentingnya hak pilih tersebut. Mereka akan kembali merasa tidak peduli dengan kebijakan-kebijakan yang diambil, dan mungkin saja, mereka tidak menyadari bahwa kebijakan tersebut dapat mempengaruhi hidup mereka sendiri.

Dalam kesibukan memilih, banyak dari mereka yang lupa bahwa pemilihan bukan hanya tentang memilih siapa yang terbaik, melainkan tentang menentukan arah negeri ini ke depan. Menentukan masa depan anak cucu mereka, dan menentukan apakah negeri ini akan maju atau mundur.

Di satu sisi, ada kandidat yang mengorbankan prinsip dan integritas demi meraih suara dan posisi. Mereka memoles diri dengan janji manis, kampanye berkelas tinggi, serta retorika yang membuat banyak orang terpukau. Di sisi lain, ada pemilih yang mudah tergoda dengan iming-iming keuntungan pribadi dan belum teredukasi dengan baik mengenai hak pilih dan peran aktif dalam politik.

Dalam suasana yang semakin panas ini, banyak juga yang menemukan celah untuk mencari untung dari situasi politik. Ada oknum yang memanipulasi hasil pemilihan, mengintimidasi lawan politik, atau memperkaya diri melalui korupsi dan nepotisme. Tidak sedikit pula yang melakukan politik uang, menyuap pemilih untuk memilihnya.

Di balik semua masalah ini, sebenarnya terdapat rasa ketidakpercayaan dan kekecewaan terhadap sistem politik yang sudah membiarkan korupsi dan ketidakadilan merajalela. Banyak yang tidak lagi percaya bahwa suara mereka benar-benar dihitung dan dihargai, atau bahwa para politisi benar-benar mewakili kepentingan rakyat. Mereka merasa bahwa pemilihan hanya merupakan pesta demokrasi yang kosong, tanpa makna yang sebenarnya.

Namun, di tengah segala masalah ini, masih ada harapan yang muncul. Ada gerakan-gerakan sipil yang menyuarakan keadilan dan reformasi politik, serta pemilih yang semakin sadar akan hak dan tanggung jawab mereka dalam memilih. Ada kandidat yang jujur dan berintegritas, serta partai politik yang memperjuangkan kepentingan rakyat secara tulus.

Masalah pemilihan memang masih jauh dari selesai. Namun, dengan kesadaran dan aksi kolektif, masih ada harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik dan adil. Seperti kata John F. Kennedy, "The ignorance of one voter in a democracy impairs the security of all." Semua orang memiliki peran penting dalam menjaga integritas dan keseimbangan sistem politik yang demokratis, sehingga masa depan yang lebih baik bisa terwujud.

Dalam kesempatan ini, kita semua harus memahami betapa pentingnya memilih dengan bijak, mendukung kandidat yang jujur dan berintegritas, dan terus mengedukasi diri serta orang lain tentang pentingnya partisipasi politik. Kita harus memperjuangkan hak kita sebagai warga negara, dan tidak membiarkan diri terjebak dalam perangkat politik yang kotor dan korup.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
jendry Kremilo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler