x

Iklan

Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Kamis, 8 Juni 2023 06:53 WIB

Mengenal Platform Bahasa Isyarat Indonesia Gagasan Ahmad Yusuf

Di tahun 2022 lalu, SATU Indonesia Award memberikan penghargaan kepada Platform Edukasi dan Aksesibilitas Bahasa Isyarat Indonesia yang digagas dan dirintis oleh Ahmad Yusuf asal Talang Padang. Ahmad Yusuf mengembangkan satu platform edukasi yaitu Silang.id.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bahasa Isyarat merupakan bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara untuk berkomunikasi. Bahasa ini digunakan oleh tunarungu atau orang tuli, biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah. Bentuknya pun berbeda-beda di tiap negara.

Di Indonesia, setidaknya terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan oleh kelompok tuli untuk berkomunikasi pada sesamanya, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia atau Bisindo dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia atau Sibi. Walaupun sama-sama bahasa isyarat, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Di tahun 2022 lalu, SATU Indonesia Award memberikan penghargaan kepada Platform Edukasi dan Aksesibilitas Bahasa Isyarat Indonesia yang digagas dan dirintis oleh Ahmad Yusuf asal Talang Padang. Ahmad Yusuf mengembangkan satu platform edukasi yaitu Silang.id.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Silang.id hadir membawa solusi super apps for Deaf, dengan mengembangkan berbagai fitur di mobile apps, baik itu fitur kelas Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) belajar secara daring maupun luring dan kami juga menyediakan fitur layanan JBI (Juru Bahasa Isyarat) agar dapat memberikan layanan penjurubahasaan untuk masyarakat Tuli di seluruh Indonesia.

Visi dari silang.id (Silang = Sign Language)  agar dapat membangun masyarakat Indonesia yang inklusif, di mana  hal yang mendasar dan menjadi masalah utama mereka adalah aksesibilitas. Hal tersebut yang memengaruhi di berbagai sektor, karena tidak ada akses, maka jadi kendala di dunia Pendidikan.

Terdapat 80% dari teman Tuli di dunia buta huruf dan bergantung pada bahasa isyarat (WFD, 2003) dan di Indonesia bahasa Isyarat belum begitu massive digunakan sehingga mereka terhambat akses, baik itu tertulis maupun bahasa Isyarat.

Selain terhambat akses di dunia pendidikan, masyarakat tuli juga menghadapi banyak keterbatasan akses di kesehatan, pelatihan kerja yang layak, dan lain sebagainya (ILO, 2006).

Berdasarkan kondisi tersebut dan kondisi  tersebut, Ahmad Yusuf mendirikan Silang.id.  Ahmad Yusuf memiliki tanggung jawab sebagai anak yang memiliki keluarga Tuli untuk terlibat lebih dalam untuk masyarakat Tuli agar dapat membantu untuk menjembatani masyarakat Tuli dalam menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan mereka.

Secara historis, awal mula kegiatan ini adalah komunitas dengan nama Youth For Diffable (YFD), niat awal dari gerakan ini adalah karena keluarga dari pendiri Silang.id tersbut adalah anak dari orang tua Tuli atau disebut CODA (Children of Deaf Adult) yang ingin masuk ke dunia Tuli dan berkontribusi untuk memberikan akses kepada Ibu, kakak, beberapa bibi dan beberapa sepupunya yang Tuli.

Setelah komunitas berjalan selama 2-3 tahun mulai dari 2014 hingga 2016, kemudian tahun 2017 mencoba merubah dari komunitas menjadi startup business, namun pada saat itu gagal karena banyak tim yang keluar.

Lalu pada tahun 2019, Ahmad Yusuf  memulai kembali dengan konsep startup, silang.id. Akhirnya dapat berdiri hingga sekarang, yang pada tahun 2020 sudah tercatat sebagai PT dengan nama PT Inovasi Digital Inklusi.

Dalam mengembangkan Silang.id, tentu tidak sedikit tantang yang dihadapi oleh foundernya tersebut.  Sebagaimana para pejuang difable untuk membantu kawan yang memiliki keterbatasan, platform edukasi yang sejak awalnya didirikan dalam bentuk komunitas ini memiliki berbagai tantangan.  

Misalnya, pada tahun 2014, Komunitas Youth For Diffable dirintis dengan beberapa pengurus. Karena berbentuk komunitas sehingga tantangannya adalah komitmen pengurus dan program yang dilakukan sangat terbatas, dengan kegiatan belajar Bisindo dan kegiatan mengajar untuk anak-anak bekebutuhan khusus.

Komunitas mengalami kevakuman, salah satunya adalah masalah komitman dari para pengurus. Akhirnya dicoba dibuat konsep baru melalui pendekatan bisnis startup lewat gerakan 1.000 startup yang akhirnya menjadi bentuk platform edukasi bernama silang.id.

Dari sini mulai bertumbuh, tim mulai menajdi solid. Pada tahun 2020 Silang.id mulai mendapatkan  pendanaan dari program inkubasi Indigio Creative Nation dan mulai dilegalkan menjadi sebuah PT dengan nama PT Inovasi Digital Inklusi.

Tantangan selanjutnya yang dihadapi adalah di tahap product validation karena cukup memiliki tantangan menyatukan member Tuli dan dengar agar dapat bekerja bersama, mulai dari setiap rapat membutuhkan rapat sehingga kami harus membuat system khusus jadwal permintaan JBI (Juru Bicara Isyarat) di internal, yang kadang bentrok antar departemen dan JBI sangat terbatas. Selain juga banyak menimbulkan berbagai miss komunikasi antar member, muncul banyak kesalahpahaman dan lain sebagainya.

Sedari awal platform ini menyasar segmentasi di wilayah JABODETABEK, namun setelah mendapat penghargaan SATU Indonesia Awards 2022, banyak pengguna layanan dari berbagai daerah. Kemudian Ahmad Yusuf memperluas target kontribusi untuk seluruh wilayah Indonesia.

Ikuti tulisan menarik Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler