x

Sandiaga Uno dan Wakil Ketua Umum PPP Amir Uskara berjabat tangan di kantor DPP PPP, Jakarta, Rabu, 14 Juni 2023. Sandiaga Uno resmi gabung menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan telah mendapatkan kartu tanda anggota (KTA) dan jas partai berwarna hijau. TEMPO/M Taufan Rengganis

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 20 Juni 2023 06:29 WIB

Sandiaga Bakal Cawapres, Fulus yang Bicara?

Dari orang luar partai, mendadak Sandiaga Uno ditetapkan sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Cawapres PPP. Kekuatan finansial Sandi menjadi daya tawar tinggi di hadapan elite partai?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Sandiaga Uno boleh jadi mewakili fenomena kekuatan finansial sebagai jalan masuk ke dalam jantung kompetisi politik, khususnya dalam konteks pemilihan presiden. Setelah terkesan terkatung-katung nasibnya di Gerindra, rumah tinggal Sandiaga baru jelas betul belakangan ini setelah ia resmi menjadi warga PPP. Bahkan ia langsung memperoleh dua posisi strategis sekaligus di partai berlambang Ka’bah ini: sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu PPP dan calon wakil presiden yang akan ditawarkan kepada partai lain, khususnya PDI-P yang mengusung Ganjar Pranowo.

Sebagian orang memang memperoleh jalan tol untuk menjadi warga partai dan langsung menjadi calon, seperti putra dan menantu Pak Jokowi, bahkan langsung gol: keduanya menjadi walikota. Namun, Sandi digaet PPP bukan karena ia anak presiden, sebab memang bukan anak presiden, namun salah satu pertimbangan yang mendorong partai politik untuk menerima Sandi niscaya ialah pundi-pundi yang dimiliki pengusaha ini,

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apapun motif yang melatari kegigihan Sandi untuk maju dalam kompetisi pilpres, bersama capres pasangannya nanti, besarnya pundi-pundi merupakan faktor yang signifikan, sebab kompetisi piplres membutuhkan dana sangat besar, Penerimaan PPP dengan memberi dua posisi yang sangat vital bagi masa depan partai ini jelas menunjukkan kuatnya posisi tawar Sandi di hadapan elite partai. Maknanya pula, kesanggupan finansial Sandi ini sangat signifikan bagi PPP untuk menjalankan kegiatan organisasi demi meraih targetnya dalam pileg dan pilpres nanti. Jelas, tidak ada makan siang gratis.

Bila dibandingkan dengan kawannya, Erick Thohir, sejauh ini nasib Sandi relatif lebih jelas. Sementara itu, nasib Erick Thohir masih membutuhkan penegasan dari partai, walau sebenarnya ia memiliki bekal yang cukup selain finansial, yaitu ‘sepakbola’ dan media massa. Betapapun, sepak terjang Erick dengan merebut posisi Ketua Umum PSSI rasanya tidak lepas dari pertimbangan popularitas olahraga sepakbola di negeri ini. Jika ia mampu berbuat sesuatu untuk sepakbola Indonesia, ia mungkin berhitung akan memperoleh nilai tambah untuk melaju ke pilpres sebagai calon wapres. Selain itu, melalui kepemilikannya atas media massa, Erick memperoleh keuntungan dalam pemberitaan yang positif.

Tapi, dalam urusan finansial ini, boleh jadi Sandi lebih gila-gilaan—barangkali, ya—sehingga ia memperoleh tempat sangat strategis di PPP tanpa melalui mekanisme yang lazim dilewati oleh anggota partai. Bayangkan, dari orang luar partai Sandi langsung menjadi Ketua Bappilu dan bahkan calon wapres yang ditawarkan PPP untuk dipasangkan dengan capres partai lain, khususnya PDI-P. Media massa mengabarkan bahwa segera setelah ditetapkan sebagai cawapres PPP, Sandi berangkat ke Bali untuk menemui Ganjar Pranowo, capres yang diusung PDI-P, dan Ketua Umum Megawati.

Akankah Sandi berhasil meyakinkan Megawati, khususnya, sebagai figur yang mengambil kata putus dalam langkah politik PDI-P? Akankah Sandi menggunakan kekuatan finansialnya sebagai keunggulan (competitive advantage) untuk merebut hati Megawati agar mesin pilpres dapat segera beroperasi dengan gencar? Inilah yang ditunggu oleh banyak pihak, bukan saja karena banyak orang—termasuk elite politik lain—menanti siapa yang akan jadi pasangan Ganjar, tapi sekaligus banyak orang ingin melihat apakah fenomena Sandi merupakan wujud dari hegemoni finansial di dunia politik kita. Fenomena ini, di satu sisi, bisa menjadi pelajaran berharga sebab mengabaikan proses-proses yang harus dilalui oleh mayoritas kader partai agar mereka bisa menjadi calon partai yang diterjunkan dalam kompetisi politik, apalagi yang sebesar pilpres. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler