Andi Wijaya - Pengangon Bebek yang Membangun Prodia

Kamis, 22 Juni 2023 12:41 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Andi Wijaya adalah seorang akademisi dan bisnisman yang tangguh. Sebagai akademisi ia dikenal di Indonesia dan dunia. Sebagai bisnisman ia membangun Prodia dari klinik diagnostik kecil di Solo menjadi perusahaan kelas dunia.

Judul: Impian Besar Si Pengangon Bebek

Penulis: Eka Budianta

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: xxii + 126

ISBN: 978-602-424-101-8

 

Apakah seorang pengangon (gembala) bebek bisa mendirikan sebuah usaha yang visioner dan berkelas dunia? Bisa. Andi Wijaya telah membuktikan bahwa si pengangon bebek berhasil membangun industri pelayanan laboratorium klinik kelas dunia. Bukan itu saja, Sang Pengangon Bebek ini juga adalah seorang akademisi unggul yang disegani koleganya.

Seorang pembelajar bisa belajar dari apa saja. Bahkan belajar dari sekawanan bebek. Andi Wijaya belajar tentang kepemimpinan saat ia berusia 11 tahun dari mengamati sekawanan bebek yang di angon-nya (gembalakannya) (hal. 56). Kemampuan untuk mengamati dan belajar dari apa saja inilah salah satu modal kuat yang membuat Andi Wijaya berhasil dalam karirnya.

Eka Budianta mengisahkan liku-liku karir Andi Wijaya dalam buku ini. Masa kecil Andi Wijaya hanya sekadarnya disinggung. Meski hanya sekelumit, tetapi Eka Budianta berhasil memilih hal yang terpenting, yaitu masa saat Andi Wijaya masih kecil sudah menunjukkan kualitas sebagai pembelajar. Saat dia masih berusia 11 tahun dan melakukan pengamatan kepada beberapa ekor bebek yang digembalakannya. Dari cara bebek berjalan dalam rombongan, ia belajar tentang kepemimpinan.

Masa mudanya hanya disinggung saat Andi Wijaya memilih sekolah. Pilihan ini pun sangat tepat. Sebab keberaniannya memilih jurusan yang tidak populer ini menunjukkan kualitas Andi Wijaya sebagai orang yang visioner. Pilihan untuk masuk ke Jurusan Farmasi dilakukan dengan penuh pertimbangan (hal. xx). Andi diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan di Fakultas Farmasi dan Kimia Teknik. Namun Andi memilih Jurusan Farmasi ITB. Alasannya? Indonesia belum banyak memiliki ahli farmasi, sementara dokter dan calon dokter sudah banyak.

Andi Wijaya mempunyai dua karir yang sama cemerlangnya. Di Bagian 4 buku ini, Eka Budianta menjelaskan bagaimana kecendekiawanan Andi Wijaya. Setelah lulus dari ITB ia mengabdikan diri sebagai akademisi. Ia adalah penganjur berdirinya program studi kimia klinik. Sebab ia merasa Indonesia sangat membutuhkan orang-orang yang paham tentang ilmu ini. Namun baru tahun 2004 Indonesia memiliki jurusan ini. Andi Wijaya dipercaya sebagai Ketua Progran Studi Kimia Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar (hal. 43). Andi Wijaya adalah pelopor hipotesis Common Soil (hal. 12). Common soil hypothesis in the pathogenesis of vascular diseases adalah pendapat bahwa penyakit diabetes, jantung coroner dan hipertensi mempunyai lahan yang sama. Sayang ia tidak bisa menyandang gelar profesor karena latar belakang studi akademiknya bukan dari Kedokteran (hal. 76).

Selain sebagai akademisi, Andi juga mendirikan journal ilmiah di perusahaannya, Prodia. Journal yang diasuhnya ini mendapat pengakuan di dalam negeri dan di luar negeri. Andi juga sangat rajin untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Ia membagikan pengetahuannya di internal Prodia dan di forum-forum ilmiah di berbagai perguruan tinggi dan kegiatan profesi.

Karir keduanya adalah sebagai seorang pengusaha yang visioner. Pada tahun 1973, Andi Wijaya dengan 3 temannya mendirikan sebuah laboratorium klinik kecil di Pasar Nongko, Solo. Klinik yang dibangun dengan modal awal Rp. 180.000 itu dalam empat decade telah menjadi 266 pusat pelayanan (hal. 2). Bahkan Prodia pernah punya cabang di Los Angeles, Amerika Serikat.

Prodia dibangun dengan mimpi besar. Prodia harus menjadi laboratorium klinik terbaik – the world class clinical laboratory (hal. 3). Untuk itu Andi membangun mimpi bersama semua staf yang bekerja di Prodia. Ia tak segan-segan membiayai sekolah stafnya bahkan sampai ke jenjang doctoral. Prodia bukan sekadar laobratorium klinik yang memberi pelayanan berbagai tes kesehatan. Tetapi Prodia adalah wadah bagi masyarakat ilmiah yang terus-menerus mempelajari berbagai cara untuk mengetahui cara memberikan dasar diagnosis yang akurat dan cepat. Mimpi Andi adalah menemukan cara paling cepat dan paling akurat untuk menunjang diagnosis.

Untuk menunjang misinya tersebut, Andi Wijaya mengirim stafnya untuk belajar ke berbagai universitas. Andi Wijaya sangat getol membiayai stafnya untuk mendapatkan pendidikan tinggi supaya bisa mendapatkan ilmu terkini di dunia kesehatan dan manajemen. Andi Wijaya sangat peduli kepada pengembangan next generation medicine. Mereka inilah yang akan berperan besar dalam pengembangan sektor kesehatan di masa depan.

Pengembangan Prodia menjadi pusat layanan diagnosis klinik modern dilakukan dengan sangat serius. Andi Wijaya mendirikan PT Prodia Diagnostic Line yang didukung dengan mesin-mesin canggih untuk memproduksi berbagai reagan yang diperlukan untuk melakukan berbagai tes (hal. 102). Andi juga mendirikan Prodia the CRO (Contract Research Organizations) yang menangani kontrak kerjasama dengan berbagai perusahaan dan negara, dan Prodia Occupational Health Institute (POHI). POHI adalah bisnis Prodia yang menyasar pada layanan kesehatan bagi karyawan di perusahaan-perusahaan.

Andi Wijaya bukan sekadar berbisnis untuk mencari untung. Ia adalah seorang ilmuwan yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan. Ia mengembangkan Prodia bukan hanya untuk memberi layanan tes klinik. Tapi ia membangun Prodia untuk ikut serta dalam riset-riset bidang kesehatan yang belum bisa memberi keuntungan saat ini. Ia mendirikan Prodia Stem Cel Indonesial. Potensi pengobatan dengan steem cell (sel punca) memang sangat cerah. Namun saat ini, pengembangan pengobatan dengan sel punca masih banyak memerlukan pengembangan dan investasi. Artinya masuk ke bidang ini berarti perlu pengeluaran yang super besar dan belum ada pemasukan dalam waktu dekat.

Andi Wijaya adalah seorang pembelajar yang mempunyai mimpi besar. Anak pedagang tembakau asal Klaten ini mampu mewujudkan mimpinya menjadi sebuah kenyataan karena ia bisa belajar dari apa saja, termasuk belajar dari bebek. Andi Wijaya adalah seorang pekerja keras dan pekerja tekun serta penuh perhitungan, sehingga langkah-langkahnya di beidang akademik dan di dunia bisnis berhasil baik. 759.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua