x

Iklan

Ariyo Rizky Valentino

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 September 2022

Selasa, 27 Juni 2023 06:59 WIB

Membangun Gerakan Literasi Anak Pasca Konflik di Desa Singkona, Poso, Sulawesi Tengah

Gerakan literasi anak pasca Konflik adalah program yang dibangun Imbran untuk meminimalisir isu kesenjangan dalam akses pendidikan. Imbran memberikan bahan bacaan untuk anak-anak di desanya yang masih minim akan bacaan dengan harapan agar anak-anak di desanya bisa menikmati buku membaca yang sebelumnya belum ada sama sekali. Kegiatan yang dilakukan Imbran ini juga terdaftar sebagai penerima apresiasi Satu Indonesia Award.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pondok Baca nDaya adalah nama tempat yang dibangun oleh Imbran Batelemba Bonde di desa Singkona, Kota Poso. Imbran menyediakan bacaan untuk anak-anak desa yang kesulitan untuk memiliki akses bacaan.

Namun, seiring berjalannya waktu, Pondok baca ini, selain menyiapkan bahan bacaan juga melaksanakan kegiatan seperti nonton bersama, kelas belajar membaca, serta kelas Bahasa Inggris.

Kelas Bahasa Inggris yang di adakan oleh Imbran digratiskan. Namun, seiring berjalannya waktu, Imbran mengambil inisiatif untuk memungut biaya partisipasi kepada beberapa anak dengan suatu alasan, salah satunya adalah beberapa masyarakat memiliki privilege untuk mengakses pendidikan, hal inilah yang mendorong Imbran untuk melakukan subsidi silang, dimana anak-anak yang yang datang dari kelompok ekonomi menengah ke atas membayar biaya partisipasi untuk menutupi anak- anak yang kurang mampu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Awal Terbentuknya Gerakan Literasi Anak Pasca Konflik

Sejak kecil, Imbran selalu beranggapan bahwa buku adalah sebuah kemewahan. Tidak semua orang memiliki akses untuk membaca buku.

Berawal dari kegemarannya membaca dan membeli buku, Imbran memutuskan untuk menjadikan koleksi pribadinya sebagai bacaan umum yang dapat diakses semua orang.

Melihat niat baik Imbran, teman-temannya pun ikut menyumbang beberapa buku untuk dijadikan sebagai bacaan umum di pondok baca miliknya, ini juga memberi motivasi bagi Imbran untuk terus melangkah maju.

Pada suatu waktu, Imbran mengalami hal yang membuka lebar-lebar matanya. Seorang anak SD datang kepadanya dan Imbran memberikan buku bacaan untuknya. Setelah anak itu membolak-balik bukunya, anak itu berkata kepada Imbran "Ajari saya membaca, saya belum bisa membaca." Sejak saat itu, Imbran mengajari anak itu membaca. Dan dari situlah cikal-bakal Imbran mendirikan beberapa program, salah satunya adalah Gerakan Literasi Anak Pasca Konflik.

Pendidikan adalah hak seluruh umat manusia. Namun, dalam praktikknya, pendidikan masih tidak bisa diakses oleh semua orang.

Imbran banyak bergaul dengan orang-orang yang well-informed dengan isu-isu pendidikan. Hal inilah yang mejadikan Imbran memiliki kesempatan mengenyam

pendidikan tinggi dengan menggunakan beasiswa.

Berdasarkan pengalamannya, Imbran pada akhirnya setuju bahwa masalah ini juga termasuk dalam kategori structural violence. Imbran merasa perlu untuk menolong generasi berikutnya untuk memperoleh akses yang lebih baik.

 

Rintangan Yang Dihadapi Imbran Saat Mendirikan Gerakan Literasi Anak Pasca Konflik

Dibalik kisah berhasil setiap individu maupun kelompok, pasti ada yang namanya rintangan untuk menuju keberhasilan itu sendiri. Begitu juga dengan Imbran, ia mengalami beberapa rintangan yang harus dihadapi untuk memetik hasilnya.

Rintangan pertama Imbran adalah kurangnya biaya untuk menjalankan semua kegiatan briliannya. Ada kalanya Imbran terpaksa meminta bantuan kepada teman-temannya untuk mendukung kegiatan yang sedang ia jalankan.

Selain biaya, Imbran menyadari bahwa melakukan aksi sosial ternyata bukan hal yang mudah. Kedua orangtua Imbran bukanlah dari keluarga yang mampu. Ada kalanya juga Imbran di desak oleh keluarga dan bahkan tetangga untuk mencari pekerjaan tetap saja, ketimbang hanya bertahan dengan Pondok Baca.

Rintangan lain yang sempat dilalui Imbran adalah ketika ia terpaksa harus meninggalkan pondok baca selama setahun. Alhasil, pondok baca berjalan dengan kurang maksimal karena keterbatasan tenaga volunteer.

 

Literasi Anak Pasca Konflik Menjawab Permasalahan Trauma Anak-anak Poso

Dengan berdirinya Pondok Baca Rodo nDaya, anak-anak mendapatkan akses buku bacaan. Imbran paham betul bahwa anak-anak Poso juga memiliki trauma transmisi secara intergenerasi. Belum lagi dengan narasi yang diceritakan oleh orang dewasa tentang perisitiwa konflik masa lalu . Ini semakin menjadikan trauma dan rasa saling curiga antar kelompok semakin meninggi. 

Anak-anak butuh narasi dan imajinasi baru. Bukulah salah satu media yang dapat menghadirkan narasi baru tersebut. Informasi memang sangat penting dan layak untuk didapatkan oleh anak-anak Poso.

Selain untuk menghilangkan rasa trauma anak-anak, beberapa dari mereka juga mengikuti kelas membaca, kelas Bahasa Inggris, serta bimbingan untuk mempersiapkan berkas melamar beasiswa seperti CV, Purpose Statement, Essay, Rekomendasi, dll.

Imbran merasa khawatir dengan masa kini, disaat beasiswa tersedia dimana-mana sedangkan untuk akses menuju hal tersebut tidak semua anak mendapat informasi dengan baik. Hal ini juga mendorong Imbran berinisiatif menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Poso melakukan sosialisasi tentang cara memperoleh informasi, mempersiapkan berkas dan kemudian mengirimkannya.

 

Untuk saat ini, Pondok Baca Rodo nDaya sudah menjangkau diluar Kota Poso. Dan anak-anak yang berasal dari luar atau dalam Poso merasa mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini.

Imbran juga mendaftarkan program yang dijalankannya ini melalui Satu Indonesia Award. Jika kalian adalah penggagas program pendidikan seperti Imbran, anda bisa mendaftarkan program anda disini.

Ikuti tulisan menarik Ariyo Rizky Valentino lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu