x

Iklan

Puspo Lolailik Suprapto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Juli 2023

Jumat, 14 Juli 2023 08:12 WIB

Animal Farm, Propaganda dan Korupsi Kekuasaan

Novel ini memberi peringatan tentang bahaya propaganda dan korupsi kekuasaan. Novel ini mengajak pembaca mempertanyakan informasi yang disajikan pemimpin dan melihat hal itu melampaui retorika yang menyesatkan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Novel populer Animal Farm karya George Orwell ini menampilkan sebuah kritik sosial terhadap propaganda dan korupsi kekuasaan. Dalam novel ini, kita akan melihat sekelompok hewan di sebuah peternakan yang memberontak melawan manusia dan mendirikan tatanan masyarakat baru yang dijalankan oleh hewan sendiri.

Cerita dibuka oleh hewan-hewan di Peternakan Manor menyadari bahwa mereka hidup dalam kondisi yang buruk di tangan manusia. Mereka bekerja untuk mendapatkan sedikit makanan dan dibunuh ketika tidak berguna lagi. Lalu, hasil kerja mereka, bahkan keturunan mereka sendiri, diambil dari mereka. Mereka sadar penyebab dari kondisi yang suram ini karena manusia yang suka mengkonsumsi tanpa menghasilkan apapun.

Mereka pun bersatu dan bersiap untuk melakukan pemberontakan untuk menggulingkan umat manusia dan mengambil alih kepemimpinan peternakan tersebut. Visi awal mereka ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan untuk semua hewan dan bekerja bersama untuk kepentingan bersama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, seiring berjalannya cerita, kita akan melihat pemimpin mereka, yaitu Babi Hutan Napoleon dan sekutunya mulai memperoleh kekuasaan yang lebih besar dan mulai meliberalisasikan prinsip-prinsip revolusi. Mereka menggunakan propaganda untuk memanipulasi dan mengendalikan hewan-hewan lainnya.

Seperti, dalam baris terakhir dari prinsip Animalisme murni yang berbunyi, “Semua hewan setara”, mereka ubah menjadi “Semua hewan setara, tetapi ada beberapa hewan yang lebih setara daripada yang lain". Perubahan prinsip ini adalah cara pemimpin korup menggunakan retorika yang manipulatif untuk membenarkan keunggulan mereka sendiri.

Selain itu, pemimpin-pemimpin ini juga memperkuat kedudukan mereka dengan mengendalikan informasi serta mengubah sejarah. Mereka tidak segan merevisi dan mengubah tujuan awal revolusi, hingga menghapus ingatan akan masa lalu yang sulit atau tidak menguntungkan bagi mereka. Pemimpin-pemimpin ini menggunakan propaganda untuk membentuk persepsi kolektif dan mempertahankan kekuasaan mereka.

Novel ini menggambarkan bahwa korupsi kekuasaan dan manipulasi propaganda sering terjadi dalam sistem politik dan sosial. Penulis menggunakan hewan sebagai metafora untuk menyampaikan pesan tersebut secara alegoris. Dalam cerita ini, kita dapat melihat bagaimana ambisi dan nafsu kekuasaan dapat merusak idealisme revolusi serta memperkuat ketidaksetaraan yang semula ingin dihapuskan.

Secara keseluruhan, Animal Farm memberi sebuah peringatan pada kita tentang bahaya propaganda dan korupsi kekuasaan. Novel ini mengajak kita untuk mempertanyakan informasi yang disajikan oleh pemimpin dan melihat melampaui retorika yang menyesatkan.

Ikuti tulisan menarik Puspo Lolailik Suprapto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu