x

Film Tilik produksi Ravacana Films. Foto: Twitter Ravacana Films.

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Rabu, 9 Agustus 2023 19:52 WIB

Apakah yang Kita Lihat di Film Sama Seperti di Dunia Nyata?

Apakah jika seseorang yang gampang menangis merupakan seorang yang cengeng? Apakah orang yang gampang tertawa merupakan orang yang memiliki selera humor yang tinggi? Dan, apakah orang yang terlihat judes di film, demikian juga di kehidupan nyata? Semua tidak kelihatan seperti yang kita lihat. Apalagi jika itu adalah orang yang tidak dikenal.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dilan terlihat kesal dan marah dengan gurunya yang ditunjukkan dari raut wajahnya. Milea juga terlihat senang jika berada di dekat sang tokoh utama. Barbie juga sangat ekspresif saat menunjukkan emosinya. Ken juga selalu tersenyum saat ingin berbicara dengan sang pujaannya. Tapi, pernahkah tersirat di benak atau di pikiran anda, sesuatu yang bisa jadi sangat kelihatan, namun terlewatkan oleh kita? Pernahkah anda berpikir, apakah memang seperti itu?

Anda kesal dengan seseorang, anda bersimpati kepadanya, atau anda senang dengan seseorang, apakah anda mengeluarkan ekspresi yang sesuai dan pada umumnya berhubungan dengan emosi-emosi tersebut. Jika anda marah, kening berkerut, mata yang semakin tajam, dan bahu yang sedikit naik. Bagaimana jika sedih? Alis anda yang terpotong akan naik dan bagian pinggirnya masing-masing akan turun, mulut cemberut, dan mata berlinang. Anda paham maksud saya, apa yang kita rasakan akan muncul di wajah kita seperti emosi yang kita lihat ataupun baca di keseharian kita. Namun, apakah betul begitu?

Bayangkanlah anda sebagai pewawancara di sebuah perusahaan ternama. Anda merupakan rintangan terakhir bagi para pekerja yang ingin meningkatkan kualitas dan taraf kehidupannya. Anda pertama-tama dihadapkan pada calon pegawai yang sangat terlihat percaya diri. Dia menatap mata anda dan tidak melakukan gerakan-gerakan tambahan apa pun, santai dan kalem. Namun, CV sang pelamar tidak terlalu menarik, IP kuliahnya pas-pasan, tidak ada pengalam organisasi yang terlihat berdampak, bahkan dia sempat tidak kuliah karena belum diterima di PTN mana pun selama setahun. Tapi, anda terus melanjutkan interview. Dia menjawab dengan cepat dan lantang. Keraguan sebelumnya sempat hilang saat anda berinteraksi dengannya, sehingga anda memberikan lampu hijau kepadanya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Calon pekerja kedua lalu masuk. Impresi pertama anda sudah kurang, dia membuka pintu dan menutupnya kembali namun dengan membelakangi pewawancara. Tangan bajunya juga digulung. Impresi pertama anda semakin buruk, namun saat dia menunjukkan CV, anda langsung terkejut. Beasiswa keluar negeri, IP 4 bulat, dan banyak pengalaman organisasi yang bekerja sama dengan institusi-institusi terkenal. Keraguan anda sempat hilang saat membaca track record orang ini. Saat berbicara, dia terlihat sedikit gugup dan sering mengalihkan tatapan matanya. Hal ini tentu saja menjadi nilai minus bagi anda, namun dengan bantuan pengalaman dan perolehannya selama ini anda akhirnya memberikannya lampu hijau.

 

Beberapa bulan saat di lingkungan kerja, anda langsung dikejutkan dengan keputusan anda sebelumnya. Pria yang anda anggap sangat percaya diri dan sigap ternyata seorang pekerja tanpa keahlian sosial dan tidak pengertian kepada sesama. Susah diajak bekerja tim dan tidak pernah mendengarkan pendapat rekan-rekannya. Anda kemudian berpaling dan melihat si gugup dan kurang rapi saat interview ternyata sangat cepat beradaptasi, banyak teman, dan akrab dengan atasannya. Dia juga sering ditunjuk menjadi pemimpin tim dan sering menjadi andalan perusahaan. Anda kemudian sadar di momen itu, ternyata tidak semudah itu.

 

Benar, kehidupan di film atau semua emosi yang kita sesuaikan dengan apa yang kita rasakan selama ini tidaklah selalu beriringan. Terkadang orang yang terlihat percaya diri hanya terlihat seperti itu saat dia menganggapnya penting. Orang yang terlihat gugup ternyata hanya gugup saat berbicara di depan tiga orang pewawancara dan merasa asing saat melihat outfit pesaingnya yang kebetulan orang dari kota besar, sedangkan dia dari kota kecil yang membuatnya menjadi gugup. Oleh karena itu, menilai orang sangatlah sulit, apalagi jika hanya melihat dari kulit luarnya saja. Kita memerlukan data yang objektif, itulah CV di dalam kasus ini. Tidak semua yang mereka tampakkan akan sama yang berada di dalamnya. Tidak seperti di film-film, mimik wajah sesuai dengan emosi yang dirasakannya. Terkadang jika kita sedih ataupun marah, kita akan diam tanpa. Ada yang merasa senang, dia hanya senyum kecil tanpa berlompat-lompat atau senyum lebar seperti di layar kaca. Menilai orang tidaklah segampang itu, apalagi orang yang tidak dikenal. Janganlah menilai dari sampul bukunya saja. Pepatah itu juga dapat kita terapkan di bacaan ini.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini