x

Ilustrasi topeng. Gerd Altmann dari Pixabay.com

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Minggu, 13 Agustus 2023 10:27 WIB

Bias, Kecacatan dalam Pembuatan Keputusan oleh Manusia

Bias adalah keberpihakan berbentuk sebuah kecenderungan dalam memutuskan sesuatu atau dalam menentang sesuatu. Inilah yang sering bercampur aduk dalam pembuatan keputusan oleh manusia, bahkan di situasi penting sekalipun.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Suatu hari di sebuah platform media sosial. “Ih, sayang sekali yah, padahal pelakunya ganteng banget. Pasti dia mengalami tekanan di rumahnya sehingga berbuat seperti itu,” ujar seseorang dari kolom komentar. “Saya yakin dia pelakunya, dilihat dari mukanya saja sudah dapat dibayangkan melakukan perbuatan seperti itu,” ujar salah seorang lagi.

Beberapa hari kemudian, si tampan dibebaskan sedangkan si wajah yang kurang beruntung akhirnya ditahan. Setelah dua tahun berjalan, si wajah yang kurang beruntung terbukti tidak bersalah, sedangkan si tampan ditangkap kembali setelah melakukan kejahatan yang sama.

Suatu hari di sebuah wawancara kerja. “Saya yakin dengan anak yang barusan, dia terlihat rapi dan percaya diri. Dia pasti akan menjadi karyawan yang hebat walaupun CV pria itu tidak terlalu menarik. Pria yang satu lagi, menurut saya tidak, meskipun CV nya sangat menarik, dia terlihat gugup memasuki pintu ruangan dan terkadang memainkan jari-jarinya saat berbicara. Saya pilih pria yang pertama,” ujar seorang pewawancara. Beberapa tahun kemudian, pria yang mereka terima bekerja biasa-biasa saja bahkan sulit untuk bekerja tim, sedangkan pria yang ditolak terlihat semakin rapi dan memikat mata di perusahaan sebelah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dari dua cerita itu, apakah anda merasakan suatu keanehan atau kejanggalan? Dia tampan, pasti memiliki sebuah alasan. Dia terlihat percaya diri, pasti akan sukses bekerja. Tentu saja, seseorang yang ingin menilai orang yang baru ditemui atau baru dikenal pasti melihat tampilan fisiknya terlebih dahulu. Itu merupakan sifat manusia, tidak dapat dipungkiri lagi. Kesan pertama sangat menentukan penilaian kita terhadap seseorang, benar bukan? Ternyata perlakuan seperti itu tidak selalu benar jika diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita melihat cerita pada paragraf kedua, tentu saja penampilan kita saat wawancara kerja sangat memengaruhi tingkat kesuksesan kita, namun bagaimana dengan cerita pada paragraf pertama? Apakah betul seperti itu? “Dilihat dari penampilannya, dia tidak mungkin melakukannya,”, ujar seseorang. Benarkah seperti itu? Apakah penampilan seseorang mutlak menentukan sifatnya? Orang yang menarik dan cakap biasanya memiliki kepribadian yang baik dan cakap juga. Orang yang kurang menarik memiliki kepribadian yang kurang menarik juga. Jika benar seperti itu, semua orang ganteng dan cantik akan sukses dalam dunia ini dan orang yang kurang beruntung dengan penampilannya tidak akan sukses dalam kehidupan. Betul kah? Ternyata tidak seperti itu.

Sekarang bayangkanlah jika anda menjadi seorang pewawancara di lembaga keuangan tertentu, tersisa dua kandidat yang memiliki nilai yang sama, CV yang sama-sama bagus, tanpa ada perbedaan yang mencolok di resume dan jawabannya saat diwawancarai. Pria pertama terlihat sangat tampan dan percaya diri. Pria kedua terlihat biasa-biasa saja. Siapakah yang anda pilih? Jika posisi yang tersedia merupakan pekerjaan yang sering berinteraksi dengan nasabah, anda tentu saja memilih pria yang lebih tampan. Bagaimana jika posisi yang ditawarkan tidak berhubungan dengan itu? Siapakah yang anda pilih? Pria tampan dengan lulusan dari universitas ternama atau pria biasa dengan banyak pengalaman organisasi. Saya tanya sekali lagi, siapakah yang anda pilih?

Sebelum menjawabnya, jika anda pertama kali bertemu dengan seseorang, apakah yang pertama kali anda lihat? Tentu saja penampilannya. Pertama, jika penampilannya enak dipandang, wangi, dan menawan, anda akan lebih nyaman dan lebih senang bertemu dengannya. Jika tujuan anda bertemu merupakan sebuah negosiasi atau persetujuan, maka berhati-hatilah. Perasaan nyaman dan senang yang anda dapatkan ketika melihatnya akan membuat anda jatuh ke dalam suatu kecenderungan yang membahayakan. Saya biasa menyebutnya The Favorable Side. Anda akan cenderung menyetujui dan mempercayai perkataan dari orang tersebut. Pada kasus ini, tawaran yang akan anda ajukan tidak akan dipilih karena anda sudah memiliki kecenderungan untuk menyetujui perkatannya. Sekarang coba bayangkan jika orang yang seperti tadi datang menawarkan sesuatu kepada anda yang merupakan sebuah penipuan? Tentu saja anda akan tertipu.

Semua itu yang kita sebut sebagai “bias”. Bias adalah sesuatu yang membuat manusia mengeluarkan keputusan yang cacat. Anda yang sudah percaya diri untuk mengajukan pendapat anda melihat lawan bicara yang menawan, membuat keputusan anda goyah dan akan cenderung mengikuti pernyatannya. Para wanita cenderung memihak seorang pria yang lebih menarik, dalam situasi apa pun yang mereka baru tahu atau bahkan sudah tahu. Pewawancara yang terkesan akan calon karyawan yang percaya diri menjawab pertanyaannya akan cenderung memilihnya daripada calon yang biasa-biasa saja dengan data objektif yang lebih baik. Sekali lagi saya katakan, bias merupakan kecacatan dalam pembuatan keputusan manusia.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan