x

Iklan

BungRam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 21 Agustus 2023 20:31 WIB

Pendidikan Literasi Masa Kini dan Kehadiran AI

Masyarakat masih menganggap aktivitas membaca hanyalah sebatas kegiatan menghabiskan waktu, bukan untuk mengisi waktu dengan sengaja. Artinya aktivitas membaca belum menjadi kebiasaan, akan tetapi lebih kepada kegiatan iseng semata.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Problematika literasi di sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama di kalangan murid-murid sekolah - kebetulan saya telah lama berkecimpung sebagai praktisi di dunia pendidikan – menurut saya sangat perlu diperhatikan oleh berbagai kalangan.

Sebagai pelatih / trainer guru dan konsultan pendidikan, saya banyak berdialog dengan para guru sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Di antara hal yang membuat saya agak terkejut adalah, keluhan para guru yang rata-rata sama tentang kemampuan literasi murid-murid mereka.

Indikator masalah literasi di berbagai jenjang tentu berbeda. Pada murid sekolah dasar, umumnya keluhan seputar ketidakmampuan membaca, ketidak mampuan menulis dengan baik dan lemahnya daya baca.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kemudian di jenjang sekolah menengah, masalah literasi diceritakan pada kondisi lemahnya daya baca para murid. Mereka amat sulit memahami wacana dalam teks pembelajaran secara baik. Juga mereka masih banyak mengalami kesulitan untuk menuangkan gagasan atau pikirannya dalam bentuk tulisan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2011 menempatkan Indonesia dalam kategori rendah.  PIRLS melakukan kajian terhadap 45 negara maju dan berkembang dalam bidang membaca pada anak-anak kelas IV sekolah dasar di seluruh dunia di bawah koordinasi The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) dan memperoleh hasil yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke 42.

Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2012, Indonesia menempati urutan 71 dari 72 negara. Sedangkan PISA tahun 2015 menempatkan Indonesia pada peringkat 64 dari 72 negara.

Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Hasil BPS tersebut menyatakan bahwa hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca, sedangkan yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%.

Penting untuk digarisbawahi di sini, bahwa masyarakat hingga saat ini masih menganggap aktivitas membaca hanyalah sebatas kegiatan untuk menghabiskan waktu (to kill time), bukan kegiatan untuk mengisi waktu (to full time) dengan sengaja. Artinya aktivitas membaca belum menjadi kebiasaan (habbit) akan tetapi lebih kepada kegiatan ’iseng’ semata.

Lebih ironi, aktifitas membaca di sekolah adalah kegiatan khusus dalam bidang pelajaran tertentu. Bukan menjadi sebuah budaya warga sekolah atau lebih khusus lagi budaya guru.

Jadi perkembangan konsep pendidikan literasi di kebanyakan sekolah-sekolah kita adalah aktifitas baca tulis. Dan pada saat kemampuan baca tulis tersebut belum maksimal, maka problem literasi di sekolah muncul.

Pada masa kini, jika kita ingin membicarakan literasi, justru perkembangannya sudah melampaui hampir sebagian besar pandangan para guru dan orang tua di sekolah atau di rumah. Literasi mencakup berbagai keterampilan di luar kemampuan baca tulis. Salah satunya adalah literasi digital.

Transformasi kemampuan literasi dalam perkembangan teknologi digital


Memasuki era digital, kemampun literasi kini mengalami perkembangan yang lebih kompleks lagi. UNESCO sebelum ini telah mengembangkan definisi literasi kepada definisi:

Literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, mencipta, berkomunikasi, dan berhitung menggunakan bahan cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai konteks. Literasi melibatkan rangkaian pembelajaran yang memungkinkan individu untuk mencapai tujuannya, mengembangkan pengetahuan dan potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam komunitas dan masyarakat yang lebih luas (UNESCO 2005).

Dalam beberapa kesempatan ketika saya memberi pelatihan untuk guru, perbincangan tentang literasi masih terkonsentrasi kepada permasalahan baca tulis teks buku pelajaran. Di sisi lain, teknologi digital perlahan memberikan “ruang khusus” untuk anak-anak berinteraksi secara langsung, dan saya katakan mereka sesungguhnya sudah melangkah kepada permasalahan definisi literasi di zamannya, di wilayah yang akses alat komunikasi digital menjadi mudah, bukan definisi literasi zaman kakek nenek atau orang tua guru mereka. Bukan pula kondisi di suatu negara dengan kondisi sosial ekonomi jauh di bawah rata-rata.

Merujuk kepada informasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Kemudian direktur Pelayanan Informasi Internasional Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring mengatakan,  situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Namun fakta lain menunjukkan bahwa pada tahun 2020 lalu, Micosoft melalui survei Digital Civility Index (DCI) menyebutkan sejumlah negara memiliki tingkat kesopanan rendah terutama dalam bermedia sosial. Indoensia berada di urutan ke-4 negara paling tidak beradab dalam bermedia sosial. Indonesia mendapatkan skor DCI sama seperti Meksiko yaitu 76 poin. Angka tersebut membuat Indonesia sebagai negara paling tidak sopan di Asia Tenggara.

Mengapa seperti itu?

Itu artinya kemampuan dalam mengakses atau menggunakan media digital termasuk media sosial tidak menunjukkan kemampuan dalam berinteraksi secara baik, bertanggungjawab dan memahami (melek) komunikasi digital.

Di situ saya melihat ada kesenjangan antara kemampuan baca tulis dan kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan dalam transformasi kemampuan literasi di era teknologi digital ini.

Pendidikan literasi digital dan kehadiran AI

Ketika kecerdasan buatan – Artificial Intelligence (AI) dikenal banyak dalam berbagai platform digital. Diskursus tentang literasi jadi meluas dan bertambah kompleks.

Kecerdasan buatan (AI) pertama kali didefinisikan sebagai "ilmu dan teknik pembuatan mesin cerdas" pada tahun 1956 (McCarthy, 2007). Selama beberapa dekade abad ke-20, AI telah berkembang secara progresif menjadi mesin cerdas dan algoritme yang dapat bernalar dan beradaptasi berdasarkan seperangkat aturan dan lingkungan yang meniru kecerdasan manusia (McCarthy, 2007). Wang (2019) memperluas definisi AI yang dapat melakukan tugas-tugas kognitif terutama pembelajaran dan pemecahan masalah dengan inovasi teknologi yang menarik seperti pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa alami, dan jaringan saraf (Zawacki-Richter, Marín, Bond, & Gouverneur, 2019) .

UNESCO mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital untuk ketenagakerjaan, pekerjaan yang layak, dan kewirausahaan. Ini mencakup keterampilan seperti literasi komputer, literasi TIK, literasi informasi dan literasi media yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, dan khususnya kaum muda, untuk mengadopsi pola pikir kritis saat terlibat dengan teknologi informasi dan digital, dan untuk membangun ketahanan mereka dalam menghadapi disinformasi, ujaran kebencian dan ekstremisme kekerasan.

Maka melek digital adalah syarat mutlak untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi berbasis AI. Dari sini, yang perlu didorong dalam proses pengingkatan dan transformasi pendidikan literasi dengan kehadiran AI adalah bagaimana aktifitas penguatan literasi digital dilaksanakan dengan pendekatan instruksional dan juga melalui budaya melek digital.

Pendidikan literasi, mulai dari proses pendidikan formal di sekolah harus diperluas dan diperkaya dengan pengembangan wawasan informasi berbasis digital. Kegiatan belajar  perlu diintegrasikan dengan berbagai platform digital berbasis AI. Dengan demikian, pendidikan literasi di era sekarang akan komprehensif dan kontekstual. Transformasi pendidikan literasi di masyarakat akan berjalan dan siap beradaptasi dengan kehadiran AI.

 

===== 

Referensi tulisan:

  1. https://www.unesco.org/en/literacy
  2. https://primary.ejournal.unri.ac.id/index.php/JPFKIP/article/view/8851/pdf
  3. https://open.library.okstate.edu/learninginthedigitalage/chapter/literacy_in_the_digital_age/#:~:text=digital%20literacy%20generally%20refers%20to,evaluate%2C%20create%20and%20communicate%20information.
  4. https://www.kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker 
  5. https://katadata.co.id/agung/berita/628ae6c1af9fc/10-negara-paling-tidak-sopan-indonesia-salah-satunya 
  6. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666920X21000357 
  7. https://www.unesco.org/en/literacy/need-know#:~:text=Literacy%20is%20a%20continuum%20of,well%20as%20job%2Dspecific%20skills

Ikuti tulisan menarik BungRam lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu