x

Iklan

G. Yadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2022

Selasa, 29 Agustus 2023 10:07 WIB

Pesan Perpisahan Pimpinan Redaksi De Telegraaf: Terima Kasih Pembaca yang Budiman

Tulisan ini bagian dari proyek menulis: Membaca Indonesia dalam Narasi De Telegraaf.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagian pertama dari tulisan berikut ini menyadur kolom perpisahan Paul Jansen sebagai pimred De Telegraaf sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca yang berbahasa Indonesia. Tujuannya agar substansi pesannya tidak mengalami penyimpangan. Kolom ini dirilis De Telegraaf terbitan 27 Mei 2023.

***

‘Mau ngapain kamu di sini’, melintas dalam pikiran saya – sekitar dua dasawarsa silam – dalam sebuah pertemuan di klub koresponden asing di Jakarta. Sejumlah wartawan luar negeri yang sedang nongkrong di bar memandang saya dengan rasa kasihan. Setahun sebelumnya, istana kepresidenan dikepung tank dan panser, namun keamanan dan ketertiban telah pulih. Sebagai koresponden baru, saya datang bagaikan abih cakak silek takana. ‘Anda terlambat, meneer!’

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beberapa minggu kemudian, bom besar meledak di Pulau Dewata, menewaskan lebih dari dua ratusan orang. Tidak kekerasan itu menjadi awal dari rantai serangan bunuh diri musiman di Indonesia yang dilakukan oleh ekstremis Muslim. Suasana semakin panas. Intensitas konflik bersenjata di Aceh meningkat, umat Kristen dan Islam saling baku bunuh di Maluku, perlawanan di Papua berkobar. Kemudian terjadi tsunami. Bencana dengan skala kiamat kecil di akhir tahun 2004 itu membuatnya lemas. Enam bulan kemudian, ketika terjadi lagi bom bunuh diri di Bali – kali ini menewaskan sekitar 20 orang – kami para koresponden bertanya-tanya apakah tetap harus meliput ke pulau wisata tersebut. Bagi saya, itu pertanda baginya mengakhiri tugas sebagai koresponden De Telegraaf di Indonesia.

Kini kembali saatnya saya untuk mengucapkan salam perpisahan dari jabatan ini. Selama delapan tahun menjadi pimpred De Telegraaf bukan pekerjaan ringan, tetapi besar juga faedahnya. Saya telah menyiapkan diri menghadapi pekerjaan berat terkait reorganisasi, digitalisasi, profesionalisasi, serta pencarian model bisnis baru bersama rekan kerja, yang bermuara pada sistem paywall online serta langganan digital. Ditambah lagi dengan serangan dan ancaman serius terhadap wartawan De Telegraaf, kemudian datang Covid-19, diselingi upaya tarik-menarik dalam kepemilikan saham.

Saya merasa telah mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan yang wajib diambil tersebut adakalanya menimbulkan perlawanan, bahkan kebencian. Sebagai pengamat politik, saya terbiasa mengutarakan pendapat tentang orang atau pihak lain. Tetapi kini saya sendiri terkadang menjadi bagian dari berita. Menurut saya, itulah resiko yang harus dipikul.

Saya menyampaikan terima kasih kepada para pelanggan dan pembaca De Telegraaf. Mengapresiasi keterlibatan dan partisipasi anda semua. Saya senang dan bahagia karena sidang pembaca sering memberikan komentar. Ada pula kritikan ketika saya menulis dari sudut pandang yang tidak lazim, saat memperkenalkan rubrik atau kolumnis baru. Pesan serta komentar membangun tadi tidak mudah saya lupakan. Untungnya, suara positif tetap ada. Dengan beberapa dari anda telah terjalin korespondensi cukup lama, yang lain berkirim kartu Natal atau ucapan selamat lainnya. Kami menerima banyak dukungan, terutama setelah serangan atas kantor pusat De Telegraaf. Keterlibatan Anda bermanfaat bagi kami.

Ini adalah kolom terakhir saya sebagai pimred. Sebuah perpisahan yang sekaligus menjadi awal petualangan baru sebagai koresponden De Telegraaf di Amerika Serikat. Antara lain saya akan meliput pemilihan presiden AS mendatang. Setidaknya saya tidak terlambat mengalami dan berbagi momentum spektakuler tersebut dengan anda semua. Dengan senang hati saya melakukan ini demi De Telegraaf, sebuah harian dengan suara yang unik. Dukungan anda membuatnya menjadi semakin jelas. Karena itu saya sangat berterima kasih.

***
Paul Jansen ditugaskan De Telegraaf sebagai koresponden di Indonesia tahun 2002-2006. Banyak peristiwa besar yang terjadi di Tanah Air dalam periode tersebut. Meskipun demikian, di akhir tahun 1990-an secara sporadis antara lain dia telah dikirim meliput transisi rezim dari Orde Baru ke Orde Reformasi di Indonesia.

Serangan yang disinggung Paul di atas terjadi pada malam tanggal  25/26 Juni 2018. Pelakunya menabrakkan mobil barang Volkswagen Caddy. Kemudian pelaku melemparkan sesuatu ke dalam mobil tadi sehingga meledak. Gedung De Telegraaf terbakar hebat. Menurut penyelidikan aparat, pada bak barang VW tadi terdapat 16 jerrycan yang berisi 20 liter bensin. Kerugian mencapai 1 juta euro. Yang membakar tidak ditemukan. Tetapi pimpinan dari kelompok kriminal yang didakwa sebagai pelaku ditangkap dan adili serta sudah divonis 10 tahun penjara. Penyebabnya, De Telegraaf sering merilis artikel yang kritis terhadap tindak serta aksi kriminal terorganisir selama ini.

Meskipun kolom Paul ini tidak sepenuhnya tentang Indonesia, tetapi tidak jarang dalam refleksi, sudut pandang serta tinjauan yang melengkapi tulisan-tulisannya yang menyinggung pengalamannya di Indonesia atau terkait Insulinde tersebut. Pokoknya INDONESIANA bangat. Selamat bertugas di Negeri Paman Sam, Paul!

Tautan artikel asli di De Telegraaf di sini. Foto karya Redrec dari Pexels.

Ikuti tulisan menarik G. Yadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu