x

Iklan

G. Yadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2022

Rabu, 30 Agustus 2023 06:05 WIB

Luc Leihitu (82): Pemilik Warung Tertua di Pasar Tong Tong Den Haag 2023

Tulisan ini bagian dari proyek menulis: Membaca Indonesia dalam Narasi De Telegraaf.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tulisan ini berasal dari reportase wartawan Telegraaf Haagland, Tanja Verkaik. Secara online dirilis De Telegraaf tanggal 28 Agustus 2023, pada rubrik DALAM NEGERI.

Tanja menulis kisah hidup yang unik seorang opa, yang dari namanya, Luc Leihitu berasal dari Maluku. Bermukim di Voorburg, kota kecil tetangga Den Haag. Dalam usianya yang sudah 82 tahun, beliau adalah pemilik warung (standhouder) tertua dalam festival Tong Tong Fair yang selalu di selenggarakan Malieveld, dekat Den Haag Centraal Station. Tahun ini festival pasar dan promosi produk serta penganan khas Asia tersebut akan berlangsung dari tanggal 31 Agustus s.d. 10 September 2023. Karena secara historis kegiatan pasar ini dimulai oleh komunitas Indo, komoditas Indonesia cukup mendominasi, meskipun ada juga orang-orang Indo asal Malaka, dll. di Belanda.

Kisah merantaunya Luc ke Belanda pun sangat unik. Tahun 1958, kapal yang akan membawa orang-orang Belanda di Indonesia pulang ke Belanda bersandar di Jakarta. Luc tahu bahwa pacarnya yang keturunan Belanda, Elza atau kerap ia panggil Els, mengikuti repatriasi ke tanah leluhurnya dengan menumpang kapal tadi. Tanpa pikir panjang, Luc memanjat naik ke kapal saat petugas sedang berteduh karena cuaca buruk. Ia tidak membawa apa-apa kecuali kartu sebagai anggota kepanduan. Saat itu usianya 17 tahun. Di kapal Els terkejut bukan kepalang. Kisah cinta kedua anak manusia itu berlanjut ke mahligai rumah tangga. Bahtera perkawinan mereka berjalan dengan bahagia selama 63 tahun. Mereka hanya dipisahkan dengan kematian Els tiga tahun lalu. Pasangan setia itu dianugerahi dua putri, Tamara dan Belinda, serta seorang putra, Omar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat di Indonesia dulunya, Luc tidak tahu sama sekali tentang Belanda. Tetapi dengan tekad yang kuat ia dan Els membangun hidup baru di Negeri Tulip itu. Luc kemudian bekerja sebagai PNS di berbagai kementerian. Tahun 1960-an mereka sudah mengunjungi Pasar Malam Tong Tong. Cuma karena antriannya panjang mereka berpikir membuka stand sendiri. Baru tahun 1967 impian itu terlaksana dengan bekerjasama dengan beberapa rekannya. Kedai khusus yang hanya buka saat Tong Tong Fair itu mereka beri nama Warung Cherubino.

Sepuluh tahun kemudian nama standnya diubah menjadi Warung Tamalinda, yang menyatukan nama Tamara dan Belinda. Saat putra mereka, Omar lahir, nama warung tersebut tidak diganti karena sudah cukup dikenal pelanggan. Boleh dikatakan ketiga anak mereka sedari kecil hingga besar setiap tahun hingga hari ini ikut membantu di warung tersebut. Bahkan cucu-cucu beserta teman-temannya ikut bekerja. Warung Tamalinda telah seperti usaha keluarga sungguhan, yang kini dilanjutkan oleh putranya, Omar.

Els membuktikan bahwa ia seorang juru masak yang sangat berbakat dan handal dalam masakan tradisional Indonesia. Dia mengajari suaminya strategi berjualan. Menu spesial Warung Tamalinda mencakup nasi rames, babi pangan, gado-gado, tetapi juga kue serta dan makanan ringan Indo seperti risoles dan pisang goreng.

Warung Tamalinda hanya buka pada saat dan dalam festival Tong Tong Fair saja. Bagi Luc serta keluarga, saat pasar malam itulah puncak dari acara tahunannya. Bahkan ia meminta libur dari kantor setiap tahunnya demi kegiatan itu. Meskipun berat tetapi baginya sangat menyenangkan. Saat ini, putri sulungnya sudah punya warung sendiri yang menjual pakaian serta CD di arena Tong Tong Fair. Sedangan Belinda, Omar, cucu-cucu serta teman cucunya mengelola Warung Tamalinda.

Banyak pengalaman menarik selama melakoni aktivitas Tong Tong Fair. Antara lain saat kunjungan Ratu Beatrix tahun 2003, sehingga ia berkesempatan ngobrol dengan ratu Belanda tersebut. Luc berharap Warung Tamalinda masih dapat mempertahankan statusnya sebagai warung tertua dalam festival Tong Tong Fair.

***

Dalam versi DigiKrant De Telegraaf, tulisan Tanja Verkaik itu dirilis pada rubrik Nieuws van De Dag, halaman 5. Pada edisi online judulnya Luc (82) al vijftig standhouder op Tong Tong Fair: ‘Ik had geen idee wat Holland was’, sedangkan pada versi koran digital diberi judul Luc (82) bakt ze bruin, dengan subjudul Halve eeuw standhouder Tong Tong Fair. Versi online dilengkapi dengan empat foto, sedangkan pada edisi digital – mungkin untuk menghemat ruang – hanya ditampilkan tiga foto.

Ada anekdot di kalangan orang-orang Indo bahwa kata INDO itu merupakan singkatan dari ‘In Nederland Door Omstandigheden’. Dalam Bahasa Indonesia secara harfiah dapat dimaknai ‘Ke Belanda karena Keadaan’. Ada yang terpaksa ke Belanda karena situasi dekolonisasi pasca kemerdekaan Indonesia. Ada karena desakan politik dan keamanan. Ada juga karena motif ekonomi serta kesempatan karir yang lebih baik. Tidak sedikit pula karena keingintahuan, dsb. Karena masih remaja saat itu, alasan Luc ke Belanda sederhana saja, yaitu ia tidak ingin ditinggalkan Els di Indonesia.

Karakter generasi pertama orang-orang Indo di Belanda masih banyak seperti yang dimiliki Els ini. Kultur mereka masih banyak kesamaannya dengan saat mereka hidup di Hindia Belanda. Mereka terbiasa dengan masakan tertentu yang lazim hanya ada di Indonesia. Tidak saja menikmati tetapi juga memasak dan menyajikannya. Misalnya, nasi goreng yang sampai dikenal oleh J.R. Oppenheimer, Bapak Bom Atom, itu melalui Elsa, seorang Indo isteri dari ilmuwan fisika teori asal Belanda kelahiran Batavia, G.E. Uhlenbeck. Ada rijsttafel yakni menu nasi, lauk dan sayur yang lengkap. Disamping itu, ada pula lodeh, acar, serundeng, kerupuk, sambal, dll.

Tetapi apakah di kalangan generasi kedua dan setelahnya cita-rasa Hindia itu hilang? Lenyap sepertinya tidak. Tetapi berkurang barangkali iya. Jika sedang ke toko atau supermarket Asia di kota-kota besar seantero Belanda seperti Amazing Oriental, Wah Nam Hong, Ming Kee, dst. masih terlihat pengunjung yang Indo baik yang sudah berumur maupun remaja. Luc bersama keluarga serta teman-temannya termasuk telah berperan aktif melestarikan warisan kuliner dan produk Indonesia di Belanda. Sebagai apresiasi, semoga Hasrat Luc kiranya Warung Tamalinda dapat bertahan hingga 100 tahun sebagai kedai tertua di Tong Ting Fair dapat tercapai.

Sumber berita asli di De Telegraaf.

Ikuti tulisan menarik G. Yadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu