x

Ganda putra Indonesia Fajar Alfian / Muhamad Rian Ardianto. Tim Media PBSI

Iklan

yuniandono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Juli 2023

Senin, 11 September 2023 07:58 WIB

Asa Emas Bulutangkis Masihkah Ada?

Dua buah turnamen besar bulutangkis telah selesai digeber. Pelatnas Cipayung nihil gelar. Namun masih ada harapan untuk Olimpiade 2024 nanti.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

HANYA berselang sekitar sepekan untuk rehat, 2 (dua) buah turnamen besar tergelar. Yaitu Badminton World Federation (BWF) Final yang berlangsung di Kopenhagen (Denmark), pada akhir bulan Agustus. Kemudian Tiongkok Terbuka atau China Open pada awal September 2023 ini. Beberapa hasil mengejutkan terjadi. Terutama dominan -atau malah- bangkitnya tim Korea, kemudian runtuhnya ganda campuran Tiongkok, dan munculnya mixed double Perancis. Ditambah dengan gugurnya jagoan tuan rumah -baik Denmark maupun Tiongkok.

Kedua turnamen tersebut menyita perhatian para pemain, mengingat gengsi dari kejuaraan dunia BWF dan hadiah terbesar selama kalender tunamen setahun -yakni di China Open yang masuk kategori super 1000.

Pemain Korea, Seo Seung Jae sepertinya menemukan top perform di usia 26 tahun -lahir di kota Jeounju, Korsel, 4 September 1997. Bermain dua kali di final kejuaraan dunia, yaitu ganda campuran dan ganda putra, keduanya menjadi kampiun. Bisa jadi merupakan birthday gift yang luar biasa dari Seo ke publik badminton Korea. 
 
Seo Seung Jae berpasangan dengan Kang Min Hyuk berhasil mengalahkan ganda putra jagoan tuan rumah, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Di ganda campuran, Seo Seung Jae yang berpasangan dengan Chae Yu Jung juga menjadi juara setelah mengalahkan Zheng Siwei/ Huang Yaqiong dari Cina. Seo Seung Jae menjadi pemain Korea kedua yang mempersembangkan dua gelar juara dalam satu event setelah Kim Dong Moon -sewaktu perhelatan Kejuaraan Dunia 1999. Ketika itu Kim Dong Moon berpasangan dengan Ha Tae Kwon di sektor ganda putra. Sedang di ganda campuran, Kim Dong Moon berpasangan dengan Ra Kyung Min.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di turnamen China Open ini pun kejayaan Seo berlanjut. Meski kalah di semifinal ganda putra, namun mampu menjadi juara di ganda campuran (masih berpasangan dengan Chae). Mereka mengalahkan sang kejutan besar dari Perancis, Thom Gicquel/ Delphine Delrue. Kemenangan Seo/ Chae terasa lengkap, karena pada babak sebelumnya mampu menyingkirkan pasangan monster tuan rumah, Zheng/ Yaqiong. Artinya dua kali berturut-turut Seo/ Chae bisa menjinakkan pasangan nomor satu dunia tersebut.

Setelah merebut juara di XD dan MD, Korea masih nambah dari tunggal putri andalan mereka, An Se-young, yang masih berusia 21 tahun. Bahkan An Se mampu mengulanginya di China Open. 

Patut diwaspadai juga ganda campuran Malaysia. Meski kalah di semifinal, mereka mampu meloloskan dua pasangannya Chen Tang Jie/ Toh Ee Wei, dan non pelatnas BAM yaitu Tan Kiang Meng/ Lai Pei Jing. Sekali lagi meski kandas di semifinal, gegara kepenthok pemain Korea Seo/ Chae, namun Langkah Tan/ Lai termasuk spektakuler. Mampu menyingkirkan pasangan unggulan, yaitu Dechapol/ Sapsiree dari Thailand, termasuk old crack Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti di babak 16 besar.

Tiongkok masih mampu mempertahankan keunggulan di ganda campuran. Pasangan Chen Qichen/ Jia Yifan berhasil merebut juara pada dua turnamen berturut-turut ini. Di kejuaraan dunia mereka berdua menumpulkan kecermelangan pasangan kita Apriyani/ Fadia. Kemudian di kandang mereka sendiri, partai final, mengalahkan pasangan Korea, Baek Ha Na/ Lee So Hee. 

Menarik juga membahas di tunggal putra. Juara dunia yunior 3 (tiga) kali asal Thailand -tahun 2017 sampai 2019- yakni Kunlavut Vitidsarn mampu merebut emas juara dunia (senior) untuk pertama kalinya. Unggulan pertama, sekaligus jagoan tuan rumah, yaitu Viktor Axelsen, tumbang di tangan pemain gaek India, Pranoy HS.  

Bagaimana performa pemain kita? Penampilan cukup apik sebenarnya sempat disajikan ganda putri Apriyani Rahayau/ Siti Fadia Ramadhanti. Di kejuaraan dunia BWF mampu mengalahkan unggulan Korea, dua pasang sekaligus. Keduanya adalah Kim/ Kong dan Baek Ha Na/ Lee. Kemudian mengembat musuh buyutan asal Jepang, Fukushima/ Hirota. Sayang lagi lagi di final kalah mudah melawan juara bertahan, sekaligus pasangan nomor satu dunia asal Tiongkok, Chen Qingchen/ Jia Yifan. 

Di China Open, pada babak awal Apriyani/ Fadia cukup bagus kinerjanya. Mampu mengalahkan ganda nomor satu Thailand, Jongkolpan/ Rawinda Prajongjai. Lalu step berikutnya mengalahkan ganda nomor 3 (tiga) Korea yang selama ini sering merepotkan. Kim/ Jeong. Namun ketika perempat final bertemu pasangan Korea lainnya, yang notabene mereka kalahkan saat di kejuaraan dunia sepekan sebelumnya -yaitu Ha Na/ Lee. Sayang pasangan kita keok dalam pertarungan sengit tiga set.
 
Pasangan ganda Bagas/ Fikri juga sempat mencatat kemenangan gemilang, saat mengandaskan pasangan nomor 2 (dua) dunia saat ini, Chirag/ Rankireddy asal India. Namun ketiga bertemu pasangan Korea, sang juara dunia, Seo/ Kim, pasangan kita kalah cukup mudah dalam straight game. Ganda Seo Seung jae/ Kim dengan demikian mencatat banyak pertemuan yang menghasilkan kekalahan bagi ganda kita. Semua pasangan kita akhir-akhir ini pernah ditumbangkan oleh Seo/ Kim, dari mulai the daddies, lalu the babbies, Pramudya/ Yeremia, Bagas/ Fikri sampai nomor satu dunia, Fajar/ Rian. 

Khusus Fajar/ Rian barangkali penampilan di 2 (dua) turnamen ini adalah rentetan terburuk sepanjang karier mereka, minimal tahun ini. Tumbang pada babak pertama di Denmark dan di China. Pada awal tahun ini, prestasi Fajar Alfian/ Muh Rian Ardianto sungguh meyakinkan dengan menjuarai Malaysia Open dan All England. Namun sesudah itu mengalami penurunan prestasi, walau sempat menyentuh final di Korea Terbuka (hanya menjadi runner up karena kalah melawan Chirag/ Rankireddy).

Melihat performa ganda di bawahnya -yakni Chirag/ Rankireddy, kemudian Wang Chan/ Liang Wei Keng, dan Seo/ Kim- bisa jadi akhir tahun posisi nomor satu dunia bakalan tergusur. 

Tujuan utama PBSI adalah emas Asian Games 2023 dan Olimpiade Paris 2024. Asian Games hanya hitungan minggu akan dimulai di Tiongkok. Dalam jangka pendek, kita berharap pada nomor beregu putra dan sektor ganda putra. Lima tahun lalu di Jakarta – Palembang kita meraih 2 (dua) emas dari tunggal putra atas nama Jonathan Christie dan ganda putra “the minnions” Kevin/ Gideon. Untuk tahun ini sepertinya tunggal putra akan dikuasai pemain berusia 22 tahunan seperti Kodai Naraoka dari Jepang, juga Kunlavut dari Thailand. Belum lagi masih ada andalan tuan rumah seperti Li Shifeng (23 tahun). 

Untuk olimpiade masih ada sekitar 9 (sembilan) bulan masa bersiap. Persoalan timing dan persiapan diri agar peak performance bisa terjadi saat olimpiade bukan hal yang asing bagi kita. Saat Olimpiade Tokyo tahun 2021 siapa yang menduga bahwa pasangan non-unggulan kita, ganda putri Greysia Polii/ Apriyani menjadi perebut medali emas. Demikian pula tahun 2016 saat Tontowi/ Liliyana yang sebenarnya dalam masa penurunan prestasi mampu merebut emas. 

Atau kembali jauh ke belakang saaat Olimpiade Sydney tahun 2000, ketika pasangan Korea mendominasi turnamen (yakni pasangan Kim Dong Moon/ Ha Tae Kwon dan Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung) selama tahun 1999. Namun emas olimpiade jatuh ke ganda putra kita -Chandra Wijaya/ Tony Gunawan. Contoh lainnya adalah kegemilangan Taufik Hidayat yang merebut emas Olimpiade 2004 (dan Sony DK meraih perunggu) padahal saat itu ada duo menakutkan dari Tiongkok yaitu Lin Dan dan Bao Chunlai.

Masih ada waktu. Terutama untuk Olimpiade 2024 di Paris. Semoga tradisi emas mampu kita jaga. 

 

Ikuti tulisan menarik yuniandono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan