x

https://pixabay.com/photos/hand-reach-reaching-fingers-5961660/

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 17 Oktober 2023 22:39 WIB

Tiada Perpisahan

Suatu saat kita akan berpisah dengan keluarga. Tapi Rumi mengatakan tiada perpisahan. Bagaimana maksudnya? SIla ikuti terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono

Perpisahan adalah suatu hal yang sangat ditakuti oleh semua orang.  Perpisahan dengan harta dan orang orang yang dicintai terasa berat buat orang kebanyakan.  Pasti semua orang berharap tidak akan terjadi perpisahan dengan semua miliknya, baik harta maupun keluarga. Tapi semua orang juga pasti sadar bahwa perpisahan itu tidak terelakkan. Suatu hari kita kan pergi pindah ke alam lain.  Kita akan meninggalkan semua harta dan keluarga serta teman. 

Meskipun  demikian, Maulana Jalaludin Rumi mengatakan bahwa bisa saja perpisahan itu ditiadakan. Bagaimana ini?  Mari kita elaborasi.  Tapi lebih dulu kita Simak kata mutiaranya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

 

“Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation.” (Rumi)

Selamat tinggal hanyalah untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka. Karena untuk mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tidak ada perpisahan.

 

Saya meyakini bahwa Rumi sejatinya sedang mengutarakan gagasan tentang hubungan antara sang pencipta dengan ciptaannya. Antara Tuhan dengan manusia.  Tapi saya juga yakin kata mutiara ini bisa ditafsirkan dalam konteks hubungan antar manusia.  Terutama dalam hubungan keluarga.

 

Dalam hubungan manusia dengan Tuhan Allah swt, sejatinya hubungan yang terjadi adalah hubungan saling mencintai yang abadi. Terjadi di dunia sampai ke akherat. Tentu saja ada syaratnya agar hubungan seperti itu terjadi. Syaratnya yaitu manusia harus mengabdikan diri kepada Allah swt.  Manusia harus menaati semua perintah dna menjauhi laranganNya.  Orang yang memenuhi syarat dengan baik dijanjikan akan menjadi hamba Allah selamanya, baik di dunia maupun di akherat. Maka tiada perpisahan.

 

Kematian hanyalah gerbang untuk memasuki alam keabdian.  Di balik kematian manusia yang memenuhi syarat akan menikmati kebahagiaan sejati yang tanpa batas.

Bagaimana dengan hubungan antar manusia?  Bukankah kita akan berpisah?

 

Saya mengamati kehidupan masyarakat dan sering melihat sendiri orang yang mencintai pasangannya dan keluarganya tapi hanya dengan mata. Maksudnya dia mencintai hanya sebatas yang nampak di mata.  Seorang laki laki tertarik kepada wanita hanya karena kecantikan wanita.  Demikian pula sebaliknya. Wanita mencintai hanya karena dia diberi harta dan kedudukan.

 

Tidak jarang saya melihat pernikahan dengan modal seperti itu yang kandas. Mereka tidak menyadari bahwa modalnya tidak cukup, meskipun memiliki harta dan kedudukan.  Modal mereka lemah untuk menikah karena hanya berdasarkan nafsu saja.

 

Jadi Wanita yang berbusana minim dan sexy sejatinya sedang membatasi kemampuan laki laki untuk menilainya secara keseluruhan. Cara berbusana demikian hanya memusatkan perhatian lawan jenis kepada nafsu saja. Akibatnya kedua pihak tersesat.  Tindakan yang diambil berdasar penilaian sesat tentu akan sesat juga. Buktinya banyak sekali perkawinan atau hidup bersama yang bubar di kalangan orang sekuler.

 

Rumi menganjurkan kita untuk mencintai pasangan dan keluarga kita dengan segenap jiwa raga dan dengan hati.  Jadi tidak menjadikan apa yang Nampak mata sebagai pertimbangan utama.  Itu hanya tambahan saja.

 

 

Jika kita sudah mampu memakai jiwa dan hati untuk mencintai pasangan dan keluarga  maka akan tercipta cinta sejati.  Cinta kita tidak didasari oleh nafsu saja.  Dengan jiwa dan hati maka kita akan mendapat petunjuk dan bimbingan Allah swt. Kalau sudah demikian maka sejatinya kematian tidak memisahkan.  Itu hanya gerbang saja menuju ke alam lain.  Nanti suatu saat keluarga yang ideal itu akan bertemu lagi di dalam keabadian. Mereka akan hidup bahagia dan sejahtera selama lamanya.

 

Hanya orang orang beriman dengan sepenuh jiwa raganya saja yang mampu mendapatkannya.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu