x

Pastikan tak tertibkan Perppu KPK

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 29 Oktober 2023 19:01 WIB

Jokowi Lepas dari Bayang-bayang Megawati?

Dengan berhasil menampilkan Gibran sebagai cawapres Prabowo, Jokowi mengukuhkan posisi politiknya bahwa ia juga mampu menjadi ‘king maker’.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika Gibran Rakabuming menjadi cawapres pendamping Prabowo Subianto, masyarakat dihadapkan pada teka-teki: apa yang membuat Megawati dan PDI-P tidak bersikap tegas kepada Gibran, yang notabene ketika itu masih anggota PDI-P? Mengapa tidak muncul kartu merah untuk memberhentikan Gibran dari keanggotaan partai? Mengapa Gibran terlihat memperoleh perlakuan santun dari PDI-P? Apakah karena Gibran putra Presiden Jokowi?

Pertanyaan ini lumrah. Elite PDI-P pun irit bicara mengenai masalah ini, artinya mereka juga bingung mesti mensikapi seperti apa, setidaknya untuk saat ini. Sekalipun tidak ada jawaban tegas terhadap berbagai teka-teki itu, namun masyarakat sudah sama-sama maklum, andaikan Gibran bukan putra Presiden, perlakuan santun PDI-P itu tidak akan muncul. Bahkan, seandainya Gibran bukan putra Presiden, mustahil ia akan diajak Prabowo untuk mendampinginya, apa lagi ia masih tercatat sebagai anggota partai politik lain.

Sebagian orang memaklumi langkah PDI-P itu, yang barangkali memperhitungkan pula kemungkinan Gibran bersama Prabowo memenangi pilpres tahun depan atau setidaknya untuk menghadapi dinamika pilpres mendatang yang boleh jadi tidak selesai dalam satu putaran. Jalan apa yang akan ditempuh para elite politik menghadapi kemungkinan itu? Artinya, penting bagi PDI-P untuk menjaga hubungan baik (yang barangkali tidak sedang baik-baik saja) dengan Presiden Jokowi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sikap galak yang biasa ditunjukkan elite PDI-P kepada kadernya yang membelot atau membangkang kali ini tidak tampak. Apakah sikap berhati-hati ini merupakan pertanda bahwa Megawati kini menimbang secara serius kekuatan politik Jokowi dan sedang memikirkan cara terbaik untuk mensikapi pencawapresan Gibran? Mungkinkah Mega juga memikirkan bahwa Jokowi tidak lagi bisa dipandang, disebut, dan ditempatkan sebagai ‘petugas partai’ yang manut tanpa memiliki kemauan sendiri?

Betapapun, Jokowi memang telah dan sedang mempertunjukkan tekadnya untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Megawati. Ia mendorong anak-anak dan menantunya terjun ke dunia politik dan langsung menempati posisi terpandang: walikota, ketua umum partai, dan kini cawapres. Posisinya sebagai presiden memungkinkan anak dan menantunya memperoleh kemudahan—hal serupa juga dinikmati oleh anak-anak (mantan) presiden lainnya yang terjun ke dunia politik.

Dengan berusaha melepaskan diri sepenuhnya dari bayang-bayang Megawati, Jokowi bermaksud menempatkan diri sebagai salah satu elite politik yang pengaruhnya diperhitungkan, bukan saja saat ini tapi juga ke depan. Bahkan, saat ini, boleh dibilang Jokowi merupakan politisi paling berpengaruh. Lihatlah bagaimana para politisi senior di partai-partai lain sulit mengimbangi permainannya. Lihatlah bagaimana Golkar kemudian tidak ngotot agar ketua umumnya, Airlangga Hatarto, jadi cawapres Prabowo dan PAN tidak lagi bersikukuh agar Erick Thohir mendampingi Prabowo.

Dengan berhasil menampilkan Gibran sebagai cawapres Prabowo, Jokowi mengukuhkan posisi politiknya bahwa ia juga mampu menjadi ‘king maker’. Bila tidak mengajak Gibran, bagaimana nasib pencapresan Prabowo? Akankah partai-partai seperti Golkar, PAN, PSI, serta partai baru lainnya turut bergabung dengan Gerindra? >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini