x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 24 November 2023 09:50 WIB

Tantangan Gerakan Literasi ke Depan, Mungkin Hati Kita Tidak Sedang di Taman Bacaan

Kita terlalu sering membahas literasi dan taman bacaan di seminar dan diskusi. Tapi jarang menyentuh akar rumput. Mungkin, hati kita tidak sedang di literasi?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mungkin hati kita tidak sedang di taman bacaan. Itu hanya kalimat introspeksi. Manakala kita membahas soal-soal literasi dan taman bacaan. Tapi sayang, hati dan tubuh kita tidak berada di taman bacaan. Literasi dan taman bacaan yang lebih banyak dibahas di hotel, di aula, di kafe, di tempat keren. Tapi tidak menyentuh substansi dan praktik di lapangan. Maka jadilah, kita lebih banyak membicarakan ‘tentang’ literasi. Ketimbang berbicara ‘dengan’ literasi itu sendiri.

 

Bagaimana ceritanya? Ya itu tadi. Kita lebih sering berbicara literasi dan taman bacaan. Tapi kita sendiri tidak sedang di literasi dan taman bacaan. Kita jarang ada di praktik literasi dan taman bacaan ketika lisan kita justru sering membicarakannya. Ada yang “hilang”, ada yang tidak nyambung pastinya. Akhirnya, literasi dan taman bacaan hanya “indah” di ruang diskusi, di topik seminar. Tanpa ada sentuhan nyata di lapangan. Bagaimana sebenarnya praktik dan perilaku nyata literasi di lapangan?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Di kalangan profesional, ada istilah “The right man on the right place”. Sesuatu akan berhasil bila orang yang tepat berada pada tempat yang tepat. Sesuai kompetensi  dan pengalamannya di lapangan. Seseorang yang mampu dan ahli (bila perlu) akan efektif bila berada di “tempat” yang tepat. Jadi, tempat atau “place” menjadi sangat penting. Agar narasi atau diskusinya dekat dengan realitas di lapangan. Maka mungkin, hati kita tidak sedang di taman bacaan. Tapi pikiran dan angan-angan kita tentang taman bacaan sangat “membabi-buta” di alam fiksi.

 

Sebagai introspeksi. Bisa jadi, literasi dan taman bacaan sebenarnya dikecewakan oleh harapan, keinginan, dan angan-angan kita sendiri. Kita begitu menggebu-gebu membahas literasi dan taman bacaan. Tapi di saat yag sama, hati dan tubuh kita masih jauh dari literasi dan taman bacaan itu sendiri, Literasi dan taman bacaan hanya Berjaya di pikiran, di ruang diskusi, dan di tempat yang tidak pas. Inilah “PR” terbesar literasi dan taman bacaan di bumi khatulistiwa, seantero nusantara yang gemah ripah loh jinawi.

 

Bila sepakat, literasi dan taman bacaan adalah perbuatan. Maka mau tidak mau, realitas lapangan menjadi penting dikedepankan. Agar masalah utama literasi dan taman bacaan lebih tersentuh secara konkret. Sederhananya, kita tidak bisa menyebut “buku-buku di rak harus tertata rapi”. Tanpa ada orang yang ikhlas dan mau “merapikan buku-buku di rak”. Maka literasi dan taman bacaan adalah perbuatan. Sebuah keberanian untuk berbuat dan bertindak. Agar literasi dan taman bacaan mampu menjadi motivasi yang 1) bermanfaat bagi pengguna layanannya, 2) bergairah di kalangan pengelolanya, dan 3) tetap eksis di tengah masyarakatnya.

 

Jujur saja, spirit itulah yang dijaga dan dipelihara di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Segala sesuatu yang jadi masalah di taman bacaan selalu dibahas oleh pendiri, wali baca, dan relawan di TBM Lentera Pustaka. Agar terlihat hati, pikiran, sikap, dan perbuatan konkret di taman bacaan. Apa masalah taman bacaan, apa masalah anak-anak, ada apa dengan buku-buku, dan sebagainya. Semuanya harus berawal dan berakhir di taman bacaan. Nongkrong di kafe-kafe, jalan-jalan dilakukan sebagai refreshing setelah semuanya berjibaku secara nyata di taman bacaan. Karena sejatinya, taman bacaan adalah perbuatan. Karena itu, taman bacaan pun butuh keteladanan. Agar anak-anak yang membaca dan Masyarakat sekitar paham bahwa TBM Lentera Pustaka diurus sepenuh hati. Ada komitmen dan konsistensi dalam menjalankan aktivitas literasi dan taman bacaan itu sendiri.

 

Mungkin hati kita tidak sedang di taman bacaan. Sama halnya dengan “mungkin hati kita sedang tidak menuju Allah”. Karena kita lebih banyak membicarakan ‘tentang’ Allah ketimbang berbicara konkret ‘dengan’ Allah. Kita jadi jarang berbicara dengan Allah tatkala lisan kita justru sering membicarakan Allah. Berbicaralah dengan Allah, agar masalah atau hajat segera terselesaikan. Jangan hanya membicarakan tentang Allah tanpa mau berbicara langsung pada Allah. Senangkan Allah, maka Allah pun akan senangkan kita.

 

Maka saat berliterasi. Pastikan hati, pikiran, dan perbuatan dekat dengan literasi itu sendiri. Agar lebih efektif dan lebih realistis. Kan katanya ”the right man on the right place”. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu