x

Seorang pria Palestina, ketika berdoa di Masjid Al-Aqsa, dikelilingi oleh polisi Israel. Foto dokumen ReutersAmmar Awar, Jumat (752021).

Iklan

Harsa Permata

Alumni Filsafat UGM, Dosen Di berbagai perguruan tinggi Di Yogyakarta
Bergabung Sejak: 4 Oktober 2023

Selasa, 28 November 2023 20:16 WIB

Memahami Keterkaitan Zionisme dan Fasisme

Pemerintah Israel memutarbalikkan fakta dengan menuding aksi aktivis pro-Palestina sebagai manifestasi sikap anti semit.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Zionism and Nazism

Konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas akhir-akhir ini. Bahkan dalam kenyataannya terlihat sekali bagaimana praktek genosida tengah dilakukan Israel, melalui tentaranya, terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Pendudukan Israel atas tanah Palestina yang berlatar ideologi zionisme adalah pemicu konflik tersebut. Supaya para pendukung Palestina, tidak salah paham, dan kemudian menjadikan pemikiran Hitler sebagai acuan untuk melawan Israel, ada baiknya untuk melihat keterkaitan antara zionisme dan fasisme.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selain itu, dengan menjadikan pemikiran Hitler, Nazi, maupun ideologi fasisme, sebagai acuan untuk melawan Israel, maka hal tersebut sama saja dengan membenarkan klaim negara zionis Israel bahwa sikap bela Palestina dan perlawanan anti Israel cenderung anti semit, sebagaimana dilansir oleh Sindonews.com dalam artikel karya Muhaimin berjudul Apa Itu Anti-Semit, Narasi yang Digunakan Israel Melawan Pembela Palestina. Artikel tersebut berisikan bagaimana Pemerintah Israel memutarbalikkan fakta dengan menuding aksi aktivis iklim dari Swedia, Greta Thunberg dan teman-temannya yang pro-Palestina, sebagai manifestasi sikap anti semit.

Semit mengacu pada kelompok suku dan ragam bahasa yang memiliki akar sejarah di wilayah Semitik, di Timur Tengah dan sebagian Afrika. Orang-orang Semit adalah para penutur bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Semit, seperti Ibrani, Arab, Akkadia, Amharik, dan lainnya (Muhaimin dalam Sindonews.com, diakses 22 November 2023).

Adalah Theodore Herzl, seorang pemikir Yahudi yang mengemukakan hipotesa yang mendasari ideologi zionisme. Konsepnya tentang negara Yahudi menjadi landasan bagi konsep tersebut. Hipotesanya tersebut adalah, pertama, adanya rakyat Yahudi, kedua, ketidak mungkinan asimilasi atau perbauran budaya Yahudi, dengan masyarakat tempat mereka tinggal. Ketiga, bahwa Yahudi mempunyai hak pada tanah yang dijanjikan, keempat, hak atas tanah ini adalah milik Yahudi secara ekslusif (David, 2007:94).

Zionisme secara praktek adalah bentuk lain dari fasisme. Kata fasisme sendiri berasal dari bahasa latin fasces yang berarti ikatan, ini awalnya adalah tanda yang digunakan oleh petugas hukum pada masa Roma kuno, yang merupakan simbol wewenang dan keadilan. Benito Mussolini, pada tahun 1920, mengadopsi simbol ini dan memberi nama fasci, pada kelompok bersenjata, yang dia harapkan dapat membawanya kepada kekuasaan (Purcell, 2003 : 4). Dalam hal sistem pemerintahan, fasisme adalah bersifat totaliter atau menganut faham totalitarianisme. Yang berarti bahwa pemerintah mengontrol semua sendi kehidupan, dari mulai pendidikan, media massa, industri, perdagangan, rekreasi dan agama, bahkan kehidupan berkeluarga (Purcell, 2003 : 5).

Beberapa ciri ajaran fasisme adalah, pertama, irrasionalisme, artinya menolak semua prinsip-prinsip ilmiah dan lebih menekankan pada faktor emosional, mitos, dogma (doktrin-doktrin) dan yang terutama adalah propaganda (Syahrian, 2003 : 20). Berkaitan dengan ini ada tiga hal yang menonjol, yang merupakan inti dari strategi politik fasisme, yaitu : a) unsur tanah, yaitu dengan memunculkan rasa nasionalisme pada semua warga. b) Unsur darah (ras), dengan cara menunjukkan bahwa rasnya yang paling superior. c) Unsur kekerasan, faktor ini merupakan langkah terakhir strategi politik fasisme, yaitu dengan membangkitkan rasa nasionalisme dan rasisme, kebencian dan ketidak puasan dimunculkan di tengah masyarakat yang akhirnya menimbulkan gejolak dan berakhir dengan kekerasan atau bahkan perang (Syahrian, 2003 : 21).

Ciri kedua adalah, darwinisme sosial, yaitu berpatokan pada teori bahwa kehidupan adalah sebuah perjuangan untuk hidup lebih lama dari semua spesies. Di sini berarti bahwa yang mampu bertahan adalah manusia atau kelompok bangsa yang paling kuat, inilah yang kemudian berkuasa dengan cara menaklukkan bangsa lain dengan perang. Ciri ketiga adalah, elitisme kekuasaan, yaitu menganggap bahwa suatu negara dapat bertahan apabila hanya dikuasai oleh golongan tertentu saja dan meniadakan oposisi (Syahrian, 2003 : 23).

Untuk zionisme Israel, kita bisa melihat bagaimana menonjolnya irrasionalisme, dalam hipotesa Theodore Herzl. Penonjolan unsur “tanah yang dijanjikan” untuk membangkitkan rasa nasionalisme Yahudi sebagai unsur darah adalah salah satu contoh kesamaan antara zionisme dan fasisme. Selain itu yang sering terlihat di berbagai media adalah kekerasan sebagai alat untuk mempertahankan eksistensi negara Yahudi. Ini juga adalah suatu bentuk praktek Darwinisme sosial, karena dengan kekerasan maka yang berlaku adalah “hukum rimba” (yang kuat yang menang). Elitisme kekuasaan kita bisa lihat dari pemerintahan negara Israel yang hanya mengutamakan politisi dari kalangan Yahudi.

Pernyataan mantan Menteri Kebudayaan Polandia, Kazimierz Rusineck, mungkin bisa semakin menguatkan penjelasan tentang relasi antara negara zionis Israel dengan Nazi dan ideologi fasisme, “It is no secret, that many Nazi criminals serve the Israeli state and live in its territory. I cannot give you a precise number, but I’m certain that more than [one] thousand professionals of the Nazi Wehrmacht serve as military advisers to the Israeli Army.” (Dikutip dari artikel Danny Orbach dalam situs newlinesmag.com). Artinya, tindakan opresif, anti kemanusiaan, bahkan genosida yang dilakukan oleh negara Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Nazi dan ideologi fasisme. Ini terlihat dengan banyaknya pengikut Partai Nazi yang kemudian mendukung negara zionis Israel dengan menjadi penasehat militer untuk Tentara Israel.

Akhir kata, sikap menolak genosida yang dilakukan oleh negara zionis Israel terhadap bangsa Palestina di Jalur Gaza, pada dasarnya adalah sebuah sikap yang harus diambil, sesuai kodrat kita sebagai manusia, yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Persoalannya, adalah jangan sampai sikap pro humanisme ini kemudian keliru menjadikan pemikiran - pemikiran Hitler, Nazi, maupun ideologi Fasisme yang anti humanisme, sebagai panduan perlawanan.

 

Daftar Pustaka

David, R., 2007, Arab Israel untuk Pemula, Resist Book, Yogyakarta.

Purcell, H., 2003, FASISME, INSIST Press Printing, Yogyakarta.

Syahrian, E., 2003, FASISME TERORISME NEGARA, Pondok Edukasi, Yogyakarta.

Danny Orbach dalam artikel yang berjudul “When Israel Hired Ex-Nazi Officers”, dikutip dari website https://newlinesmag.com/review/the-nazi-fugitives-hired-by-israel/, diakses 22 November 2023.

Muhaimin dalam artikel “Apa Itu Anti-Semit, Narasi yang Digunakan Israel Melawan Pembela Palestina”, dikutip dari https://international.sindonews.com/read/1231707/43/apa-itu-anti-semit-narasi-yang-digunakan-israel-melawan-pembela-palestina-169787585, diakses 22 November 2023.

 

 

Ikuti tulisan menarik Harsa Permata lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu