Masih Banyak Putra-putri Terbaik yang Dapat Mewakili Bangsa

Selasa, 5 Desember 2023 10:22 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Klaim bahwa kandidat cawapres Gibran Rakabuming Raka sebagai representasi generasi muda Indonesia, tampaknya tidak mendapat sambutan baik, bahkan dari anak-anak muda. Selain Gibran, masih ada banyak putra-putri bangsa dirasa lebih layak untuk mewakili anak muda.

Dengan diangkatnya Gibran Rakabuming Raka sebagai kandidat calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto, koalisi pendukungnya mengharapkan bahwa hal ini dapat menarik suara anak muda, terutama dari kalangan milenial dan gen z. Harapan itu didasari dengan alasan bahwa Gibran dinilai dapat mewakili anak muda Indonesia di ajang Pemilu 2024. Namun, kenyataan di lapangan tidaklah demikian.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Gielbran Muhammad menolak dengan tegas klaim Gibran sebagai perwakilan anak muda saat  menggelar aksi Mimbar Kerakyatan di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta (Tempo.co, 29/11/2023). Gielbran menegaskan bahwa ia bersama rekan-rekan sesama mahasiswa justru merasa jijik dengan klaim tersebut, karena proses majunya Gibran sebagai cawapres dilakukan dengan praktik culas yang memanipulasi konstitusi. Selain dari itu, Gielbran juga menambahkan kasus ini hanya menjadikan anak muda sebagai “objek” penarikan suara saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Peristiwa tersebut merupakan salah satu dari sekian aksi yang terjadi di tengah masyarakat. Masih banyak aksi serupa yang dilakukan oleh para generasi muda, untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka atas klaim Gibran sebagai perwakilan anak muda, sekaligus praktik culas yang mendorongnya menjadi cawapres. Walhasil, rasanya sangat membingungkan jika ada survei yang menyatakan bahwa pasangan Prabowo-Gibran disukai dan didukung oleh kalangan anak muda. Seperti salah satunya datang dari survei Polling Institute periode 15-17 November, bahwa pasangan Prabowo-Gibran unggul dengan perolehan suara 43,2 persen (TribunJabar.id, 1/12/2023).

Selain Gibran, masih ada banyak putra-putri bangsa yang lebih layak disebut sebagai perwakilan atau representasi anak muda Indonesia. Mereka datang dari berbagai bidang, baik dalam politik, olahraga atau akademis dan telah menoreh prestasi baik secara nasional mau pun internasional. Bahkan, beberapa di antara mereka masih belum dikenal luas oleh publik. Putra-putri bangsa tersebut adalah:

Tsamara Amany Alatas

Wanita kelahiran 24 Juni 1996 ini dikenal publik sebagai anak muda yang terjun ke dunia politik, sekaligus pernah menantang Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah berdebat soal Pansus Hak Angket KPK. Tsamara merupakan pendiri LSM Perempuan Politik, dengan tujuan untuk menyebarkan pentingnya kesadaran berpolitik bagi perempuan dan generasi muda di Indonesia. Ia pernah bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan langsung diberi posisi sebagai Ketua DPP bidang eksternal sejak April 2017. Menjelang Pemilu 2019, Tsamara juga berperan sebagai Juru Bicara pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Suara.com, 13/9/2023). Selain dari itu, Tsamara juga pernah menjadi staf magang di Balai Kota DKI Jakarta pada periode Januari-April 2016, saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai gubernur. Saat magang itulah, ia ditugaskan dalam tim untuk membantu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), simplifikasi perizinan memulai usaha, dan meningkatkan peringkat izin memulai usaha dari 167 (2015) menjadi 151 (2016) dalam survei Bank Dunia (Liputan 6, 13/7/2023). Namun pada April 2022, Tsamara mengumumkan bahwa ia keluar dari PSI demi mengabdi kepada bangsa dalam bentuk cara-cara lain (Kompas.com, 18/4/2022). Walau begitu, Tsamara tetap aktif dalam memperjuangkan isu-isu perempuan yang terjadi di negara ini (Kilat.com, 7/3/2023). 

Rian Ernest

Pemuda kelahiran 24 Oktober 1987 ini dikenal sebagai mantan staf ahli hukum Gubernur DKI Jakarta Ahok pada 2015-2017. Rian semakin dikenal publik karena mendampingi Ahok saat sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK), sehingga ia menjadi salah satu faktor yang membuat Ahok percaya diri mengajukan uji materi cuti kampanye seorang diri, tanpa didampingi pengacara (Liputan 6, 1/9/2016). Jelang Pemilu 2019, Rian merupakan Calon Anggota Legislatif (Caleg) untuk DPR RI yang diusung oleh PSI dari daerah pemilihan DKI Jakarta I. Kala itu, ia berhasil meraih 70 ribu suara warga Jakarta Timur. Seperti Tsamara, Rian juga keluar dari PSI dengan alasan prospek politiknya di masa depan (CNN Indonesia, 15/12/2022). Kini, Rian telah bergabung ke Partai Golongan Karya (Golkar) sejak 27 Januari 2023. Ia memberi alasan bahwa partai tersebut sangat demokratis dan tidak tergantung pada sosok tertentu, saat dijumpai di Kantor DPD Golkar DKI Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat (Kompas.com, 31/1/2023). Kini, Rian terdaftar sebagai caleg DPRD DKI Jakarta di Pemilu 2024, dan akan bertarung di daerah pemilihan (Dapil) Jakarta 5 yang meliputi Jatinegara, Duren Sawit dan Kramat Jati (KumparanNEWS, 22/11/2023).

Apriyani Rahayu

Atlet kelahiran 29 April 1998 ini dikenal sebagai pemain bulutangkis profesional berdarah Tolaki, Sulawesi Tenggara. Apriyani dikenal publik karena berhasil mengharumkan nama Indonesia, setelah sukses meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Selain dari itu, ia juga berhasil meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior di Malaysia 2014, meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Junior 2015 di Peru, hingga meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia 2019 di Swiss. Karirnya sebagai atlet bulutangkis semakin bersinar saat dipasangkan dengan Greysia Polii. Apriyani menjadi peraih medali di berbagai kejuaraan seperti Juara Thailand Open Grand Prix Gold 2017, Juara France Open Super Series 2017, Runner Up Hong Kong Open Series 2017, Runner Up Indonesia Masters HSBC WTS 500 2018, dan sebagainya (Voi.id, 28/8/2022). Kabar yang membanggakan, ia baru saja dinobatkan dan masuk ke dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2022, untuk kategori entertainment and sport (Suara.com, 29/5/2022).

Gabriel Vito Bapa

Ia adalah putra bangsa berdarah Nusa Tenggara Timur (NTT) kelahiran 16 Oktober 1998, sekaligus cucu dari Josef Blasius Bapa yang dikenal publik sebagai seorang sejarawan dan saksi hidup dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada 1965 silam. Ia baru saja menyelesaikan studi program Magister jurusan Studi Organisasi, di University of Innsbruck, Austria, yang dikenal sebagai salah satu universitas terkemuka di benua Eropa, bahkan dunia dengan sumbangsihnya dalam mencetak lebih dari tiga peraih penghargaan Nobel. Penghargaan tersebut merupakan yang bergengsi dalam bidang ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Gabriel berhasil meraih gelar cum laude dan sebagai salah satu lulusan terbaik, ia dipercaya untuk menyampaikan valedictorian speech (pidato perwakilan wisudawan) yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 November 2023 lalu. Dalam pidatonya, Gabriel menyampaikan bahwa pada dasarnya setiap individu memiliki niat mulia dan tujuan yang baik untuk kepentingan bersama. Sejak remaja, ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bersosialisasi dan aktif dalam organisasi kesiswaan, dimulai dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMP, hingga BEM saat menyelesaikan studi sarjananya di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (UI), program studi Ilmu Administrasi Niaga. Gabriel dinilai sebagai salah satu perwakilan prestasi anak bangsa dari Indonesia Timur dari segi akademis.

Selain dari nama-nama yang telah disebutkan, masih ada banyak putra-putri bangsa yang berprestasi dan pantas disebut sebagai representasi anak muda Indonesia. Mereka semua memiliki kualitas dan integritas yang luar biasa, serta niat yang mulia sehingga tidak menutup peluang bahwa kelak dapat menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Setidaknya, kelak mereka menjadi inspirasi bagi anak muda dan berjasa  generasi yang akan datang.

Karena pada dasarnya, bangsa Indonesia tidak pernah kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur. Banyak dari putra-putri bangsa yang berprestasi bagi kepentingan masyarakat namun tidak semuanya memiliki privilege. Alhasil, banyak dari mereka yang harus berjuang dari bawah secara keras dan penuh susah payah. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus “dikorbankan”, demi memuluskan ambisi atau karier dari oknum yang hanya mengandalkan privilege semata.

Andaikan Gibran bersedia untuk menunggu lima hingga sepuluh tahun mendatang demi menimba pengalaman, mungkin ia dapat menjadi pemimpin bangsa dan panutan yang baik bagi anak muda. Karena pada dasarnya, publik tidak membenci pribadi Gibran. Tetapi, publik menyayangkan proses yang membuat Gibran maju sebagai cawapres. Akibatnya, Gibran telah memberi contoh edukasi politik yang buruk terhadap generasi muda, sekaligus mempermalukan nama baik keluarganya serta menistakan simbol perwakilan anak muda yang sering digunakan oleh tim kampanyenya.

Apa daya, nasi telah menjadi bubur. Satu-satunya yang dapat kita lakukan untuk mencegah hal serupa terjadi, hanyalah terus mengawal dan mengedukasi putra-putri bangsa. Hal ini patut dilakukan agar mereka tetap berada di jalur yang benar, sehingga terjauh dari godaan praktik kotor yang dapat menjerumuskan mereka ke lubang kerusakan moral.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Elnado Legowo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler