x

Iklan

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Kamis, 7 Desember 2023 21:48 WIB

Border, Rasa Syukur dan Nikmat di Balik Keterbatasan

Dalam pameran tunggalnya ketiga berjudul “Border” ini nampak ada penjeraman narasi-narasi dibalik karya-karya yang ditaja. Bisa jadi itu karena perjalanan spriritualnya berhaji makin mempertajam mata batinnya dalam memandang kehidupan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perupa Goenarso menaja pameran tunggak ketiganya bertajuk Border di De Warisan Art and Curio Gallery, Kota Lama, Semarang dari 10 – 22 Desember 2023. Pameran tunggal Goenarso sebelumnya pertama, berjudul Satoe di Tan Art Gallery, Semarang (2022) dan kedua, bertajuk Say It With Color di Apel Watoe Contemporary Art Gallery, Magelang (2022).

Dalam helat pameran Border ini Goenarso bakal menaja 22 karya lukisan bercorak abstrak dan dekoratif yang  diugeminya. Pameran bagi Goenarso adalah merupakan bukti komitmen,  keseriusan dan sebagai bentuk konsekuensi pertanggungjawabannya sebagai seorang perupa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Goenarso dan karyalukisnya

Pameran ini  juga sekaligus menjadi bukti kredo yang sering distatuskan Goenarso Pokmen Sing Penting Obah” yang menjadi laku positif, kreatif dan estetiknya untuk terus berkarya. Kredo yang membuatnya tak henti terus berkarya berupa olah digital, melukis  juga aktif bergaul di medan seni rupa.

Menurut Goenarso pameran tunggalnya merupakan etape-etape penanda atau catatan perjalanannya di jagad seni rupa. Pameran tunggal “Satoe” merupakan jejak awalnya dalam menapaki dunia seni rupa. Sedangkan pameran tunggal kedua bertajuk : "Say It With Color” merupakan presentasi visual alias kisah-kisah perjalanan tentang kehidupannya.

Di Balik Keterbatasan

Dalam pameran Border ini nampak ada penjeraman narasi-narasi dibalik karya-karya yang ditaja.. Bisa jadi karena perjalanan spriritualnya berhaji makin mempertajam mata batinnya dalam memandang kehidupan kemudian mengejawantahkannya menjadi karya-karya lukisannya di atas kanvas. Spriritualitas menjadi jiwa-jiwa dalam karyanya.

Menyigi tajuk pameran Border, ini merupakan istilah harfiah tentang batas atawa keterbatasn, walaupun secara umum menurut pemikiran orang Border adalah batas antara suatu area atau wilayah,

 

Titi Kolo Mongso

Anthony Cooper, Søren Tinning dalam bukunya : “Debating and Defining Borders Philosophical and Theoretical Perspectives”, mendefinisikan dan memahami konsep perbatasan saat ini.

Perbatasan memiliki peran yang menentukan dalam masyarakat kontemporer. Border alias perbatasan juga menjadi semakin beragam dan kompleks, mewakili titik temu kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Bagi sebagian orang, batas-batas itu nyata, terletak pada waktu dan tempat; bagi yang lain, sifat perbatasan dapat diabstraksikan dan didiskusikan secara umum.

Perbatasan bersinggungan bisa saja dengan isu-isu utama saat ini, mulai dari migrasi, kerentanan terhadap perubahan iklim, teror, globalisasi, kesenjangan, dan nasionalisme, hingga pertanyaan-pertanyaan yang saling terkait mengenai budaya, identitas, ideologi, dan agama.

Namun Goenarso punya pandangan dan sikap lain dalam memaknai “perbatasan” menjadi lebih luas lagi, walau menurutnya kurang pas. Tetapi “Border”  tajuk pamerannya nampak menjadi lebih keren dan memancing polemik bagi publik apresian.

Border diartikannya ada batas yang harus diingat oleh manusia bahwa, semua ihwal tentang hidup dan kehidupan manusia semua aspek ada batas yang disepakati. Batas (perbatasan) yang  tidak boleh dilanggar.

Menurut Goenarso ini merupakan sinyal sebagai  tanda pengingat  bahwa yang tak terbatas adalah kanya kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Sedangkan manusia harus menerima konsekuensi dari hidup dan kehidupan ketika menjalani laku  di dunia ini.

“Dari keterbatasan ini saya merasa bersyukur. Dengan  “keterbatasan” masih bisa mempersembahkan pameran karya lukis dengan segala keterbatasannya,” ujar Goenarso.

Menurut Goenarso munculnya ide membuat pameran ltunggalnya semata mata karena menyadari keterbatasannya sebagai manusia. Pameran ini merupakan pengejawantahan bentuk rasa syukur.

“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika keterbatasn itu taka da. Apakah manusia akan lebih santun, humble, dan punya attitude?. Semoga dengan helat pameran ini menjadikan saya orang yang lebih baik, pandai bersyukur dan memiliki manfaat bagi orang lain,” ujar Goenarso.

Narasi di Balik Visual

Dalam pameran bertajuk : “Border” ini Goenarso akan memajang 22 karya lukis bertiti mangsa 2022 -2023. Karya-karya Goenarso dengan warna-warna yang hangat menghadirkan kosmologi spiritualitas.

Bisa disimak di antaranya lukisan  bertajuk : Rambu, (50 x 50 Cm, AOC, 2023). Lukisan ini punya pesan disebaliknya yang menyiratkan bahwa ada hal yang tidak diperkenankan dan konsekuensi  ketika  melanggarnya .

https://www.indonesiana.id/admin/foto#

Bisa disigi dari warna merah, kuning, biru adalah hal yang paling elementer dan menyiratkan keinginan manusia yang paling dasar adalah sandang, papan, pangan juga termasuk garis miring 3. Mengapa  harus garis miring karena hal ini yang perlu prioritaskan.

“Biasanya selaras dengan bidang vertikal .garis putih selain untuk centre of interest.  Hal ini juga mewakili jalan manusia ketika harus memperjuangkan hidup dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran,” ujar Goenarso membuka tabir salah satu karyanya ini.

Sedangkan karyanya berjudul :”Destiny”, (50 x 50Cm,AOC,2023), menggambarkan penyadaran diri manusia dengan segala keterbatasannya tetapi  senantiasa harus menerima kenyataan bahwa tiada kuasa merubah apa yang sudah dikaruniakan oleh Tuhan.

Selanjutnya, karya berjudul : “Titi Kolo Mongso”, (50 x 50 Cm, AOC, 2023), menyiratkan makna bahwa setiap jaman ada penanda yang merupakan pergeseran pranata sosial di masyarakat. Ada pergeseran pola pikir manusia ketika era globalisasi merangsek hingga ke ruang- ruang privat. Kehadiran teknologi dan IT menjadikan manusia makin individualistis menggeser nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang lambat laun tergerus dan hilang tertelan peradaban baru.

Hari ini Goenarso menggelar pameran tunggalnya ketiga bertajuk : “Border” di De Warisan Art & Curio, Semarang bertepatan dengan hari jadinya yang ke -64. Selamat ulang tahun, teruslah berkarya., berpameran  dan menginpirasi.

Semarang, 3 Desember 2023

 Christian Heru Cahyo Saputro

( Jurnalis dan Pengamat Seni Rupa Tinggal di Semarang )

 

 

Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu