x

Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep (kiri) bergurau dengan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (kanan) pada puncak perayaan HUT ke-9 PSI di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu 9 Desember 2023. Kegiatan yang diikuti ribuan simpatisan PSI se-Jawa Tengah tersebut mengusung tema Dendang Sayang PSI Menang. ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Iklan

Fabian Satya Rabani

Pelajar, model, dan atlet tinggal di Bandung, Jawa Barat. IG: @satya_rabani
Bergabung Sejak: 22 November 2023

Minggu, 10 Desember 2023 08:25 WIB

‘Gemoy’ Bahasa Gaulnya Siapa?

Kata gemoy yang merujuk seorang tokoh dalam upaya lebih mempopulerkan orang tersebut sebenarnya kurang efektif. Daripada sifat gemoy-nya yang dieksploitasi, lebih baik prestasi, kelebihan-kelebihan, jasa-jasa, dan visi-misi-program unggulannya yang ditonjolkan. Sebab, banyak anak muda belum mengetahui biografi tokoh tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Akhir-akhir ini dalam komunikasi publik banyak orang menuliskan atau mengucapkan kata gemoy. Kata yang sebelumnya sempat viral yaitu bercyandya yang berawal dari salah satu  konten Instagram. Kemunculan dua kata ini bisa jadi tidak disengaja oleh penutur awalnya, berupa celetukan saja. Karena kata itu terpublikasi, kemudian banyak yang meniru karena dianggap sebagai kata yang menarik, unik, dan lucu.

Orang meniru-niru mengucapkan kata itu agar memperoleh kesan kekinian atau terlihat gaul. Lalu, pengucapan kata itu menjadi kebiasaan dalam pergaulan sehari-hari untuk mengungkapkan ekspresi diri anak muda. Maka, banyak orang kemudian menamai kata yang muncul seperti ini sebagai kata gaul atau bahasa gaul. Nah, sebenarnya bahasa gaul itu riwayatnya bagaimana?

Kata lain dari bahasa gaul adalah bahasa prokem atau bahasa slang. Jika kita mencari pengertian bahasa prokem di Wikipedia, akan memperoleh penjelasan sebagai berikut. Bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia tidak baku yang lazim digunakan di wilayah Jakarta pada tahun 1970-an. Seiring berjalannya waktu, bahasa prokem yang berasal dari Jakarta ini mulai menyebar dan digunakan di banyak daerah lain di seluruh Indonesia. Pada tahun 1990-an, bahasa informal ini mulai melebur dan tergantikan dengan ragam baru yang saat ini lebih dikenal sebagai bahasa gaul.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Salah satu fitur paling terkenal dari bahasa prokem adalah penggunaan sisipan -ok- untuk memroduksi kata-kata baru. Hal ini ditandai dengan kata-kata bahasa Indonesia atau bahasa Betawi yang diambil suku kata pertama plus konsonan pertama suku kata berikutnya, lalu suku kata ini disisipi dengan sisipan -ok- setelah fonem pertama. Misalnya sebagai berikut: bapak → ba-p(ak) + sisipan -ok- → b(ok)ap ; (e)nyak → nyak + sisipan -ok- → ny(ok)a(p) (akhiran ak diganti ap untuk menyamakan dengan kata bokap); rumah → ru-m(ah) + sisipan -ok- → r(ok)um; gila → gi-l(a) + sisipan -ok- → g(ok)il; dan berak → be-r(ak) + sisipan -ok- → b(ok)er.

Dikatakan oleh Anju Arwani dalam www.unja.ac.id, bahwa sekarang, bahasa prokem telah umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan remaja. Dalam medsos dan media-media populer seperti TV, radio, dunia perfilman nasional tidak ketinggalan memasukkan bahasa-bahasa prokem. Seringkali bahasa prokem digunakan dalam beberapa artikel yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja . Bahasa prokem saat ini menjadi alat komunikasi verbal yang banyak digunakan remaja dalam kehidupan sehari-harinya. Beberapa contoh lain kata-kata dalam bahasa prokem yaitu kata aku dan kamu menjadi gue/gua dan loe/elu,  astaga menjadi kata anjay atau anjir, dan kata norak atau udik diganti dengan kata kamseupay.

Anju Arwani  juga menjelaskan bahwa bahasa prokem diciptakan oleh sekelompok remaja dalam kesehariannya. Bahasa prokem merupakan salah satu bentuk menyimpang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu, ia dikenal sebagai “bahasanya para bajingan atau anak jalanan” karena arti kata prokem dalam pergaulan adalah preman yang mendapat sisipan ok menjadi prokeman lalu mengalami apokope yaitu lenyapnya bunyi akhir sehingga menjadi prokem.

Kata gemoy itu juga merupakan kosa kata bahasa gaul. Jik begitu, lalu sekelompok remaja mana yang menciptakannya? Kata ‘gemoy’ ini bahasa  gaulnya siapa? Kata "gemoy" pernah dipopulerkan Trans TV pada tahun 2021. Saat itu kata gemoy adalah salah satu acara di stasiun televisi tersebut yang merupakan akronim  dari dua kata yaitu Games Asoy. Namun, kata gemoy yang terdengar akhir-akhir ini berbeda makna dan sejarah pembentukan katanya dari yang dipopulerkan Trans TV itu.

Banyak referensi yang menjelaskan bahwa kata gemoy pada dasarnya adalah kata plesetan yang berasal dari kata "gemas". Istilah ini biasanya digunakan ketika melihat suatu objek yang menggemaskan. Dalam KBBI, gemas /ge·mas/ a  artinya 1 sangat jengkel (marah) dalam hati: saya sangat -- pada anak itu karena selalu mengotori lantai; 2 sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengkel-jengkel (cinta): -- aku melihat anak ini. Gemoy adalah istilah yang sering digunakan oleh anak muda dan remaja untuk menggambarkan sesuatu yang mengundang perasaan lucu atau gemas yang positif. Dalam konteks ini, gemoy lebih sering digunakan untuk menggambarkan sifat atau tingkah laku seseorang atau sesuatu yang sangat menggemaskan atau menggelitik.

Dalam kancah politik, kata  gemoy pertama kali dilontarkan oleh kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) saat deklarasi dukungan untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Gibran pada Selasa 24 Oktober 2023. Kemudian, sesaat setelah mendapatkan nomor urut pada pengundian pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran yang digelar di kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2023), Gibran tampak membawa papan bertuliskan "GEMOY” yang ditunjukkan di hadapan publik.  

Gemoy sebagai kata sebagai bahasa gaul tentu bisa diterima. Apalagi, kata ini ditujukan sebagai ungkapan hati remaja yang benilai rasa positif yang membawa kegembiraan. Gemoy mengandung makna atau merujuk situasi hati penuturnya melebihi gemas. Bisa dikatakan gemoy merupakan gemas yang amat sangat sehingga kata gemas itu sendiri tidak mampu mewadahi perasaan penuturnya. Jika ada anak-anak yang tubuhnya montok, pipinya gembul, tingkah lakunya lucu, sangat menarik, dan mengundang gelak tawa, anak itu bisa dikatakan anak gemoy. Atau ada remaja putri yang tubuhnya montok, mukanya menarik, pintar, tingkah solah tingkahnya lucu dan menarik, ia bisa dikatakan cewek gemoy.

Dari sejarah munculnya bahasa gaul atau prokem, kata gemoy, jika itu ditujukan perilaku yang lucu dan sangat menggemaskan, seharusnya hanya digunakan untuk penyebut anak kecil atau remaja saja bukan untuk menyebut orang tua. Sama halnya dengan kata gua atau loe/lu misalnya, kata gaul ini hanya untuk berlaku di kalangan remaja. Bagaimana jika kata loe dipakai remaja untuk menyebut orang tua atau  guru, misalnya: “Mau ke mana loe?” atau “Loe harus tahu kalo gue tidak suka dimarahi!” Bukankah ini salah alamat dalam pemakaian kata-kata itu? Penggunakan kata gaul yang tidak tepat sasaran ini merupakan perbuatan tidak santun atau malah bisa dikatan kurang ajar. Penutur  mengandaikan orang tua yang diberi julukan gemoy itu sama perilakukanya dengan anak-anak atau remaja seumuran dengannya. Pemakain kata gemoy seperti ini sama ketika anak memanggil orang tuanya dengan kata ‘loe’ seperti contoh tadi.

Kata gemoy yang merujuk seorang tokoh atau seorang pemimpin dalam upaya lebih mempopulerkan orang tersebut sebenarnya kurang efektif. Daripada sifat gemoy-nya yang dieksploitasi, lebih baik jika prestasi, kelebihan-kelebihan, jasa-jasa, dan visi-misi-program  unggulnya yang seharusnya ditonjolkan. Sebab, mungkin banyak anak muda yang belum mengetahui biografi tokoh tersebut. Cara dan sarana penyampaian berbagai kelebihan tokoh itu saja yang dibuat  menarik perhatian dan disukai anak muda. Barangkali cara ini lebih bermakna, bermanfaat, dan mendidik.

Kemunculan kata gaul memang bisa saja terjadi karena perkembangan zaman. Kata-kata gaul bisa memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Namun demikian, penggunaannya harus tepat dengan memperhatikan: siapa berbicara kepada siapa, dalam situasi apa. Kata-kata gaul banyak yang  masuk entri kata dalam KBBI. Di sana kata-kata gaul itu diberi keterangan cak (cakapan). Artinya, kata-kata itu hanya boleh digunakan dalam percakapan sehari-hari (bukan ragam tulis) yang bersifat nonformal. Jadi, dalam situasi formal atau resmi kata-kata gaul itu tidak boleh digunakan.

Referensi

https://www.unja.ac.id/bahasa-prokem-memengaruhi-eksistensi-bahasa-indonesia-di-kalangan-remaja/

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem

 

Ikuti tulisan menarik Fabian Satya Rabani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu