x

Iklan

Ahmad Al Ghiffari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Desember 2023

Jumat, 15 Desember 2023 20:31 WIB

Mengenal Sosok “Keajaiban Zaman“ Badiuzzaman Said Nursi

Badiuzzaman Said Nursi adalah ulama kontemporer yang haus ilmu. Dia berjuang demi cahaya Islam ketika Turki di bawah kekangan rezim sekuler.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Badiuzzaman Said Nursi lahir di desa Nurs, Anatolia Timur tahun 1293 H/1876 M tepatnya di akhir masa ke khalifahan Ustmani (Sultan Abdul Hamid II), dan wafat pada tahun 1960 M. Badiuzzaman Said Nursi merupakan seorang yang alim, genius, dan tawadhu serta banyak menguasai berbagai jenis disiplin Ilmu pengetahuan.

Kehausannya pada ilmu pengetahuan sudah dimulai sejak masih belia. Ia tumbuh sebagai anak yang kritis. Di balik semua itu Said Nursi memiliki kedua orang tua yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dan senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan bahkan berdakwah. Walaupun Umur nya yang sangat belia, Said Kecil sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain ,demi mencari keilmuan yang lebih dalam  sering berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain, dari satu madrasah ke madrasah yang lain.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama perjalanannya mencari Ilmu ke berbagai wilayah, suatu ketika ia pergi menuju Beyazid, yakni sebuah kota kecil yang terletak di kaki Gunung Ararat atas arahan dari gurunya Syaikh Abdullah. Ketika di sana ia sempat dilarang untuk masuk ke madrasah tersebut, karena umurnya yang masih sangat muda. namun dengan ambisi yang kuat dari Said Nursi akhirnya berhasil  masuk madrasah tersebut, yang sebelumnya sempat di beri syarat untuk memahami isi kandungan tiga buah kitab yang diajarkan di madrasah tersebut.

Kegeniusan Nursi mulai terlihat ketika ia mampu menyelesaikan dan memahami pelajaran dalam jangka waktu tiga bulan saja, padahal untuk orang lain, normalnya diperlukan waktu dua puluh tahun. (Biografi Said Nursi, 29). Julukan “Badiuzzaman” yang berarti “keajaiban zaman” di depan namanya sebagai sebagai bentuk pengakuan seorang ulama sekaligus gurunya,Syaikh Molla Fethullah Efendi terhadap kecerdasannya, pengetahuan serta wawasannya yang luas.

 

Di balik kecerdasan Said Nursi tersebut, ada andil didikan  dari kedua orangtuanya, Mirza dan Nuriye. Keduanya dikenal sebagai tokoh sufi pada masanya. Dikatakan bahwa keduanya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud, Mirza (ayah Nursi) selalu berdzikir setiap tarikan nafasnya dan selalu menjaga dari keharaman baik dari makanan yang masuk ke keluarganya maupun hewan peliharannya, bahkan selalu mengikat mulut lembunya sampai di lapangan yang halal rumputnya. Demikian pula Nuriye (Ibu Nursi). Ia selalu menjaga dirinya dari hal yang syubhat, selalu menjaga wudu kecuali ada uzur, dan tidak menyusui anak-anaknya kecuali dalam keadaan suci.

Terkait Rasail Nur

Rasail Nur merupakan nama dari kumpulan kitab tafsir karangan Said Nursi. Karya tafsir ini terdiri dari sepuluh jilid yaitu al-Lama’at, al-Maktubat, al-Lama’at, al-Syua’atIsyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz, al-Masnawi al-‘Arabi al-Nuri, al-Malahiq fi Fiqh Da’wah al-Nur, Saiqal al-Islam, Sirah al-Zatiyah, dan al-Faharis. 

Ada cerita yang menarik di balik penulisan tafsir Rasail Nur. Ketika Nursi berumur lima belas tahun, ia bermimpi bertemu dengan para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi tersebut, Said Nursi mencium tangan nabi Muhammad serta meminta agar di ajarkan ilmu. Nabi Muhammad lantas berkata “Kelak kamu akan dianugerahi ilmu Alquran, kamu tidak bertanya kepada siapapun.”

Setelah petemuan nya dengan Nabi Muhammad SAW dalam mimpi tersebut, Said Nursi menjadi lebih bersemangat untuk terus mengarungi ilmu pengetahuan dan menyelami Alquran, sehingga menghasilkan karya besar yang berjumlah seratus tiga puluh risalah (al-Maktubat, x-xi). Karya-karya tersebut bahkan telah diterjemahkan lebih dari lima puluh bahasa dengan judul Rasail Nur. 

 

Selain itu, dipaparkan juga bahwa latar belakang penulisan Rasail Nur adalah untuk meneguhkan keimanan umat Islam di tengah kecamuk  badai perang dan kondisi politik di bawah rezim sekuler yang menduduki Turki pada saat itu.

Sekilas tentang sumber, metode dan kecenderunga tafsir      

Dilihat dari  beberapa sumbernya, Said Nursi ketika menafsirkan sebuah ayat Alquran tidak hanya berdasarkan pada riwayah (man’qul) saja, namun juga berdasarkan pada ra’yu (ma’qul) atau biasa disebut dengan Iqtirani. Hal senada juga disampaikan oleh Abdul Ghofur Mustafa Ja’far, bahwa dalam menafsirkan Alquran, Said Nursi menggunakan langkah-langkah yang sama sebagaimana yang disepakati oleh para ulama, yaitu menafsirkan Alquran dengan Alquran.  Hal tersebut dapat dibuktikan dari salah satu karyanya yang berjudul Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz yang mencoba menafsirkan surah Albaqarah ayat ke-7 dengan surah Annisa ayat ke-69.

Sedang dilihat dari pemaparannya, Said Nursi menafsirkan Alquran secara deskriptif, walaupun dalam pengakuannya ia menulis karyanya secara ringkas, tetapi dapat dilihat secara umum cara penyajian tafsirnya lebih kepada deskriptif, karena menjelaskannya dari banyak sisi. Pada awalnya  Nursi menafsirkan Alquran dengan Alquran, dilanjutkan dengan penjelasan dari segi balaghiah (gaya bahasanya) dan makna atau maksud yang terkandung dalam ayat Alquran.

Selain itu , jika dilihat dari segi sasaran dan tertib ayatnya, Said Nursi menggunakan dua metode sekaligus yaitu tahlili dan juga mawdui, metode tahlili digunakan hanya di satu karyanya saja yaitu dalam Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-I’Jaz, (Maqasid al-Qur’an Persfektif Said Nursi, 78) sedangkan dalam karyanya yang lain menggunakan metode mawdui.

Adapun untuk kecenderungan tafsirnya, Said Nursi dalam Rasail Nur nya memiliki banyak ketertarikan, mulai dari bahasa, tasawuf, teologi, sosial kemasyarakatan maupun ilmi (sains). (Mengenal Risalah Nur Karya Said Nursi, Maghza, 120). Namun kecenderungan yang paling besar dalam karya tafsirnya adalah lughawi atau adabi (Bahasa dan sosial kemasyarakatan).

 

Ikuti tulisan menarik Ahmad Al Ghiffari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB