x

Gambar oleh 52Hertz dari Pixabay

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 2 Januari 2024 09:43 WIB

Istidraj, Peristiwa yang Paling Menakutkan

Pernahkan anda tidak dihiraukan oleh keluarga anda? Pasangan anda? Sedih bukan. Bagaimana jika Sang Pencipta tidak menghiraukan anda? Membiarkan anda terlena? Menyeramkan bukan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seseorang pernah berkata, hak yang paling ditakutkan adalah di mana saat orang yang kita cintai meninggalkan kita. Meninggalkan kita karena pergi atau meninggal dunia. Tentu saja itu merupakan hal yang menakutkan, namun itu lebih ke perasaan sedih. Orang yang sering kita lihat, sering beraktivitas, tiba-tiba pergi begitu saja. Namun, di situ hanya sedikit rasa ketakutan. Ada hal yang lebih menakutkan, bukan melihat kuntilanak merah, atau melihat bencana alam. Ketakutan terbesar adalah saat Dia, sang pencipta kita, meninggalkan kita. Menghiraukan kita, membiarkan kita terlena dengan kehidupan dunia. Apakah itu namanya? Istidraj.

Istidraj itu adalah di mana saat nikmat dan rezeki yang terus kita rasakan, karir sukses, usaha untung, kehidupan berjalan lancar, namun kita tidak pernah menuruti perintah-Nya dan selalu terlena oleh larangan-Nya. Kita yang selalu berbuat dosa, namun Allah tetap memberikan rezeki kepada kita. Kita dibiarkan terlena oleh kehidupan dunia. Sungguh mengerikan bukan? Bayangkan seperti ini, kita dibiarkan oleh Pencipta kita, yang memberikan kehidupan kepada kita, dan tidak diberikan hidayah oleh-Nya. Itulah ketakutan sesungguhnya.

Peristiwa ini juga tertulis di dalam Al-Quran, Q.S. Al-An`am : 44, yang artinya “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adapun ciri-ciri kita yang telah tenggelam ke dalam Istidraj adalah tidak sadar akan aib sendiri. Mengumbar aib sendiri seperti itu sebuah pencapaian. Hati yang terasa mati saat panggilan Adzan berkumandang, ayat Al-Quran yang terdengar, dan kebaikan serta amal shaleh yang kita lihat di depan kita. Tidak ada tanda-tanda hati tersebut bergerak. Tidak ada getaran ataupun dorongan untuk melakukan hal yang sama. Rezeki yang terus berlimpah, namun kita sadar kalau kita sedang jauh dari Allah SWT. Syukur kalau kita masih sadar, bagaimana jika kita tidak sadar? Seperti ada yang membutakan kita?

Lalu, bagaimana caranya kembali ke jalan yang benar setelah terkena Istidraj ini? Tentu saja, anda segera bertaubat saat pikiran tersebut terlintas, “Mengapa rezeki terus menerus mengalir, namun saya jarang Sholat?” Langsunglah bertaubat. Jangan menunggu.

Jika tersadar saat Dzuhur, langsung sholat dan minta ampunan. Jangan ditunggu sampai Ashar tiba, bisa jadi kita keburu meninggal. Oleh karena itu, janganlah terlena dengan kehidupan dunia. Jika kita merasa banyak cobaan yang datang, selalu ada masalah, lantas kepada siapa kita datang curhat? Kepada keluarga, membuat kita semakin ingat dan dekat dengan keluarga kita. Kepada Allah, membuat kita lebih dekat kepada Sang Pencipta. Itulah intinya. Kita yang diberikan cobaan, Allah ingin kita mengadu dan memohon bantuan kepada-Nya. Allah masih ingin kita menemui-Nya. Dan dibalik kesusahan, selalu ada kemudahan.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan