x

Foto Tempo

Iklan

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Selasa, 20 Februari 2024 19:57 WIB

Akedemisi, Praktisi dan Terasi di Suatu Negeri

Selanjutnya, bicara tentang ilmu yang ajektifnya adalah ilmiah, maka yang semustinya disadari oleh manusia adalah, bahwa tak ada satupun manusia yang berkemampuan menciptakan suatu ilmu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Syahdan, satu ketika di kala mana, tersebutlah satu negeri di atas angin, bernama negeri Antah Berantah. Merasa di atas angin, karena sudah jumawa terhadap rakyatnya maupun kepada negeri manca, bila negerinya paling aman dan nyaman, adil sejahtera di atas segalanya. Benar-benar sudah merasa di atas angin, dan bukan masuk angin!

Begitulah narasi retoris terhadap negeri Antah Berantah ini, yang selalu disuarakan di pelbagai media lokal, regional, nasional, maupun media internasional, serta media sosial.

Tersebut pula, satu adagium bahwa "Bila suatu bangsa mau menjadi berkuasa atas bangsa lainnya, maka berposisilah pada suatu ketinggian. Yakni, kuasailah ilmu dan teknologi setinggi-tingginya!"

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Begitulah bunyi dalil  yang dinukil menjadi adagium tersebut. Dan, parahnya, alih-alih soal penguasaan ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi, pada ujung fakta realitanya adalah bukanlah sains dan teknologi yang nampak tinggi dikuasai. Sebaliknya, sang Antah Berantah ini, justru hanya sebagai negeri bersikap tinggi hati ketimbang menguasai sains dan teknologi tinggi. Ambyar bin buyar imej yang dibangun oleh para elit petinggi negeri itu dalam meng-opini publik  agar diamini. Amit-amit jabang bayilah jadinya ... 

Be-te-we, kata istilah di jaman milenial sekarang ini, apa sih sebenarnya yang dinamakan ilmu pengetahuan atau sains itu? Dalam kamus umum bahasa negeri Antah Berantah disebutkan, leksikal dari sains adalah: pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu; pengetahuan atau kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya).

Begitulah makna leksikalnya, yang tentu akan menjadi beda manakala masuk ke dalam makna gramatikal dan kontekstualnya.

Sedangkan menurut kamus bangsa negeri manca, yakni negeri Linggis adalah sebagai berikut: "The organized body of principles supported by the facts". Menurut kamus negeri bangsa Gurun Padang Pasir yang lebih beken disebut Timur-Tengah Tidak Barat, disebutkan bahwa "Al ilmun nurun fii-alqalbi". Yang maksudnya adalah, bahwa ilmu itu adalah pancaran dari dalam hati atau jiwa.

Nah, mari dirinci secara detil agar menjadi gamblang, simpel nan sederhana, agar dapat dimengerti dan dipahami oleh umum atau awam, tanpa harus berkutat di kubangan istilah yang ndakik-ndakik yang hanya menjadi konsumsi para elit, yang sudah mapan, dan yang bertengger hidup di puncak menara gading, ibaratnya. 

Jikalau ilmu lebih berkonotasi pada persoalan objektif-universal ilmiah berdasarkan kenyataan alam yang apa adanya, maka setidak-tidaknya memuat syarat keilmuannya. Yakni, metodologi, sistmatika, analitika, objektif, dan universal.

Artinya, disebut ilmu yang ilmiah, adalah apabila terjadi klopnya antara gagasan/ide dengan kenyataan, yang berarti terbukti dan dapat dibuktikan. Klop! Pas susunya, dan pas kopinya, bahasa gaulnya ... 

Oleh karenanya, sebuah teori, konsep, ide atau gagasan, hanya akan menjadi nyata objektif-universal atau terbukti menjadi klop-top-markotop, apabila ditarik ke arah praktik dan dipraktikkan agar bisa disebut ilmiah, sebagai akibat telah dibuktian dalam proses pembuktikan yang sistematis dan melalui sebuah penjajagan gagasan ke dalam kenyataan. Bila tidak dikonfrontir ke dalam praktik, maka jangan tersinggung bila ada yang mem-bully dengan celotehan, "Ah, hanya teori melulu!" Atau dijustifikasi ekstrem dengan sebutan, "Hanya sebagai ahli teori atau ahli kitab!" Texbook only!

Sehingga sebuah ilmu yang konon katanya adalah demi misi dalam menjawab problem sosial budaya dan peradaban manusia agar terjadi tatanan hidup dan kehidupan yang ideal, harmonis, adil, seimbang nan sempurna. Nyatanya hanya di awang-awang belaka, bila tak dibarengi dengan gerak tindak nyata yang kongkret.

Dengan kata lain, mau menunjukkan tentang ilmu yang objektif-universal ilmiah, tak bisa dilakukan hanya dengan duduk di belakang meja atau duduk bersila menatap rumus-rumus teori dan konsep, tanpa praktik uji lapang.

Sebab apa? Dari mana akan diketahui tepat dan tidaknya sebuah teori atau konsepsi, bila tak dilakukan praktik uji lapang?

Selanjutnya, bicara tentang ilmu yang ajektifnya adalah ilmiah, maka yang semustinya disadari oleh manusia adalah, bahwa tak ada satupun manusia yang berkemampuan menciptakan suatu ilmu. Ilmu itu berasal dari Tuhan Maha Pencipta Segala, yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia dengan ajaran melalui isyarat alam, melalui kejadian-kejadian dari pasti alam sekitar yang mengitari manusia sebagai contoh nyata, yang kemudian ditangkap oleh manusia melalui inderanya, sehingga terkonsepsilah di alam pikiran manusia yang akan digunakan untuk memperlakuan sesuatu, termasuk memperlakukan dirinya sendiri. 

Saksikan saja betapa kaum praktisi di level dan di bidang apapun, tanpa sentuhan nuansa akademis, ternyata lebih banyak menghasilkan teknologi, budaya dan peradaban yang tinggi. Dibandingkan dengan yang hanya duduk di belakang meja atau duduk bersila bergelut dengan literatur yang beirisi rumusan dan teori, tanpa melakukan sebuah praktik dalam mendapatkan pembuktian agar bisa disebut: klop-top-markotop, seimbang nan sempurna sebagai teori atau konsepsi yang handal dan teruji.

Itulah yang bernama objektif-universal ilmiah. Persoalannya, hanya tinggal manakah ilmu terapan yang beradab dengan yang tak beradab atau biadab? Inilah yang arahnya tentang yang didukung oleh norma, aturan, adab budaya kebaikan dan kejahatan dalam aktualisasinya. Dan, di sinilah akan berhubungan dengan hukum yang berkeadilan, berhikmat kebijaksanaan. 

Hukumpun, sudah sepantasnya disebut yang paling ideal adalah hukum yang diadopsi dari alam semesta, yang identik dengan hukum Tuhan, bukan hukum hasil intuisi manusia yang sarat dengan subjekktivisme.

Kawan, seonggok sajak sederhana
Kusampaikan kepada kalian semua
Tanpa syak-wasangka apa-apa
Hanya demi tegaknya nilai-nilai kebajikan yang  universal
Bagi kita semua

Ilmuwan, itulah yang dinama aliman
Penuntut ilmu, itulah yang dijuluk musta'aliman
Penyimak ilmu, itulah yang dikatakan mustami'an
Dan yang cinta akan ilmu yang sebenar-benar ilmu
Sebagaimana yang kuserukan dan kuperingatkan
Adalah muhibban

Marilah direnungkan untuk dicamkan ...

*****

Kota Malang, Februari di hari kedua puluh, Dua Ribu Dua Puluh Empat.

Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler