Andai Prabowo Presiden, akankah Pemerintahannya Dibayang-bayangi Jokowi?

Senin, 26 Februari 2024 06:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sampai kapan pemerintahan Prabowo, jika ia dilantik sebagai presiden, akan berada dalam bayang-bayang Jokowi hanya karena Gibran menjadi wapresnya? Hingga masa jabatannya berakhir lima tahun? Situasi ini berpotensi berkembang menjadi tidak mudah bagi Prabowo untuk mengambil keputusan dari sudut pandangnya sendiri tanpa bayang-bayang Jokowi.

Hingga kini belum terungkap jelas siapa sesungguhnya yang menginisiasi pencawapresan Gibran Rakabuming? Apakah kedua orangtuanya ataukah permintaan Prabowo? Jika pencawapresan itu dorongan orangtua, apa alasan Prabowo mau menerimanya? Jika Prabowo yang meminta kepada Jokowi agar memperbolehkan Gibran menjadi cawapresnya, apa alasan Prabowo? Entah kapan tanda-tanya ini bakal terjawab?

Alasan Prabowo mau menerima atau malah meminta tentu saja tidak lepas dari pertimbangan politik tertentu. Begitu pula dengan Jokowi. Kongsi antara Prabowo dan Jokowi didasari simbiosis mutualistis—kongsi yang saling menguntungkan. Prabowo memetik keuntungan politik dari ‘berbesanan’ dengan Jokowi yang masih sedang menjabat presiden. Jokowi memetik keuntungan politik karena memperoleh tempat bagi Gibran, anaknya, untuk berlabuh ke kancah pilpres.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Andaikan nanti diputuskan Prabowo-Gibran menang secara politik dalam pilpres ini dan kemudian dilantik secara resmi sebagai presiden-wakil presiden, akankah kongsi keduanya akan berlanjut, ataukah akan mulai muncul gesekan-gesekan? Sejauh mana Jokowi akan melibatkan diri dalam pembentukan kabinet Prabowo-Gibran? Karena ia bukan ketua umum partai politik, dalam kapasitas apa Jokowi ikut terlibat dalam urusan ini? Sebagai presiden? Dalam sejarah, belum pernah terjadi presiden sebelumnya ikut memengaruhi pembentukan kabinet presiden berikutnya. Apakah sebagai ‘king maker’ Prabowo atau ‘mewakili’ posisi Gibran yang masih sangat hijau dalam politik nasional?

Meskipun mempertimbangkan tuntutan partai politik yang merasa berkontribusi terhadap terpilihnya seorang presiden, secara normatif pembentukan kabinet merupakan hak prerogatif presiden terpilih. Presiden boleh setuju atau menolak usulan partai pendukungnya. Apabila Jokowi ikut cawe-cawe dalam pembentukan kabinet, sangat mungkin karena ia ingin tetap berperan dalam pemerintahan melalui anaknya yang menjabat wakil presiden. Masih hijaunya pengalaman politik dan pemerintahan Gibran mungkin menjadi pertimbangan bagi Jokowi untuk ikut berperan, ia tidak akan melepas Gibran begitu saja ke medan pertarungan politik yang berat tanpa dukungan.

Di sisi lain, sejauh mana Prabowo sebagai presiden terpilih mampu bersikap mandiri dalam membentuk kabinetnya? Ia mungkin tidak akan cukup mampu mandiri untuk bisa mengabaikan permintaan Jokowi. Setidaknya, hingga kabinetnya nanti terbentuk, bahkan berpotensi berkelanjutan. Bagaimanapun, tak bisa dilupakan bahwa suara Gibran pada dasarnya adalah suara Jokowi. Rasanya sukar membayangkan bahwa anak sulung ini akan berjalan sendiri di samping Prabowo tanpa berkonsultansi dengan ayahnya.

Lantas, sampai kapan pemerintahan Prabowo akan berada dalam bayang-bayang Jokowi hanya karena Gibran menjadi wapresnya? Hingga masa jabatannya berakhir lima tahun? Situasi ini berpotensi berkembang menjadi tidak mudah bagi Prabowo untuk mengambil keputusan dari sudut pandangnya sendiri. Barangkali ia juga menjadi tidak nyaman seandainya ‘cawe-cawe’ Jokowi berkelanjutan dan ia memilih untuk meneguhkan posisinya sebagai presiden terpilih. Mungkinkah kongsi politik ini tidak akan berlangsung lama setelah tujuan politik memenangkan pilpres tercapai? >>

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler