x

Iklan

Ariadne Khatarina Moniaga

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 September 2022

Selasa, 27 Februari 2024 12:35 WIB

Hubungan Media Sosial dengan Media Massa: Menguntungkan atau Mengancam?*

Dari sisi teoritis kehadiran media sosial membuat teori komunikasi massa mengalami pergeseran. Saat ini, media sosial juga dipandang sama seperti media massa karena memiliki kemampuan untuk mentransmisikan pesan yang dapat tersebar luas ke seluruh audiens. Lalu, bagaimana hubungan media sosial dengan media massa atau media arus utama secara khusus di Indonesia?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Media sosial telah menjadi bagian dalam hidup setiap orang di era modern ini. Kemampuannya yang dapat menembus batas ruang dan waktu membuat batas-batas dalam dunia komunikasi menjadi kabur. Dari sisi teoritis, kehadiran media sosial membuat teori komunikasi massa mengalami pergeseran.

Saat ini, media sosial juga dipandang sama seperti media massa karena media sosial juga memiliki kemampuan untuk mentransmisikan pesan yang dapat tersebar luas ke seluruh audiens. Lalu, bagaimana hubungan media sosial dengan media massa atau media arus utama secara khusus di Indonesia?

Data tren penggunaan internet dan media sosial di Indonesia yang dilaporkan oleh We Are Social untuk periode tahun 2024.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurut laporan We Are Social bertajuk “Digital 2024 Indonesia”, jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia pada Januari 2024 mencapai 167 juta orang atau 60,4% dari total jumlah penduduk Indonesia saat ini. Selain itu, penduduk Indonesia rata-rata menghabiskan waktu sebanyak 3 jam 11 menit untuk menggunakan media sosial setiap harinya.

Alasannya? Beragam. Mulai dari untuk mengisi waktu luang, berhubungan dengan teman dan keluarga, mengetahui apa yang dibicarakan oleh orang lain, hingga mencari inspirasi untuk melakukan atau membuat sesuatu.

Survei yang dilakukan oleh We Are Social menampilkan sejumlah alasan yang banyak dikemukakan oleh para pengguna sosial media di Indonesia.

Secara angka, alasan-alasan tadi memang menempati posisi teratas. Namun, menariknya, sebanyak 47% pengguna beralasan bahwa mereka menggunakan media sosial untuk mencari konten, seperti artikel dan video. Selain itu, 40,2% pengguna juga mengungkapkan mereka juga kerap membaca berita di media sosial. Angka-angka tersebut sudah sangat menggambarkan bagaimana media sosial di Indonesia juga berperan sebagai mass-self communication.

Media sosial melebur salah satu peran inti dari media massa, yaitu untuk menyampaikan pesan kepada audiens dan tersebar luas. Media sosial yang lahir karena kehadiran internet mempermudah proses penyebaran informasi yang biasa dilakukan oleh media massa. Masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan informasi teraktual dari suatu peristiwa. Para jurnalis pun dapat terus mengabarkan berbagai informasi kepada masyarakat dan berinteraksi langsung dengan mereka melalui kolom komentar.

Kehadiran media sosial di tengah-tengah media massa juga mendorong audiens untuk dapat berpartisipasi aktif, tidak hanya diam sebagai pembaca, namun juga dapat menjadi produsen. Fenomena ini kita kenal sebagai jurnalisme warga. Saat ini, banyak platform jurnalisme warga yang dapat diakses dengan mudah, seperti akun @jktinfo di Instagram, akun @txtdrbekasi di X, hingga situs web seperti indonesiana.id.

Platform-platform tersebut sangat cepat dalam hal mengabarkan suatu peristiwa kepada masyarakat. Selain itu, karakteristik dari masing-masing akun dapat dipersonalisasi dan disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, akun @jktinfo di Instagram adalah akun jurnalisme warga yang mengabarkan berbagai informasi yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Personalisasi ini membuat media sosial berhasil dekat dengan audiens sehingga masyarakat cenderung mengakses informasi melalui media sosial.

Kecenderungan masyarakat untuk mengakses informasi melalui media sosial juga disadari oleh media massa itu sendiri. Sebagai lembaga penyedia informasi yang “resmi”, banyak perusahaan media massa akhirnya terjun ke pasar media sosial, seperti Tempo.co, Kompas.com, Liputan6.com, dan lain-lain. Hadirnya media massa di media sosial menjadi bukti bahwa media sosial bukanlah ancaman bagi media massa.

Media sosial justru membantu media massa untuk dapat menjangkau audiensnya secara global dan menawarkan model komunikasi terbaru, yaitu komunikasi dua arah kepada audiensnya. Komunikasi ini sangat bermanfaat bagi kelangsungan media massa itu sendiri karena kendali sosial berada pada masyarakat. Mau tidak mau, suka tidak suka, media massa harus mengikuti keinginan audiensnya agar mereka bisa tetap eksis.

Walaupun menawarkan keuntungan, media sosial sebenarnya tetap menjadi ancaman bagi media massa. Namun, ancaman ini tidak terletak pada platformnya, tetapi terletak pada penggunanya. Cara kerja media massa yang harus melewati tahap verifikasi berlapis sebelum menyampaikan suatu informasi ke masyarakat tentunya tidak sepenuhnya berlaku bagi media sosial. Media sosial juga mengancam kualitas penyampaian informasi di masyarakat yang selalu dijaga oleh media massa. Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC), Facebook menjadi media sosial yang paling sering menyajikan informasi bohong dan hoaks pada tahun 2022. Data tersebut menunjukkan bahwa banyak oknum yang memanfaatkan kecanggihan media sosial untuk menyesatkan masyarakat dengan menyebarkan informasi yang tidak benar. Keadaan ini semakin diperparah dengan masyarakat yang juga cepat mempercayai suatu informasi yang beredar di media sosial.

Berdasarkan penjabaran di atas, hubungan media sosial dengan media arus utama di Indonesia dapat dikatakan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial memang menguntungkan media arus utama dalam hal kecepatan dan keluasan jangkauan audiens saat menyebarkan suatu informasi. Namun, di sisi lain, informasi tidak benar juga menjadi mudah tersebar sehingga kedua media ini harus berjibaku melawannya. Masyarakat pun juga harus dibekali dengan literasi digital yang mumpuni agar tidak menerima informasi secara mentah-mentah. Kita boleh saja terpana dengan media sosial, tetapi jangan sampai terjebak di dalamnya.

*Artikel ini merupakan tugas mata kuliah Komunikasi Digital dari program studi Produksi Media Politeknik Tempo. Adapun, mata kuliah ini diampu oleh Rachma Tri Widuri, S.Sos., M.Si.

Ikuti tulisan menarik Ariadne Khatarina Moniaga lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler