x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 27 Maret 2024 14:02 WIB

Kisah Anak Difabel di Taman Bacaan Jadi Disertasi Doktor Pendiri TBM Lentera Pustaka

Kisah Tasya anak difabel di taman bacaan hingga jadi inspirasi disertasi doktor Pendiri TBM Lentera Pustaka

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sore itu mendung masih menyelimuti, puncak gunung pun tertutup kabut. Terlihat anak difabel tetap tekun membaca buku. Suara paraunya terdengar membaca kata demi kata sebuah buku. Di Taman Bacaan Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

Namanya Tasya, anak difabel yang tinggal sekitar tiga kilometer dari taman bacaan. Sudah empat tahun ini selalu rajin membaca di taman bacaan. Buku demi buku dibacanya. Secercah harapan tersungging dari balik bibirnya. Sejak menjadi anak taman bacaan, seperti ada surga yang bisa ditapakinya. Ibunya yang selalu mengantar ke taman bacaan pun berkata, “Tasya sekarang berbeda jauh dari sebelumnya. Dia begitu optimis dan selalu semangat bila waktunya ke taman bacaan” katanya.

Tasya sudah tidak melanjutkan sekolah akibat keterbatasannya, termasuk tidak tahan lagi dengan perilaku bully teman-temannya. Tasya tadinya hanya seorang anak yang pemurung dan terkadang emosional karena keadaannya. Dia lebih memilih mengurung diri. Tapi setelah bergabung di TBM Lentera Pustaka, kini Tasya tercatat sebagai anak yang paling rajin datang dan membaca buku. Selalu menunggu jadwal untuk ke taman bacaan. Tasya yang selalu fanatik datang ke taman bacaan, di samping menjadikan taman bacaan sebagai jalan hidup dan sarana aktualisasi diri di tengah keterbatasan yang dialaminya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat diantar ibunya ke TBM Lentera Pustaka untuk bergabung 4 tahun lalu, saya pun hanya berkata, ”Baiklah Nak, silakan datang ke TBM Lentera Pustaka. Jadikan sarana aktualisasi diri, di samping tetap membaca buku. Agar hidup jadi lebih semangat dan bergairah” ujar saya selaku pendiri TBM Lentera Pustaka kala itu.

Apa yang dialami Tasya, hanyalah potret dari salah satu anak pembaca aktif yang ada di taman bacaan. Tentu masih banyak lagi anak-anak kampung lainnya yang merasakan secara langsung manfaat taman bacaan. Bukan hanya menyediakan akses bacaan agar bisa membaca buku. Tapi lebih dari itu, untuk memotivasi dan menyemangati anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera. Bahwa mereka punya kesempatan yang sama untuk membaca buku dan menatap masa depan dengan penuh optimis, persis seperti anak-anak Indonesia lainnya.

Setelah berjalan tujuh tahun ini, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor terus berkembang. Makin membuktikan peran nyata dan kontribusi sosial dalam meningkatkan kegemaran membaca anak-anak, di samping menjadi sentra pemberdayaan masyarakat. Ada 14 program literasi yang dijalankan, mulai dari TAman BAcaan (TABA), GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA), KElas PRAsekolah (KEPRA), YAtim BInaan (YABI), JOMpo BInaan (JOMBI), RAjin menaBUng (RABU), LITerasi DIGital (LITDIG), LITerasi FINansial (LITFIN), Koperasi Simpan Pinjam, hingga MOtor BAca KEliling (MOBAKE). Tidak kurang dari 200 orang setiap minggunya menjadi pengguna layanan TBM Lentera Pustaka, yang didukung 6 wali baca dan 12 relawan. Setelah melewati berbagai tantangan dan hambatan yang luar biasa, kini TBM Lentera Pustaka makin menegaskan komitmennya untuk berkiprah nyata untuk gerakan literasi dan pemberdayaan taman bacaan di tengah masyarakat.

Dari cerita Tasya dan anak-anak pembaca aktif yang ada sekarang, TBM Lentera Pustaka pun telah mengubah cara pikir dan jalan hidup seorang Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka yang mengubah garasi mobil rumahnya menjadi taman bacaan, Dari hanya 14 anak jadi ratusan anak yang terinfeksi “virus membaca”. Dari tidak punya relawan jadi ada 12 relawan. Dari tidak ada ibu-ibu yang mengantar anaknya kini jadi tempat berkumpul ibu-ibu yang literat. Tentu, berkat dukungan dari perusahaan swasta yang selalu ber-CSR di TBM Lentera Pustaka setiap tahunnya, seperti Bank Sinarmas dan Chubb Life.

Taman bacaan memang hanya jalan sunyi pengabdian. Taman bacaan memang masih jadi aktivitas sosial yang dipandang sebelah mata. Tapi berkat komitmen, konsistensi, dan kolaborasi pada akhirnya taman bacaan mampu menjadi sentra pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, kawah candradimuka untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya membaca buku, ilmu, akhlak, dan adab untuk anak-anak Indonesia ke depan.

 

Sepengggal kisah anak difabel seperti Tasya dan pengalaman kiprah nyata dan pengabdian di taman bacaan, Syarifudin Yunus selaku Pendiri TBM Lentera Pustaka sebagai mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan memuncakinya dengan penelitian disertasi berjudul “Peningkatan Tata Kelola Taman Bacaan Melalui Pengembangan TBM Edutainment Berbasis Model CIPP Pada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Bogor” dengan promotor Prof. Dr.rer.pol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU dan ko-promotor Dr. Martinus Tukiran, M.T.

 

Melalui komitmen dan konsistensi berkiprah diu taman bacaan plus ditambah sikap sabar lagi ikhlas dalam mengelola taman bacaan, apapun kendalanya, disertasi tata kekola taman bacaan secara khusus dipersembahkan Syarifudin Yunus untuk dunia taman bacaan. Sebuah kemenangan hakiki yang ilmiah sebentar lagi diraih taman bacaan masyarakat. Salam literasi #DisertasiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler