x

Iklan

Heru Subagia

Penulis, Pengamat Politik dan Sosial
Bergabung Sejak: 9 November 2022

Senin, 13 Mei 2024 07:13 WIB

Rezim Prabowo-Gibran Berpotensi Kembali ke Cara Kepemimpinan Diktator ala Orde Baru

Pernyataan Prabowo Subianto bahwa pemerintahannya tidak ingin diganggu, menunjukkan ia akan memimpin dengan cara diktator. Gaya militer akan terus melekat dan menjadi ciri khasnya. Kepemimpinnya tidak ramah terhadap  perbedaan. Bagi Prabowo Subianto, tidak ada tempat bagi oposisi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bayangan Orde Baru mungkinkah akan terulang lagi dalam periode Rejim Prabowo -Gibran? Masih ingatkah ketika Presiden Joko Widodo memberikan gelar Jenderal Kehormatan kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto? 

Pemberian kenaikan pangkat militer kehormatan itu dilakukan dalam Rapat Pimpinan TNI-Polri di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu (28/02) pagi. Pemberian anugerah tersebut telah melalui verifikasi Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. "Dan, indikasi dari penerimaan anugerah bintang tersebut sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2009," kata Jokowi.

Apa yang terpercik dan terpatri dalam pikiran dan bayangan Anda tentang keberlangsungan demokrasi di Indonesia? Banyak pihak mempertanyakan keputusan ini. Keluarga korban pelanggaran HAM berat dan aktivis pun dengan tegas menolaknya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tentunya pada saat ini posisi Prabowo Subianto semakin mapan dan tenar paska keputusan Mahkamah Konstitusi ( MK) memenangkan Pilpres 2024. Pihak lain menganggap jika akan terjadi perubahan besar dalam peta politik nasional.

Prabowo Subianto seperti memulai sebuah ajaran lama yang akan kembali mewarnai perpolitikan Indonesia. Peraih Jendral bintang 4 ini memulai menebar percikan api diktatorisme.

Di lain sisi mungkin Prabowo Subianto berniat baik untuk membuat situasi politik nasional kondusif dan ramah untuk investasi. Presiden pemenang Pilpres 2024 ini berupaya menyakinkan entitas politik bahwa persatuan dan kesatuan anak bangsa jauh lebih penting dari pertikaian. Indonesia, menurutnya, harus sadar diri untuk mengejar berbagai ketinggalan kemajuan dari negara lain.

Cara pandang berfikir Prabowo Subianto akan lebih banyak dipengaruhi oleh doktrin militer. Hal yang sangat menonjol cal kepemimpinan militer adalah hirarkis dibarengi oleh indoktrinasi yang sangat kental. Meniadakan kompromi berdasar acuan yang sudah menjadi aturan . Gugus tugas mereka sangat teratur, satu komando serta semua pihak harus menaati dan menyetujuinya.

Model kepemimpinan militer bisa dikatakan tidak mengenal kesepakatan atau kompromi. Yang tersedia adalah kelembagaan otoriter. Prabowo Subianto adalah turunan dari trah militer dan dipastikan indoktrinasi kemiliteran akan banyak mewarnai tindakan dan kebijakkan politiknya.

Awal cara pandang politik Prabowo Subianto tercermin jelas ketika menyatakan pendapatnya, Prabowo Subianto tidak ingin diganggu oleh mereka yang menolak diajak kerja sama dalam pemerintahannya. Pendapat yang disampaikan dalam pidato politik ini mengarah pada persoalan komando. Tindakan yang mengarah sikap tanpa kompromi. Sikap inilah yang oleh banyak kalangan disebut gaya kepemimpinan Prabowo Subianto mengarah ke diktator.

Namun demikian persepsi publik itu diluruskan Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Habiburokhman. Ia mengatakan bahwa upaya untuk merangkul partai lain mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran tetap dilakukan.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menyatakan ucapan Prabowo itu menunjukkan Prabowo merupakan pejuang sejati. Sebagai tuan rumah acara bimtek pilkada PAN di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2024), dan acara pidato politik Prabowo Subianto itu, ia merasa perlu ikut mengklarifikasi.

Menteri Perdagangan ini juga menegaskan, bagi Prabowo, kepentingan nasional Indonesia lebih urgen dibanding dengan perasaan pribadinya. "Jadi, mengutamakan kepentingan merah putih, mengutamakan kepentingan nasional, kepentingan Indonesia, dari perasaan tidak enak, dihina, dicaci, kata Pak Prabowo itu 'apalah artinya sakit hati, apalah artinya dicaci dibanding untuk kepentingan Indonesia yang lebih besar'," ucap dia.

Dapat disimpulkan gaya militer Prabowo Subianto akan terus melekat dan menjadi ciri khasnya. Kepemimpinnya tidak ramah terhadap  perbedaan. Prabowo Subianto akan meniadakan lawan dalam tubuh pemerintah. Tidak ada tempat bagi oposisi.

Sudah jelas Prabowo sedang memberikan manifesto politiknya dengan cara indrokrinasi. Cara ini akan lebih banyak melindungi kepentingan pemerintah dan partai koalisinya. Ia lupa bahwa kemenangan Paslon 02 adalah milik semua golongan seperti jargon yang sering Prabawo Subianto lontarkan.

Jadi bagi Prabowo Subianto oposisi akan selalu dianggap pengganggu pemerintah. Rejim baru tersebut akan tidak ramah bagi pertumbuhan dan gerakan civil society. Maklum, Prabowo Subianto tumbuh dan berkembang di jalan pemerintahan diktaktor Soeharto.

Jadi terus berhati-hati memantau roda pemerintahan Prabowo-Gibran kelak. Catat, sudah ada indikasi bagi berkembangnya sistem pemerintahan diktaktor.

Waspada dan tetap waspada sejak dini.

Ikuti tulisan menarik Heru Subagia lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini