x

Bioskop Bisik. Seorang relawan Teman Bisik menarasikan jalannya cerita film di biosko bisik kepada penyandang tuna netra. Tempo/Prima Mulia

Iklan

Vivi Intan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Rabu, 15 Mei 2024 08:51 WIB

Kisah Tunanetra Nonton Film di Bioskop yang Agak Laen

Sebagai penyandang tuna-netra, setiap menyaksikan film di bioskop, saya tidak sepenuhnya bisa menikmati tayangannya. Hal itu dikarenakan ada banyak adegan tanpa dialog. Sekalipun pergi ke bioskop bersama teman nondisabilitas, tidak semua adegan bisa dideskripsikan olehnya. Tunanetra nonton film di bioskop kurang afdal, jika tidak ada drama dan spoiler.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebagai penyandang tunanetra, saya juga perlu, dong, mendapatkan hiburan yang aksesibel. Salah satu hiburan yang saya sukai adalah film. Ya, dalam hal ini tunanetra hanya bisa mendengar, sih.

Setiap menyaksikan film di bioskop, saya tidak sepenuhnya menikmati tayangannya. Hal itu dikarenakan ada banyak adegan tanpa dialog. Sekalipun pergi ke bioskop bersama teman nondisabilitas, tidak semua adegan bisa dideskripsikan olehnya. Dia akan menjelaskan jika ditanya. Jika tidak ditanya, tidak ada penjelasan juga.

Memang, sih, seharusnya saya yang aktif bertanya. Akan tetapi, di sisi lain itu akan menghambat fokusnya. Lagi pula, tidak enak juga selalu bertanya meminta jawaban. Kan, lebih baik inisiatif dari dirinya sendiri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sempat terlintas di pikiran saya. Ketika tunanetra menonton film di bioskop, seharusnya membayar setengah harga. Misalnya, harga asli Rp35.000 rupiah. Nah, tunanetra cukup membayar sebesar Rp17.500 rupiah saja.

Kan, kami hanya menikmati dari sisi audio. Kami tidak bisa mengetahui tampilan visualnya. Padahal, biasanya bagian-bagian dramatis itu ada ketika adegan tanpa dialog. Masa hanya sebagian, tetapi kami bayarnya harus penuh?

Sebetulnya, di beberapa kota sudah ada yang menyediakan bioskop bisik. Bioskop bisik adalah kegiatannonton bersama teman netra dan relawan. Relawan akan mendeskripsikan detail visual kepada teman netra dengan cara berbisik. Hal yang akan dideskripsikan meliputi adegan, latar waktu, latar tempat, jenis kostum, warna kostum, penampilan, dan ekspresi para tokoh. Tujuannya agar teman netra tetap dapat menikmati film dan mendalami cerita yang disajikan.

Berdasarkan pengalaman salah satu teman saya di Jakarta yang pernah ikut bioskop bisik, kegiatan itu diselenggarakan oleh beberapa komunitas yang salinng bekerja sama. Kemudian, salah satu studio sengaja disewa oleh penyelenggara. Jadi, ruangan itu hanya ada para peserta dan para pendamping.

Para peserta sudah ditentukan pendampingnya masing-masing. Mereka pun duduk bersebelahan dengan pendamping yang nanti mendeskripsikan setiap adegan pada film. Namun, posisi duduk mereka dengan peserta dan pendamping lain tidaklah berdekatan. Setiap pasangan peserta dan pendamping harus dibatasi dengan sebuah kursi kosong.

Misalnya, dalam satu baris terdapat sepuluh kursi. Kursi pertama dan kedua sudah diisi oleh satu peserta dan satu pendamping. Kursi ketiga dibiarkan kosong. Setelah itu, kursi keempat dan kursi kelima baru diisi lagi dengan satu peserta dan satu pendamping lainnya. Begitu pun kursi berikutnya. Adanya kursi kosong itu supaya tidak mengganggu peserta lain ketika dideskripsikan oleh para pendamping.

Mereka juga tidak dipungut biaya soal tiket, popcorn, dan minuman. Akan tetapi, bioskop bisik yang tidak dipungut biaya tersebut berlaku apabila sedang merayakan hari tertentu, sosialisasi tertentu, atau promosi film tertentu.

Sepanjang sepengetahuan saya, di Cilegon, kota tempat tinggal saya belum pernah ada bioskop bisik. Padahal, Cilegon sudah termasuk daerah perkotaan di Banten. Namun, pelayanan atau program inklusi semacam itu memang masih tergolong langka.

Alhasil, setiap ke bioskop, saya tidak bisa menikmati keseluruhan cerita pada film. Acapkali juga saya mendengarkan ulasan film yang ingin saya saksikan di kanal youtube dan tiktok. Saya mendengar ulasan itu biasanya sebelum atau setelah menyaksikan film di bioskop. Ketika mendengarkan ulasan para konten kreator, saya jadi mendapatkan cukup banyak spoiler.

Menurut nondisabilitas mungkin adanya spoiler akan mengurangi rasa penasaran, keterkejutan, dan ketegangan secara alami saat menonton film. Namun, bagi saya yang memiliki hambatan penglihatan, spoiler justru telah membantu saya memahami cerita dalam film.

Kendati demikian, menyaksikan film di bioskop tetap menyenangkan. Saya merasa ada experience yang berbeda karena suasana studio bioskop yang ramai sembari menikmati popcorn dan satu cup lemon tea.

Ikuti tulisan menarik Vivi Intan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini