x

Hembing Wijayakusuma

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 26 Mei 2024 05:47 WIB

Hembing Wijayakusuma: Ketika Prinsip Hidup Sehari-Hari, Karir dan Dahwah Menyatu dalam Laku.

Hembing Wijayakusuma dikenal sebagai seorang pakar pengobatan alternatif kelas dunia. Prinsip hidupnya mengabdi kepada kemanusiaan. Ia menjalani agamanya dan berdakwah tak hanya melalui ceramah, tapi melalui kehidupan pribadi, sosial dan profesionalnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Prof. Hembing – Pemenang The Star of Asia Award Pertama di Asia Ketiga di Dunia

Penulis: Siti Nassiah

Tahun Terbit: 2000

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Prestasi Insan Indonesia

Tebal: xvi + 380

ISBN: 979-9157-03-X

 

Saya mengenal Hembing Wijayakusuma melalui tayangan TV swasta yang berjudul “Hidup Sehat Cara Hembing.” Tokoh yang berwajah oriental, teduh, sejuk dan kharismatik tersebut menjadi host acara Kesehatan di TV swasta. Meski akrab dengan tayangannya, namun saya tidak mengenal lebih dalam siapa sesungguhnya sosok yang dikenal sebagai pakar kesehatan herbal. Paling-paling informasi tambahan yang saya ketahui adalah bahwa Hembing seorang Tionghoa sekaligus seorang Muslim.

Buku Prof. Hembing – Pemenang The Star of Asia Award Pertama di Asia Ketiga di Dunia karya Siti Nafsiah ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sosok anak Medan ini.

Siti Nafsiah membeberkan kehidupan Hembing di Medan, perjuangannya menjadi seorang ahli pengobatan tradisional, aktifitas social, kegiatan keagamaan (dakwah) dan komentar beberapa tokoh yang mengenal dekat Hembing.

Hembing lahir sebagai anak keenam dari 11 bersaudara pada tanggal 10 Maret 1940 di rumah kontrakan. Meski hidup serba kekurangan, tetapi keluarga Hembing sangat mendukung para pejuang Kemerdekaan. Keluarga Hembing menyembungikan para pejuang dan menyediakan makan bagi mereka.

Hembing yang masa kecilnya sakit-sakitan ini  pertama mengenal pengobatan tradisional dari kakek buyutnya. Y.F. Max sang kakek buyut adalah seorang ahli pengobatan tradisional (shin she?) terkenal di Medan. Sejak mengenal ilmu pengobatan tradisional dari sang kakek buyut, Hembing sangat tekun belajar sendiri. Selanjutnya ia belajar pengobatan tradisional di Chinese Acupuncture Institute di Hongkong. Ia juga belajar dari Prof. Wong Chun Chin, Dekan Chinese Medicine. Berkat ketekunannya dalam belajar pengobatan tradisional, Hembing dinobatkan menjadi Guru Besar Oriental Medicine di Wonkwang University, Korea Selatan. Ia dianugerahi gelar Ph.D oleh Medicine Alternativa Copenhagen, Mendapat gelar Doctor of Science dari Medicina Alternativa Malaga, dan dikukuhkan sebagai Guru Besar di Dongshin University, Korea Selatan. Pengakuan dari berbagai pihak di luar negeri tersebut mengukuhkan kepakarannya di bidang pengobatan alternatif.

Hembing adalah seorang Muslim yang taat. Ia melakukan dahwah melalui pekerjaannya sehari-hari, kehidupannya dan melalui ceramah-ceramah. Hidup bersih dan sehat adalah salah satu cara dakwah yang dilakukannya. Bekerja keras dan disiplin adalah bukti bahwa ia seorang Muslim yang taat. Hembing selalu menjaga perilakunya supaya tetap mencerminkan bahwa ia adalah hamba Allah yang taat. Kyai Ali Yafie ,enjuluki Hembing sebagai seorang Muslim yang menjelaskan Islam melalui ucapan dan perbuatan. Hembing tidak hanya berdakwah melalui kata-kata. Tapi Hembing mewujudkan dakwahnya melalui kehidupan pribadinya, kehidupan sosialnya. Hembing menggunakan moralitas sebagai landasan beragama. Ia menganjurkan hidup damai di tengah pluralitas bangsa.

Bukan hanya ketaatan sosial, Hembing juga menjalankan syariat dengan tertib. Hembing dua kali menjalankan ibadah haji sebanyak dua kali; yaitu pada tahun 1987 dan tahun 1996.

Hembing menerima penghargaan The Star of Asia Award atas karyanya yang menggabungkan terapi sengat lebah dengan akupunktur. Penghargaan tersebut diterimanya pada tanggal 30 September 1990. Penemuannya tentang pemaduan terapi sengat lebah dengan akupunktur dianggap sebagai penemuan besar yang akan memberi manfaat banyak orang. Sayang sekali Siti Nafsiah tidak menjelaskan apa itu The Star of Asia Award. Padahal The Star Asia Award dipakai sebagai judul buku.

Buku ini sangat kaya dengan informasi tentang Hembing Wijayakusuma. Selain dari karya akademik, karya sosial dan dakwah dari Hembing yang diceritakan, buku ini juga dilengkapi dengan karya-kara tulis dan wawancara terhadap tokohnya. Buku ini juga memuat testimoni banyak tokoh yang mengenal Hembing. Namun penyajian buku ini agak sulit untuk diikuti. Seandainya buku ini disusun secara kronologi atau tematik, maka niscaya informasi-informasi tentang Hembing bisa lebih mudah untuk dicerna. 837

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler