x

Ilustrasi minum kopi. Gambar oleh Gambar oleh Stokpic dari Pixabay

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Senin, 27 Mei 2024 07:40 WIB

Minum Kopi Membantu Melindungi Kita dari Parkinson

Tim peneliti internasional menemukan bahwa peminum kopi beresiko lebih rendah terkena Parkinson dibandingkan yang tidak minum kopi sama sekali. Analisis pada pengidap Parkinson menunjukkan kadar kadar metabolit utama kafein, paraxanthine, dan teofilin, dalam darah, berhubungan terbalik dengan risiko pengembangan sindrom tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kita tahu bahwa apa yang kita makan dan minum memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan. Sebuah studi baru menemukan hubungan lain antara minum kopi dan kemungkinan lebih kecil terkena penyakit Parkinson.

Dengan melihat data yang dikumpulkan dari 184.024 orang selama 13 tahun, tim peneliti internasional menemukan bahwa peminum kopi memiliki risiko lebih rendah terkena Parkinson dibandingkan mereka yang tidak minum kopi sama sekali. Analisis lebih lanjut dari sampel ratusan orang dengan Parkinson yang diukur kadar metabolit utama kafein, paraxanthine, dan teofilin, dalam darah, ditemukan bahwa mereka memiliki hubungan terbalik dengan risiko pengembangan Parkinson.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Secangkir Kopi

"Studi ini menunjukkan hubungan terbalik antara konsumsi kopi berkafein dengan risiko penyakit Parkinson di salah satu kohort longitudinal terbesar di seluruh dunia dengan masa tindak lanjut lebih dari 20 tahun," tulis para peneliti dalam makalah yang mereka terbitkan di jurnal  Neurology.

Ini bukan penelitian pertama yang menemukan hubungan antara kopi dan Parkinson, tetapi penelitian ini melangkah lebih jauh daripada penelitian sebelumnya dalam hal melihat biomarker asupan kafein beberapa tahun sebelum penyakit Parkinson didiagnosis. Sekitar 25 persen peminum kopi terbanyak ditemukan 40 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan Parkinson, dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi sama sekali. Di seluruh konsumen kopi dalam penelitian ini, pengurangan risiko yang diukur bervariasi antara sekitar 5 hingga 63 persen, tergantung pada negaranya.

Meskipun hubungan tersebut masih berlaku ketika faktor-faktor seperti merokok dan minum-minuman keras diperhitungkan, namun hal ini masih belum cukup untuk membuktikan sebab dan akibat secara langsung.  Tampaknya ada sesuatu tentang kafein dan kandungannya yang melindungi otak manusia.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, diperkirakan bahwa cara kafein menjaga dopamin tetap mengalir di otak mungkin menjadi alasan dari efek ini. Parkinson di otak ditandai dengan berkurangnya dopamin, karena hilangnya sel-sel saraf di bagian yang disebut substansia nigra.

"Efek neuroprotektif ini sejalan dengan temuan kami, yang mengungkapkan hubungan terbalik antara kafein, paraxantin, dan teofilin dengan kejadian penyakit Parkinson," tulis para peneliti.

Mempertimbangkan cara kafein memengaruhi neuron kita, mungkin tidak mengherankan jika ada hubungan dengan penyakit neurodegeneratif. Namun, karena kita masih belum yakin bagaimana tepatnya Parkinson dimulai di otak, sulit untuk memastikannya.

Pekerjaan penting untuk mencari tahu apa yang memicu Parkinson, apa yang dapat memengaruhi risiko terkena penyakit ini, dan bagaimana cara menghentikannya, masih terus dilakukan.

"Kopi adalah minuman psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia," tulis para peneliti.

"Mengungkap aksi biologis kafein pada penyakit Parkinson tidak hanya membawa implikasi kesehatan masyarakat yang penting. Akan tetapi,  meningkatkan pula pemahaman kita tentang etiologi penyakit Parkinson dan mendorong strategi pencegahan potensial." ***

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler