x

Iklan

Wahyu Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juli 2021

Rabu, 29 Mei 2024 08:44 WIB

Tragedi Rafah, Nyawa yang Hilang di Tengah Api dan Reruntuhan

Mengapa dunia internasional tidak bertindak tegas? Mengapa kita membiarkan politik dan kepentingan tertentu mengalahkan suara-suara penderitaan dari Rafah? Kita harus mengingatkan diri kita bahwa di balik setiap konflik ada manusia-manusia yang menderita.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam setiap lembar sejarah yang penuh luka, ada saat-saat yang tak bisa kita biarkan berlalu tanpa rasa marah dan pedih yang mendalam. Pengeboman dan terbakar nya Rafah oleh Israel adalah salah satu dari saat-saat itu. Ini bukan sekadar sebuah peristiwa tragis, tapi sebuah pengingat brutal tentang kekejaman yang dilakukan terhadap kemanusiaan.

Rafah, sebuah kota kecil di Jalur Gaza, telah menjadi simbol penderitaan dan ketidakadilan. Kota ini sering kali menjadi target serangan tanpa ampun, menyisakan reruntuhan dan kehilangan yang tak terhitung. Ketika api membakar Rafah, bukan hanya bangunan yang hancur, tapi juga harapan dan masa depan warganya. Setiap rumah yang runtuh membawa serta mimpi-mimpi yang terkubur di bawah puing-puing.

Bayangkan sejenak, rumah yang penuh dengan tawa anak-anak, tempat berkumpulnya keluarga di meja makan, tiba-tiba hancur menjadi abu. Di mana lagi mereka bisa berlindung? Bagaimana mereka bisa merasa aman ketika setiap sudut kota mereka bisa menjadi target serangan berikutnya? 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Israel, dengan kekuatan militernya yang sebenernya biasa saja jika tanpa sokongan dari Amerika dan antek-anteknya, telah merenggut banyak nyawa tak berdosa. Setiap bom yang dijatuhkan bukan hanya menghancurkan bangunan fisik, tapi juga memecah belah keluarga, menciptakan trauma yang mendalam dan berkepanjangan. Dunia melihat, tapi sering kali hanya diam, seolah nyawa yang hilang di Rafah hanyalah angka tanpa makna.

Kemarahan kita harus diarahkan pada ketidakadilan ini. Kita tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan kekejaman ini terus terjadi. Di era di mana hak asasi manusia seharusnya dijunjung tinggi, tindakan seperti ini adalah sebuah penghinaan terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Mengapa dunia internasional tidak bertindak tegas? Mengapa kita membiarkan politik dan kepentingan tertentu mengalahkan suara-suara penderitaan dari Rafah? Kita harus mengingatkan diri kita bahwa di balik setiap konflik ada manusia-manusia yang menderita. Mereka layak untuk hidup dalam damai, layak untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Sebagai penulis, saya merasa bertanggung jawab untuk menyuarakan jeritan mereka yang terbungkam. Kita harus menuntut keadilan dan menolak kekejaman. Kita harus memperjuangkan hak-hak mereka yang dirampas dan berdiri bersama mereka dalam solidaritas. Rafah yang terbakar adalah simbol perlawanan kita terhadap ketidakadilan dan kekejaman.

Tidak ada tempat di dunia ini untuk kebencian dan kekerasan seperti ini. Saatnya bagi kita semua untuk bangkit dan mengatakan dengan tegas: cukup sudah. Mari kita bangun dunia yang lebih adil dan damai, di mana setiap anak, di mana pun mereka berada, bisa tidur dengan tenang tanpa takut akan serangan di tengah malam.

Rafah mungkin terbakar, tapi semangat kita untuk keadilan, perdamaian dan kemerdekaan Palestina tidak akan pernah padam.

Ikuti tulisan menarik Wahyu Kurniawan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler