x

Iklan

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Bahkan Kali Ini Fadli Zon Pun Balik Membela Jokowi

Wacana Presiden Jokowi untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk Fadli Zon yang selama ini selalu bersebrangan. Hal ini bisa jadi terkait sikap negeri jiran Malaysia yang malah menyebar sikap provokatif lewat media

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketegasan Presiden Jokowi untuk memberantas illegal fishing yang dilakukan nelayan asing, dengan cara menenggelamkan kapal mereka, mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk dari orang yang selama ini mengambil sikap ‘bersebrangan’, yakni Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon.

Fadli berharap pemerintah tidak sekedar berbicara, tapi benar-benar menerapkan sanksi bagi kapal asing yang melanggar batas Indonesia dan kepentingan nasional. Apalagi, kata Fadli, kapal Indonesia pernah dibakar dan ditenggelamkan karena diduga melanggar batas negara lain.

Namun sebaliknya pihak negeri jiran Malaysia menanggapi sikap Presiden Jokowi dari kacamata lain. Dalam artikel di sebuah media online yang diberi judul MAAF CAKAP, INILAH JOKOWI  dikatakan Jokowi seorang yang angkuh, karena politik bilateral dengan ‘negara serumpun’ tersebut malah dilakukan dengan politik konfrontasi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahniah Presiden Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi kerana meneruskan pendekatan konfrontasi dengan Malaysia. Dalam keghairahan sesetengah pihak di negara ini yang mendokong gagasan “bangsa serumpun” tetapi Indonesia mengambil pendekatan bertentangan semangat serumpun.

Khamis lalu, Jokowi mencetuskan kontroversi apabila mengarahkan pihak berkuasa maritim menenggelamkan semua bot nelayan Malaysia yang dilaporkan ditahan kerana memasuki perairan negara itu. Bagi Jokowi, tindakan ini akan memberikan kesan untuk mengurangkan pencerobohan oleh nelayan Malaysia ke kawasan perairan negara itu.

Arahan itu menggambarkan Jokowi pemimpin yang sedikit angkuh dalam menguruskan isu antara negara. Ini seolah-olah memperlihatkan Jokowi memilih pendekatan konfrantasi, bertentangan dengan gambaran yang diberikan sebelum ini. Tetapi tidak dinafikan sebahagian besar rakyat Indonesia berbudaya dan tatasusila tinggi”.

 Begitu bunyinya.

Sebaliknya pihak Malaysia sendiri selama ini dalam membina hubungan dengan Indonesia dilakukan dengan cara-cara kekeluargaan, tidak lepas dari etika, dan penuh sopan-santun. Dicontohkannya bagaimana cara penanganan TKI ilegal, yang mereka sebut sebagai pendatang gelap, senantiasa tidak pernah dilakukan dengan cara yang di luar kemanusiaan.

Malahan isu dalam artikel itupun kian melebar saja, dikaitkannya juga isu lama tentang gagasan “Ganyang Malaysia” yang dikumandangkan Presiden Soekarno sebagai awal dari sikap “keangkuhan”  Indonesia terhadap pihak Malaysia.

Kemudian disambung isu pencurian beberapa jenis kebudayaan Indonesia oleh mereka (Malaysia), dengan luwesnya mereka terkesan membela diri, dan dalam tulisan tersebut dikatakan bukan suatu kesengajaan, melainkan karena pendatang dari Indonesia sendiri yang beremigrasi sejak lama ke semenanjung Malaysia yang mengembangkannya di negeri yang saat ini ditinggalinya.

Begini kutipan aslinya:

Sebenarnya gagasan “menganyang Malaysia” oleh Sukarno kerana membantah kemerdekaan negara ini tidak pernah berakhir. Walaupun hubungan kerajaan dengan kerajaan kelihatan harmoni tetapi hakikatnya banyak pihak di Indonesia sangat prejudis dengan Malaysia. Isu-isu remeh seperti menuduh “mencuri” tarian tradisi negara itu menyemarakkan kemarahan rakyat hingga pejabat Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta pernah dilemparkan najis. Ini satu tindakan keterlaluan. Tetapi Indonesia tidak bertanya kenapa tarian yang dikatakan dicuri itu berada di Malaysia? Bukankah dikembangkan sendiri oleh orang Indonesia yang sudah menjadi rakyat negara ini sejak lama dulu? Mereka menetap di sini untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kesenian ini dikembangkan dan dimiliki oleh orang asal Indonesia di Malaysia tetapi peliknya Malaysia digelar Malingsia atau pencuri “.

Secara implisit, tertangkap di balik tulisan itu ada perasaan ‘ketar-ketir’ dari negara tetangga tersebut, terhadap ketegasan Presiden ketujuh Indonesia ini dalam menegakkan kedaulatan Negara. Bisa jadi karena sebelum ini pemerintah Indonesia selalu bersikap ‘lembut’ dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang mengganggu hubungan bilateral dengan mereka. Sebagaimana halnya yang menyangkut masalah TKI, pencaplokan wilayah perbatasan, maupun isu pencurian budaya yang pernah ramai dibicarakan itu.

Hanya saja di ahir tulisan itu, tertangkap pula kemunafikan Malaysia yang mengaku selalu bersikap santun dalam membina hubungan dengan negeri serumpun, ternyata telah ikut campur dalam permasalahan yang saat ini terjadi di dalam negeri Indonesia. Artikel itu menuding sikap Jokowi yang hendak menenggelamkan kapal pencuri ikan itu, semata-mata hanyalah sebagai upaya untuk mengalihkan isu kenaikan harga BBM yang terjadi sekarang ini. Karena setelah naiknya harga BBM, Jokowi mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Bahkan dengan lugasnya dalam artikel itu dituding pula kalau pemerintahan Jokowi sebagai kroni Amerika Serikat. Dan hubungan antara Malaysia dengan Indonesia selama ini dianggapnya sebagai hubungan yang tidak sehat.

Menyikapi tudingan media negeri jiran yang nyinyir, bisa jadi rasa patriotisme seorang Fadli Zon pun ikut terusik. Dan perintah untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan negara asing itupun baru hanya merupakan wacana, Malaysia yang memang sesungguhnya angkuh itu terlihat sekali mulai ketakutan ternyata. ***

Sumber foto:  Google

 
 

Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler