x

Iklan

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

8 Desember, Kematian Manis Sang Aktivis

Mengenang kematian John Lennon, 8 Desember 1980.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tanpa surga, tanpa neraka, tanpa negara, tanpa agama, bahkan tanpa Tuhan, mungkin, karena di atas kita hanya ada langit. Tak ada yang terbunuh, tak ada yang membunuh, tak ada keserakahan, tak ada kelaparan karena tak ada kepemilikan, umat saling berbagi isi bumi. Hidup satu ikatan, dalam perdamaian, dalam persaudaraan.

Itu imagine gaya John Lennon. Mimpi sang musisi yang tertuang dalam lagu fenomenal melampaui umur empunya, bahkan sampai sekarang masih sering dipilih mengiringi berita pilu genangan-genangan darah, puing-puing perang, atau gambar-gambar kabur korban pertikaian. Kalau tidak, itu latar kabar iring-iringan mobilisasi bantuan Badan Dunia, kilatan-kilatan roket dua kubu berseberangan, atau banjir air mata penderita bencana dan wabah.

Mimpi John sering diamini banyak orang sepertinya. Sebelum Imagine, Give Peace A Chance, karyanya, jadi ‘lagu kebangsaan’ para demonstran anti Perang Vietnam dekade ’70-an. Gara-gara itu FBI turun tangan. Meskipun belum jauh terbukti, paling tidak FBI mengakui mengumpulkan, menyimpan, dan mempelajari segala catatan John, dan buahnya, pemerintahan Richard Nixon berusaha mendeportasi sang maestro keluar Amerika.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Satu lagi lagu John menunjukkan konsistensinya pada keyakinan anti perang adalah Instant Karma untuk Inggris Raya. Protes pada keterlibatan Inggris dalam perang saudara di Nigeria ini sampai membawanya memutuskan mengembalikan medali kehormatan yang telah dianugerahkan Kerajaan Inggris. Medali gelar MBE (Member of the Order of the British Empire) diantar John kembali ke Ratu Inggris bersama sepucuk surat tulisan tangannya yang kemudian lama disimpan kerajaan.

Keyakinan John dan perjuangan panjang memerangi perang berakhir tragis. Sama dengan hari ini, Senin, tepat tanggal ini, 8 Desember, pada 1980, John Lennon tertembak mati. “Tak akan pernah ada pemakaman, karena John abadi,” kata Yoko Ono, sang istri. John Lennon dikremasi saja, lalu abunya disimpan Yoko tanpa pemakaman, yang biasanya ditandai penebaran abu ke tanah, sungai, atau gunung menurut beberapa keyakinan. Yoko meminta semua orang mendoakan kedamaian untuk John seperti kebiasaan suaminya mendoakan perdamaian dunia bagi seluruh umat manusia.

"First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win," kata Mahatma Gandhi. Termasuk ketika... then they shoot you. Bukankah akhir perjuangan yang dramatis? Dan itu manis, menurut saya. Semoga damai, John.

Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan