x

Iklan

Vema Syafei

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Lima Juta Anak Indonesia Kurang Gizi

Bonus Demografi dalam 15 tahun ke depan semestinya harus diantisipasi agar tidak menjadi bencana. Dan kepedulian utama pemerintah dalam hal ini adalah dalam memperbaiki gizi anak-anak Indonesia yang dalam 15 tahun ke depan menjadi usia produktif.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebesar 17% anak Indonesia mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) menurut Linda Gumelar pada tahun 2014 lalu. Ini berarti jika jumlah balita sebanyak 32 juta jiwa di Indonesia, maka sebanyak 5,440,000 anak balita Indonesia kekurangan gizi!

Tidak heran jika kita masih mendengar kenyataan mengenai 1.034 bayi di Aceh meninggal dunia selama tahun 2013 akibat kekurangan gizi. Lebih 45 persen bayi bayi di Aceh meninggal karena kekurangan gizi. Lalu di Provinsi Banten sebanyak 7,213 balita mengalami gizi buruk dan 53,680 balita kekurangan gizi. Padahal anggaran Pemprov Banten untuk penanggulangan gizi buruk mencapai Rp 9,7 miliar di tahun 2012. Sementara itu di Kalimantan Barat ditemukan 212 kasus gizi buruk dan 7 anak meninggal dunia karenanya.

Ironis, di sebuah negeri yang melimpah sumber kekayaan alamnya ada anak manusia yang mati karena malnutrisi. Ibarat pepatah mengatakan “tikus mati di lumbung padi.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bisa kita bayangkan sebanyak 5 juta lebih anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi tersebut tumbuh berkembang dalam 15 tahun mendatang saat mereka memasuki usia produktif. Bisa jadi hanya akan menjadi beban negara jika sejak sekarang ditanggulangi secara serius.

Melihat krusialnya permasalahan di atas untuk ditanggulangi, Sarihusada meluncurkan sebuah program terkait perbaikan gizi bagi penduduk Indonesia yaitu, Nutrisi untuk Bangsa.

142872985381134847

Sarihusada sebagai perusahaan yang sudah berdiri sejak 60 tahun lebih dengan misi memperbaiki gizi anak bangsa, berkomitmen mendukung upaya perbaikan gizi yang dilakukan oleh pemerintah melalui peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi ibu dan anak. Demikian kata Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada. 

Pada Hari Jum’at, 20 Maret 2015, Sarihusada mengadakan diskusi dengan event Nutritalk yang mengambil tema, “Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa.” Hadir dua narasumber ahli gizi pada acara tersebut, yaitu Dr. Martine Alies sebagai Direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda dan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor. 

Belanda telah mendokumentasikan perubahan pertumbuhan generasi yang positif sejak tahun 1858, yang dicerminkan dari peningkatan rata-rata tinggi badan, dari anak-anak, remaja, dan dewasa. Hal yang terpenting dalam proses perbaikan pertumbuhan generasi positif ini adalah kebersihan, keluarga berencana, peningkattan gizi dan kesehatan anak. Demikian kata Dr. Martine Alies.

“Seribu hari pertama kehidupan adalah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak, karena dari periode ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan masa otak, serta pengembangan signifikan kemampuan kognitif, tulang, imunitas, system pencernaan, dan organ-organ metabolisme. Kualitas pertumbuhan yang dialami pada periode ini akan mempengaruhi kesehatan mereka di masa depan,” lanjut Martine.

Ternyata, sejak 1000 hari pertama kehidupan, bayi harus mendapatkan gizi yang baik. Seribu hari pertama kehidupan ini selama 270 hari dalam kandungan dan 730 hari selama pasca kelahiran. Pentingnya memerhatikan gizi bayi pada masa ini karena pada masa tersebut adalah masa pertumbuhan dan perkembangan seluruh organ dan sistem tubuh pada janin sangat cepat. Oleh karena itu, sejak ibu mengandung hendaknya mengonsumsi gizi yang baik, sehingga bisa menyehatkan ibu dan buah hati.

Prof. Hardinsyah menekankan untuk pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu hamil, ibu hamil, ibu menyusui dan Balita trus diperlukan. Terutama pada zat gizi yang masih defisiensi, seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vitamin A, vitamin D, dan asam folat.

Bonus Demografi Jangan Menjadi Bencana

Kita ketahui bahwa dalam 15 tahun ke depan Indonesia akan mengalami apa yang disebut dengan bonus demografi. Yaitu lebih banyaknya penduduk usia produktif dibanding penduduk usia ketergantungan. Nah kita tentu tidak mau bonus demografi itu malah berubah menjadi bencana kependudukan di mana banyak penduduk yang berusia produktif namun karena mengalami kekurangan gizi sewaktu kecil dan tidak mendapatkan kesempatan atau akses pendidikan yang layak, malah akan menjadi beban masalah bagi negara.

1428730053984100737

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dari 10 isu strategis tercantum 2 point penting yaitu tentang peningkatan kesehatan ibu dan anak serta perbaikan status gizi masyarakat, sebagai arah pembangunan kesehatan nasional dalam lima tahun ke depan. 

Maka sudah semestinya isu ini menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Apalagi jika Ibu Negara Iriani Jokowi bisa turut peduli untuk mencanangkan program penanggulangan gizi buruk untuk anak-anak Indonesia.

Kalau boleh mengutip kepedulian Hillary Clinton atas persoalan yang sama, dia mengatakan bahwa, “Meningkatkan gizi bagi ibu dan anak merupakan salah satu biaya yang paling efektif dan alat yang langsung berdampak dalam mengentaskan kemiskinan dan pembangunan yang berkelanjutan.”

“Improving nutrition for mothers and children is one of the most cost effective and impactful tools we have for poverty elleviation and sustainable development.” (Hillary Clinton)

Ikuti tulisan menarik Vema Syafei lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu