Antara Anak-anak, Buku dan Pendidikan di Indonesia

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Anak-anak, buku dan pendidikan di Indonesia masih merupakan permasalahan yang mendasar. Masih banyak anak yang belum bisa membaca maupun menulis.

Di Indonesia antara Hari Pendidikan, Hari Buku dan Hari Anak Internasional saling berdekatan. Setiap tanggal 2 Mei diperingati Hari Pendidikan Nasional, kemudian setiap tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional sedangkan setiap 1 Juni merupakan Hari Anak Internasional.

Ketiga hal tersebut saat ini masih memiliki banyak permasalahan mendasar. Masih banyak anak yang tidak bisa membaca dan menulis terutama di daerah pelosok. Masih banyak sekolah yang belum memiliki jumlah guru yang cukup maupun buku yang layak mendukung pendidikan mereka.

Selama ini kurikulum memang selalu menjadi pembicaraan utama. Padahal ada banyak hal "sepele" yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia. Sebut saja kurikulum sudah ditentukan, tetapi jika tidak ada guru di sekolah tersebut tentu sama saja. Tidak ada buku yang dibaca anak-anak mana bisa mereka mengetahui informasi yang ada di sekelilingnya.

Bagi anak yang tinggal di perkotaan atau daerah yang lebih maju memperoleh buku bacaan bukanlah hal yang susah. Tinggal ke perpustaakan di sekolah, bisa juga ke perpustakaan atau taman baca di sekitar rumah, atau membeli buku di toko buku terdekat. Ada pula yang sudah dibiasakan membaca buku elektronik (e-book) oleh orang tuanya.

Bagaimana dengan anak-anak di pelosok? sudah bisa sekolah pun sudah membuat mereka senang. Jangankan membeli buku, membaca buku di sekolah pun tidak terbiasa karena di sekolah mereka tidak ada perpustakaan. Apalagi membaca buku elektronik.

Indonesia terdiri dari banyak propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dusun, kampung. Tidak semuanya mudah dilalui alat transportasi. Dipisahkan selat, berbeda pulau, harus naik dan turun gunung untuk mencapainya.

Begitu pula anak-anak tersebut. Hanya untuk sekedar sekolah, ada yang harus berjalan kaki selama satu jam perjalanan bahkan lebih untuk bisa sampai sekolahnya. Kalau di kota cukup naik sepeda, diantar motor, mobil atau naik taksi.

Belakangan ada sebuah acara musik di salah satu stasiun TV swasta dimana penontonnya dengan sukarela menyumbang uang, kado, dan hadiah lainnya bagi para peserta ajang pencarian bakat. Ada yang sukarela menyumbang Rp 10 juta, Rp 25 juta untuk salah seorang peserta.Hiburan memang sepertinya lebih menarik dibandingkan berdonasi untuk kegiatan sosial.

Padahal di Indonesia ada begitu banyak komunitas yang peduli dengan masalah pendidikan. Tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Andalkan situs pencarian, maka akan diperoleh banyak informasi mengenai komunitas yang peduli permasalah pendidikan di Indonesia. Komunitas-komunitas tersebut melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan donasi yang digunakan untuk melakukan perubahan yang lebih baik bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Ada yang memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu, menyumbangkan buku, membuka perpustakaan di sekolah pelosok, mengajar selama beberapa waktu di sekolah pelosok dan sebagainya. Uang yang digunakan merupakan uang pribadi. Setiap donasi yang diperoleh selalu diberikan atau digunakan untuk kegiatan tersebut. Sayangnya belum semua orang yang “mampu” secara finansial benar-benar mau berdonasi untuk kegiatan tersebut. Sangat disayangkan.

Mungkin perlu acara khusus yang ditayangkan di sebuah stasiun TV, misalnya Ajang Pencarian Komunitas Peduli Pendidikan di Indonesia agar orang melirik dan tertarik berdonasi. Aaah tapi mungkin akan muncul permasalahan baru, komunitas kemudian dijadikan sebagai ajang pencarian ketenaran, pencitraan atau jutru uang. Mencemari niat baik dan mulia komunitas yang sejak awal sudah ada. Aaah mungkin memang sebaiknya komunitas dan LSM yang peduli pendidikan sejak awal harus belajar mandiri dan tidak mengharapkan 100 persen donasi. Aaah tidak mungkin TV tertarik membuat acara semacam itu, kurang menjual, jadi sebaiknya tidak berfikir terlalu jauh :)

Semoga saja, diantara komunitas-komunitas tersebut tidak menyerah pada pencarian modal untuk mendukung kegiatan mereka. Karena pada akhirnya masalah pendidikan di Indonesia memang tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Masih tarik ulur kurikulum paling tepat dan tarik ulur pelaksanaan UN atau tidak. Apalagi mengandalkan pemerintah untuk menjamin setiap sekolah memiliki cukup guru dan cukup buku. Jadi di tangan komunitas-komunitas itulah setidaknya ada angin segar bagi anak-anak dan dunia pendidikan di Indonesia. Anak-anak dan pendidikan adalah masa depan. Bukan hanya untuk anak tersebut tetapi juga untuk negara dimana anak tersebut berada yaitu Indonesia.

*gambar ambil dari google

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian k. pamungkas

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua